Hari Kesebelas: Selasa, 28 Juni 2016
Hari ini datang dan aku lalui dengan sederhana. Semenjak
pulau putih mendatangiku, semenjak itu pula Sadulang Kecil dijatuhi hujan.
Hujan di Sadulang Kecil ini menjadi rahmat karena penduduk dapat menadahi air
hujan sebanyak-banyaknya untuk digunakan mencuci baju dan mencuci piring. Itu
artinya, pengeluaran uang untuk membeli air dapat menghemat.
Meski hujan juga mendatangkan perasaan yang lain saat
jalanan kampung menjelma lautan lumpur karena air laut yang meluap sampai ke
darat. Di belakang rumah, air laut naik sampai bibir pintu ruang belakang. Tapi
begitulah, sebagaimana pada tiap luka pasti ada sisi manis jua. Anak-anak
kampung berbahagia. Mereka bermain perahu-perahuan dengan telanjang. Anak-anak
yang sungguh beruntung.
Terkadang, sore di sini masih menyisa hawa panas dan
gerah. Tapi sore hari kesebelas ini terasa teduh, nyaman sampai ke batin. Aku
sampai lupa kalau sedang berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan. Di
tengah-tengah udara yang barangkali kuhirup bercampur dengan garam. Aku merasa
sedang menghabiskan sore di rumahku tercinta, tempat paling nyaman di dunia
ini. Ya, rumahku yang sederhana di tengah perkampungan kota Malang.
Sadulang Kecil mengajarkanku banyak hal. Dan satu yang
kucatat pada hari ini adalah: Dimanapun kita berada, hanya satu tempat di dunia
ini yang terasa nyaman dan menentramkan yaitu di rumah, di samping bapak dan
ibuk. Ya, aku kangen mereka, aku kangen rumah.
Kami berbuka dengan berbagai macam ikan, ya seperti
biasa. Dan aku makan kepiting bakar yang cukup membuatku ketagihan. Sampai
malam pun udara terasa dingin, dan aku malah nyaman dengan suasana ini,
sebagaimana kotaku yang dingin. Tapi ibu menggigil, Eeng juga mengeluh dingin.
Ibu berlari ke belakang, mengatakan angina datang dengan
keras. Aku mendapatkan telfon, terkejut karena merasa tumben signal berpihak
sangat baik. Aku ke samping rumah agar leluasa mengobrol. Tak lama, Jun berlari
dari samping rumah ke belakang. Sepertinya begitu juga dengan uwwak, Eeng, Daman
bahkan beberapa tetangga. Saat aku selesai menelfon dan kembali ke rumah, Jun
bercerita bahwa baru saja ada badai. Angin keras membawa ombak tinggi sekali.
Wah, alih-alih khawatir dengan tsunami atau semacamnya, aku malah merasa kecewa
melewati momen langka. Jun yang tahu banget tentang bagianku yang ini, pasti menangkapnya dari air mukaku.
Malam, aku dan Eeng ditraktir bakso Jun. Kami bertiga
menyusuri kampung sampai selatan Masjid. Kami makan di tempat, di atas lincak.
Eeng menolak makan ditempat, dan minta dibungkus saja. Kuperhatikan ada
gerombolan ABG laki-laki juga ngandok bakso di sini.
Em… karena ada mereka ya… godaku. Eeng mengelak sambil
ketawa kecil. Jun semakin menggodanya, “Em…pasti takut kelihatan mangap waktu
makan ya…” Eeng berteriak kecil sambil memukul Jun dengan berteriak Abang.
Diam-diam aku iri pada sepasang kakak beradik yang sangat cair dan kocak ini.
Aku iri pada Eeng yang dapat bermanja-manja pada seorang abang. Apalagi
abangnya songong kayak Jun, makhluk paling songong sedunia.
Seingatku Jun tidak pernah marah pada Eeng kecuali
sekali, di belakang rumah. Jun mengingatkan Eeng tugas dari ibu atau uwwak,
tapi Eeng tidak lekas beranjak. Lalu Jun mengingatkan lagi dengan suara
meninggi dan muka dijahat-jahatkan. Aku terkejut, aku dan Eeng diam bersamaan
dalam sekian detik lalu tertawa keras-keras bersamaan. Jun tidak bisa marah,
dia malah terlihat lucu dan raut mukanya pasti membuat orang yang melihatnya
terpingkal-pingkal.
Saat Eeng beranjak dengan menyisakan tawanya, aku
bertanya pada Jun, “Mengapa kamu bersusah payah berusaha marah?”. Kalau tidak
begitu, Eeng selalu manja padaku, katanya. Aku tertawa sambil mengatakan suatu
hal padanya. Lalu aku tertawa terus-terusan, dan Jun hanya diam datar.
Kami pulang menyusuri
bagian tengah kampung. Melewati rumah mantan Jun. Pas di depan rumah sang
mantan, Jun berjinjit dan melongok saat sang mantan tampak berkelebat. “Kangen
ya…” goda Eeng. Aku dan Eeng ngakak kecil. Dan malam itu kami penuhi dengan
ejek-ejekan. Terus-terusan sampai perut kembung. Bukan karena tawa, tapi bakso
cakalan alias ikan tongkol yang sedang bersarang di perut kami. Hehehe
Malang, 26 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar