Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHTUJUH: DALAM SEMINGGU BAPAK DATANG


Kata ibuk, saat pertama kali saya diantar ke Pesantren, bapak tidak enak makan. Begitupula dengan dirinya. Setiap mereka berdua akan makan, selalu ada saja di antara keduanya nyeletuk, “Di sana Halimah sudah makan belum ya?” “Halimah makan apa di sana ya?”. Dan satu di antara keduanya akan saling menguatkan.

Apalagi saat kedua adik lelaki saya yang waktu itu masih kelas satu dan dua SD sudah merengek minta diantar mondok, rumah semakin sepi, tinggal mereka berdua. Semakin pula, bapak-ibuk menangis di setiap waktu makan telah datang. Saya ngakak saat diceritai seperti itu. Saya juga tidak tahu, bahwa saat kami di Pesantren, bapak-ibuk sama-sama melakukan tirakat. Terutama ibuk, kata bapak. Ibuk akan istiqomah berpuasa pada setiap weton kelahiran kami. Ibuk juga sering membawakan air dari rumah. Kata bapak, itu air yang selalu disanding ibuk kalau terjaga di setiap malam.

Satu Minggu saya di Pesantren, saya terkejut saat nama saya disebut dari Kantor Pemanggilan, kantor besuk santri. Saya yang tidak menangis saat ditinggal di Pesantren oleh keluarga untuk  pertama kalinya itu, melangkah ragu ke Kantor Pemanggilan. Saya terkejut. Antara senang dan ingin menangis. Ternyata bapak sudah duduk bersila di sana dengan berbagai bawaannya. Bukankah baru satu minggu? Batin saya. Saat itu juga, sebenarnya saya sudah sangat ingin ikut bapak pulang, tapi keinginan itu sungguh saya tekan. Demi bapak. Demi ibuk.

Ternyata, baru saya tahu dari ibuk, bapak memaksa menjenguk saya karena sudah tidak kuat menahan. Ibuk sudah melarang, tunggu sampai satu bulan dulu. “Tapi bapakmu ngeyel,” sungut ibuk. Saya ngekek-ngekek. “Dan sebenarnya, waktu itu, bapakmu sudah tidak kuat untuk membopongmu kembali pulang.” Saya tambah ngekek. “Tapi sungguh ditekannya keinginan itu. Demi kebaikanmu!” Di sini saya berhenti ngekek. Terdiam.s






0 komentar:

Posting Komentar