Kata
ibuk, saat pertama kali saya diantar ke Pesantren, bapak tidak enak makan.
Begitupula dengan dirinya. Setiap mereka berdua akan makan, selalu ada saja di
antara keduanya nyeletuk, “Di sana Halimah sudah makan belum ya?” “Halimah
makan apa di sana ya?”. Dan satu di antara keduanya akan saling menguatkan.
Apalagi
saat kedua adik lelaki saya yang waktu itu masih kelas satu dan dua SD sudah
merengek minta diantar mondok, rumah semakin sepi, tinggal mereka berdua.
Semakin pula, bapak-ibuk menangis di setiap waktu makan telah datang. Saya
ngakak saat diceritai seperti itu. Saya juga tidak tahu, bahwa saat kami di
Pesantren, bapak-ibuk sama-sama melakukan tirakat. Terutama ibuk, kata bapak.
Ibuk akan istiqomah berpuasa pada setiap weton kelahiran kami. Ibuk juga
sering membawakan air dari rumah. Kata bapak, itu air yang selalu disanding
ibuk kalau terjaga di setiap malam.
Satu
Minggu saya di Pesantren, saya terkejut saat nama saya disebut dari Kantor
Pemanggilan, kantor besuk santri. Saya yang tidak menangis saat ditinggal di
Pesantren oleh keluarga untuk pertama
kalinya itu, melangkah ragu ke Kantor Pemanggilan. Saya terkejut. Antara senang
dan ingin menangis. Ternyata bapak sudah duduk bersila di sana dengan berbagai
bawaannya. Bukankah baru satu minggu? Batin saya. Saat itu juga, sebenarnya
saya sudah sangat ingin ikut bapak pulang, tapi keinginan itu sungguh saya
tekan. Demi bapak. Demi ibuk.
Ternyata, baru saya tahu dari ibuk, bapak
memaksa menjenguk saya karena sudah tidak kuat menahan. Ibuk sudah melarang,
tunggu sampai satu bulan dulu. “Tapi bapakmu ngeyel,” sungut ibuk. Saya
ngekek-ngekek. “Dan sebenarnya, waktu itu, bapakmu sudah tidak kuat untuk
membopongmu kembali pulang.” Saya tambah ngekek. “Tapi sungguh ditekannya
keinginan itu. Demi kebaikanmu!” Di sini saya berhenti ngekek. Terdiam.s
0 komentar:
Posting Komentar