Jumat, 26 Agustus 2016

Malang di Sadulang Kecil

Hari Kesebelas: Selasa, 28 Juni 2016

Hari ini datang dan aku lalui dengan sederhana. Semenjak pulau putih mendatangiku, semenjak itu pula Sadulang Kecil dijatuhi hujan. Hujan di Sadulang Kecil ini menjadi rahmat karena penduduk dapat menadahi air hujan sebanyak-banyaknya untuk digunakan mencuci baju dan mencuci piring. Itu artinya, pengeluaran uang untuk membeli air dapat menghemat.
Meski hujan juga mendatangkan perasaan yang lain saat jalanan kampung menjelma lautan lumpur karena air laut yang meluap sampai ke darat. Di belakang rumah, air laut naik sampai bibir pintu ruang belakang. Tapi begitulah, sebagaimana pada tiap luka pasti ada sisi manis jua. Anak-anak kampung berbahagia. Mereka bermain perahu-perahuan dengan telanjang. Anak-anak yang sungguh beruntung.

Terkadang, sore di sini masih menyisa hawa panas dan gerah. Tapi sore hari kesebelas ini terasa teduh, nyaman sampai ke batin. Aku sampai lupa kalau sedang berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan. Di tengah-tengah udara yang barangkali kuhirup bercampur dengan garam. Aku merasa sedang menghabiskan sore di rumahku tercinta, tempat paling nyaman di dunia ini. Ya, rumahku yang sederhana di tengah perkampungan kota Malang.

Sadulang Kecil mengajarkanku banyak hal. Dan satu yang kucatat pada hari ini adalah: Dimanapun kita berada, hanya satu tempat di dunia ini yang terasa nyaman dan menentramkan yaitu di rumah, di samping bapak dan ibuk. Ya, aku kangen mereka, aku kangen rumah.

Kami berbuka dengan berbagai macam ikan, ya seperti biasa. Dan aku makan kepiting bakar yang cukup membuatku ketagihan. Sampai malam pun udara terasa dingin, dan aku malah nyaman dengan suasana ini, sebagaimana kotaku yang dingin. Tapi ibu menggigil, Eeng juga mengeluh dingin.

Ibu berlari ke belakang, mengatakan angina datang dengan keras. Aku mendapatkan telfon, terkejut karena merasa tumben signal berpihak sangat baik. Aku ke samping rumah agar leluasa mengobrol. Tak lama, Jun berlari dari samping rumah ke belakang. Sepertinya begitu juga dengan uwwak, Eeng, Daman bahkan beberapa tetangga. Saat aku selesai menelfon dan kembali ke rumah, Jun bercerita bahwa baru saja ada badai. Angin keras membawa ombak tinggi sekali. Wah, alih-alih khawatir dengan tsunami atau semacamnya, aku malah merasa kecewa melewati momen langka. Jun yang tahu banget tentang bagianku yang  ini, pasti menangkapnya dari air mukaku.

Malam, aku dan Eeng ditraktir bakso Jun. Kami bertiga menyusuri kampung sampai selatan Masjid. Kami makan di tempat, di atas lincak. Eeng menolak makan ditempat, dan minta dibungkus saja. Kuperhatikan ada gerombolan ABG laki-laki juga ngandok bakso di sini.

Em… karena ada mereka ya… godaku. Eeng mengelak sambil ketawa kecil. Jun semakin menggodanya, “Em…pasti takut kelihatan mangap waktu makan ya…” Eeng berteriak kecil sambil memukul Jun dengan berteriak Abang. Diam-diam aku iri pada sepasang kakak beradik yang sangat cair dan kocak ini. Aku iri pada Eeng yang dapat bermanja-manja pada seorang abang. Apalagi abangnya songong kayak Jun, makhluk paling songong sedunia.

Seingatku Jun tidak pernah marah pada Eeng kecuali sekali, di belakang rumah. Jun mengingatkan Eeng tugas dari ibu atau uwwak, tapi Eeng tidak lekas beranjak. Lalu Jun mengingatkan lagi dengan suara meninggi dan muka dijahat-jahatkan. Aku terkejut, aku dan Eeng diam bersamaan dalam sekian detik lalu tertawa keras-keras bersamaan. Jun tidak bisa marah, dia malah terlihat lucu dan raut mukanya pasti membuat orang yang melihatnya terpingkal-pingkal.

Saat Eeng beranjak dengan menyisakan tawanya, aku bertanya pada Jun, “Mengapa kamu bersusah payah berusaha marah?”. Kalau tidak begitu, Eeng selalu manja padaku, katanya. Aku tertawa sambil mengatakan suatu hal padanya. Lalu aku tertawa terus-terusan, dan Jun hanya diam datar.

Kami pulang menyusuri bagian tengah kampung. Melewati rumah mantan Jun. Pas di depan rumah sang mantan, Jun berjinjit dan melongok saat sang mantan tampak berkelebat. “Kangen ya…” goda Eeng. Aku dan Eeng ngakak kecil. Dan malam itu kami penuhi dengan ejek-ejekan. Terus-terusan sampai perut kembung. Bukan karena tawa, tapi bakso cakalan alias ikan tongkol yang sedang bersarang di perut kami. Hehehe


Malang, 26 Agustus 2016

0 komentar:

Posting Komentar