Hari kedelapan: Sabtu, 25 Juni 2016
Hari ini kami akan pergi ke pulau Sadulang Besar, pulau
sebagai produsen agar-agar terbesar nomor dua setelah kampung…kampung apa ya
namanya lupa. Kita sebut saja kampung A, kampung yang merupakan rumah-rumah
kayu dan berdiri di atas lautan.Kampung ini berada di belakang pulau Saredeng.
Pulau Saredeng berada di belakang pulau Sadulang Besar. Nah, ke sinilah kami
hari ini, pulau Sadulang Besar. Pulau yang berada di belakang pulau Saular.
Pulau Sadulang Besar yang pada sebuah sore aku lihat dari sebelah barat hutan
bakau, seakan dekaaaaat sekali.
Kami berlima. Aku, Jun, Daman, ibu, dan seorang lelaki
asal Surabaya yang bekerja pada salah-satu keluarga nelayan di Sadulang Kecil.
Eeng hari ini ngambek, tiba-tiba saja dia urung ikut dan melemparkan tubuhnya
di atas kasur. Jun merayunya, seperti menimang anak bayi hahaha. Abang yang
edian! Tapi karena lucu, aku ikut-ikutan menimang Eeng ala-ala Jawa sampai Jun
terpingkal-pingkal dan Eeng tidak tahan menahan tawanya di atas bantal. Tapi
kami tetap kalah. Aku dan Jun keluar dari kamar sebagai pecundang! Hahaha
Lagi-lagi, kami naik sampan Mamak. Perjalanan kali ini
terbilang asyik. Langit sedang cerah, dan angin tidak kencang. Kami melewati
jalur laut menuju Saular tentu saja. Sehingga aku bisa menikmati kembali air
lautan yang jernih di atas dataran batu alam yang berwarna warni. Juga rumput
laut dari berbagai jenis dan bentuk. Perjalanan lumayan lama, tapi aku tidak
mencatat detil memakan waktu berapa menit perjalan ini.
Sampan kami melewati lautan di sebelah kanan pulau
Saular, lalu masuk pada lautan yang cukup dalam menurut instingku. Dari jauh
pulau Sadulang Besar sudah tampak. Beberapa meter jarak laut dari pulaunya
terlihat banyak semacam tampar. Kami harus memainkan kemudi dengan lincah
supaya tidak menabrak bagian laut yang dalam kesan pertamaku seperti area
lapangan di atas laut. Itu adalah area tanaman rumput laut yang sengaja
dibudidaya oleh penduduk, penjelasan ibu Jun kepadaku dan Daman. Satu jenis rumput laut yang dapat diolah
menjadi agar-agar. Langit hari ini biru cerah dengan awan menggumpal panjang di
bagian tepi, seperti pulau berwarna putih.
Area budidaya rumput laut itu menjadi semacam lapangan di
hampir setiap area muka pulau ini. Sampan menambat tidak terlalu ke tepi,
karena pertimbangan khawatir masuk ke daratan sangat dangkal dan akan membuat
sampan sulit ditarik nantinya. Ketiga lelaki meloncat dengan aman. Ibu juga,
karena beliau mengenakan sarung yang nyaman untuk diangkat. Aku lihat air
sepertinya dangkal dan tidak akan membuat basah rokku. Aku turun pelan, dan
ternyata air laut yang teramat jernih itu sangat dalam. Haiyyaa… basahlah aku
sampai atas lutut. Hem… mungkin ini sama dengan pemikiran manusia. Bilamana
seorang dapat berfikir jernih, ia pula memiliki kemungkinan besar berfikir
dalam, berfilsafat. Mungkin.
***
Pulau ini lumayan besar dan luas. Pulau yang dipenuhi
pohon kelapa juga banyak berbagai tanaman hijau tumbuh. Rumah-rumah cukup
beragam, dari rumah joglo yang sangat lokal sampai rumah-rumah gedung yang
pagar-pagarnya adalah berbagai macam segala jenis tumbuhan dan tanaman. Aku
lihat ada bunga kertas juga bunga-bunga yang kukira tidak akan tumbuh di sini.
Meski tanah bibir pantai tadi adalah pasir putih,
ternyata di perut pulau tanahnya coklat dan cukup gembur. Wajar banyak tumbuhan
subur, bahkan tanaman-tanaman pagar yang dapat dikonsumsi sebagai sayur.
Kami menelusuri tengah pulau, melewati rumah-rumah yang
rapi, juga area semacam hutan yang lebat dengan tanaman. Wah… sejuk sekali, aku
sangat senang dengan pulau ini. Tanganku kubiarkan meraba tanaman sereh
sementara mataku merayap dari pohon-pohon kelapa yang tinggi ke pohon papaya.
Akhirnya, rumah teman ibu yang menjadi tujuan, kami temukan.
Rumah yang unik. Rumah kayu dengan dua ujung belakang dan depannya seperti di
sangga empat pohon kelapa yang mendoyong dan memayungi atap rumah. Rumah yang
tidak terlalu besar ini berdiri di atas hamparan tanah yang luas, dan juga
dikelilingi pohon kelapa banyak sekali. Suasana jadi teduh dan sangat
menyenangkan.
Segera Jun dan lelaki asal Surabaya itu memanjati
pohon-pohon nyiur yang mengelilingi halaman rumah. Aku dan Daman girang. Jun
membantuku membuka degan hijau yang masih muda. Airnya menyembul saking
banyaknya. Langsung saja aku minum sampai tandas dan perutku penuh dengan
airnya. Jun membelahkannya dan daging kelapa muda itu segera kukerok dengan
serabut kelapa berbentuk sendok yang sengaja dibuatkan oleh Jun. Mantap,
dagingnya masih terlihat seperti ingus dan ini nih yang sangat enak dan
menyehatkan. Bukan begitu, Jun? Jun teguh berpuasa. Aku dan Daman berpesta. Hihihi
***
Aku dan Daman duduk di atas lincak kayu di bawah pohon
yang berada di belakang rumah. Pohon itu tidak terlalu tinggi, namun sangat
teduh karena daunnya yang lebat. Pohon dengan daun berbentuk waru. Kami menikmati
buah kelapa muda itu di sana. Sementara Jun dan bapak asal Surabaya itu saling
bahu membahu menurunkan banyak nyiur. Semangat ya qaqak… hihihi
Setelah perutku benar-benar penuh, aku beranjak mendekati
sumur di halaman rumah. Aku sangat penasaran apakah sumur ini ada airnya. Aku
tengok dan menemukan air itu di sana. Pasti air asin, kata Daman. Aku juga
mengira begitu. Dan betapa terkejutnya kami saat mendapat penjelasan bahwa itu
adalah air tawar. Allahu rabby, aku keranjingan. Baru kali ini aku begitu
bahagia mendengar hal itu, hal yang akan berkesan biasa padaku jika aku
mendengarnya di luar pulau-pulau seperti ini.
Aku juga Daman begitu takjub. Kami berdua saling mengaku
akan sangat betah jika tinggal di pulau seperti ini. Bagaimana tidak, banyak
jenis tumbuhan yang dapat kami konsumsi sebagai sayur, ikan laut melimpah,
nyiur tinggal memetik dari jendela rumah, dan terutama air sangat mudah
didapatkan. Air tawar adalah harta karun bagi orang pulau, Kawan!
***
Jika rata-rata penduduk Sadulang Kecil berbahasa Madura
dengan segelintir berbahasa Bajo, sebaliknya di sini. Bahasa lokal adalah
bahasa Bajo dan segelintir berbahasa Madura. Meski rata-rata penduduk dari
kedua pulau itu memiliki kemampuan di dua bahasa tersebut, seperti ibu
misalnya.
Kami pulang dengan membawa puluhan nyiur alias kelapa
muda yang diikat menjadi beberapa gerombol. Dan ketiga lelaki itulah yang memanggul
ikatan-ikatan nyiur dengan kayu panjang itu ke sampan. Aku dan ibu mengikuti
temannya lewat jalan pintas.
Aku melihat rumah joglo tinggi-tinggi dan sangat
unik-unik. Kampung yang kreatif menurut kesanku. Rumah-rumah yang sudah
terlihat unik ini semakin sedap dipandang karena dipagari dengan dahan-dahan
nyiur yang masih lebat daunnya. Dahan-dahan itu berdiri rapat dan tinggi. Ada
yang masih berwarna hijau sampai yang paling banyak sudah coklat.
Imajinasiku bermain-main di sini. Aku langsung terseret
pada Dunia Sofie, Harry Potter, juga
The Hobbitt. Ya, sepanjang daratan sebelum
benar-benar masuk sekitar lima meter dari bibir pantai, kampung ini pun penuh
dengan barisan dahan nyiur yang dikreasi unik. Bahkan, aku sempat melongok pada
semacam lorong panjang yang juga terbuat dari susunan dahan nyiur. Aku seperti
melongok pada lorong rahasia milik Sofie yang ada di kebun rumahnya. Sampai ibu
meneriakiku dan aku kembali tersadar dan kembali melangkah menuju bibir pantai.
***
Bapak Surabaya dan Jun sudah terlihat di dekat sampan
kecuali Daman. Aku, ibu, temannya, dan seorang ibu-ibu lokal mengobrol di
samping tanaman rumput laut yang sedang dijemur. Memanjang dan luas. Aku sempat
bertanya dan menemukan bahwa harga rumput laut basah perkilonya paling murah
600 rupiah. Kalau kring paling murah berharga 6.000 rupiah.
Sementara harga
rata-rata perkilonya 10.000-15.000 rupiah. Tanaman agar itu nantinya akan
diantar ke Dermaga Sumenep untuk dijual ke sana. Aku pernah bertanya pada Jun,
bahwa perjalanan ke Dermaga Sumenep memakan waktu lebih lama dari perjalanan
kami dari Banyuwangi kemarin.
Kami kembali ke sampan setelah wajah Daman terlihat. Aku
sempatkan berpamitan pada kedua ibu-ibu pulau itu. Dari bibir pantai pulau ini
langit dan laut sama-sama terlihat sangat luas dan sama-sama berwarna biru.
Awan putihnya juga terlihat seperti agar-agar, di sisi lain menggumpal seperti
biri-biri yang berkejaran.
Sore hari, kami sampai di rumah. Dan baru hari kesembilan
ini, aku merasakan makan ikan dengan sangat nikmat. Melebihi kenikmatan makan
ikan kemarin-kemarin hari. Rasanya aku sudah menyatu dengan alam ini. Ibu
memasak ikan dengan kuah santan pada buka puasa hari ini. Dan aku tidak bisa
melupakan rasanya, bahkan sampai saat aku pulang ke Malang.
Mala mini aku akan solat tarawih perdana. Menjelang isya’
Jun mengisikan air di bak kamar mandi untukku dari drum-drum di samping kiri
rumah. Kami solat tarawih di musholla terdekat. Aku merasa, jama’ah solat isya’
berjalan sangat lama sementara jama’ah solat tarawih terasa begitu cepat,
seperti di Madura, rumah mbah ummikku.
Cerita hari ini, kami tutup dengan rujakan kedondong di
bawah payung langit yang hitam.
Malang, 26 Agustus 2016
thanks...:)
BalasHapus