Setelah
kecelakaan itu, meskipun telah istirahat panjang, saya takut sekali meyeberang.
Bahkan hanya dibonceng motor oleh teman-teman, rasanya jantung mendadak
merosot, tidak hanya sekedar jedag-jedug keras. Untuk sekedar naik pit ontel
saja, saya kehilangan nyali. Saat kaki mulai naik ke sadelnya, otot-otot kaki tiba-tiba
melemas. Oh Tuhan!
Akhirnya,
dengan dorongan kuat teman-teman kost, saya kembali memiliki kesadaran harus
berani mencoba. Saya mulai melakukan terapi naik pit ontel keliling perumahan
Timoho di sekitar kost. Dalam memulainya, saya berusaha membelokkan sugesti
sehingga beberapa kali saya telah berhasil ngontel meski belum berani ke jalan
saya.
Suatu
pagi, saya kembali akan mulai terapi. Setiap akan mengayuh sadel, setiap itu
pula jantung saya berdebar lebih cepat dan otot kaki gemetar. Namun pagi itu, saya
kembali berhasil menyugesti diri saya berani naik pit ontel dan mengayuhnya.
Tidak sampai lima meter, saya mendengar suara motor, dan.... “Gubrak” saya
ambruk bersama pit ontel itu.
Saat
itu saya menyadari, ketakutan saya pada motor bahkan sekedar hanya mendengar suaranya. Dari situ saya tidak mau mencoba
lagi. Saya kalah. Ketakutan mengalahkan saya. Hingga datanglah suatu hari saat
saya harus membantu teman mengajar di sebuah sekolah Alam di daerah Wahid
Hasyim. Saya berfikir, tidak mungkin setiap pulang-pergi dengan jalan kaki
setiap. Dari situlah, mau tidak mau saya harus menumbuhkan keberanian itu lagi.
Begitulah saya dari dulu. Saya akan lebih bersemangat melakukan sesuatu untuk
orang lain meski itu memerlukan perjuangan, dibanding sekadar untuk diri
sendiri yang seringkali lebih mengikuti rayuan rasa malas. Hehe.
Sebenarnya
ceritanya panjang. Jatuh-bangun. Bisa dibilang juga berdarah-darah. Mana pakek
disrempet mobil dan taksi segala.Tapi pendeknya saja, dengan bantuan terapi
dari seorang terkasih, saya berhasil melenyapkan perasaan traumatik itu.
Semenjak itu juga, saya kembali menjadi sang muallaf pengemudi ontel jalanan
Jogja. Ya masak tidak bisa bangun kembali. Kalau dipikir sedikit jeru, malu
ah sama masa kecil dulu.
Semasa
kecil, saya tidak bisa dipisahkan dengan pit ontel. Saya sangat mahir memainkan
pit kecil itu. Mulai dari mengayuhnya tanpa berpegangan, mengangkat-ngangkat
ban depan, sampai berbagai gaya berdiri, duduk, memutar, dan banyak lagi.
Saya
satu-satunya perempuan dalam Geng Pit Ontel Arek Mergosono. Geng itu tidak
kurang dari lima belas anggota. Aktifitas kami adalah mengganggu tidur siang
masyarakat yang kelihatan jahat terhadap anak kecil. Kebanyakan ya para ibu-ibu
yang cerewet dan pelit. Kami akan memasang sisa wadah air mineral di bawah jok
yang akan bergesekan dengan ban belakang saat dikayuh. Dan itu akan
mengeluarkan bunyi yang sangat berisik menurut orang dewasa. Kalau bagi kami
yang anak kecil sih, itu penemuan amazing. Bunyinya keren! Dan kami, secara
berombongan, akan bergerilya di tengah hari, saat orang-orang sedang nyenyak
dengan tidur siangnya. Jangan dibayangkan tanpa perjuangan. Geng saya tidak
jarang disiram air ember oleh ibu-ibu, tapi kami senang. Karena itu tandanya,
kami berhasil ‘mengganggu’, dan sasaran kami berhasil ‘terganggu’.
Ketengilan
saya tercium bapak. Suatu kali bapak mencegat rombongan Geng Pit Ontel saya
yang siap beraksi. Dengan sarung, baju koko, pecis hitam, juga kumis hitamnya
yang khas, bapak berdiri dengan mengacungkan penjalin bambu panjang tepat di depan grombolan kami. Saya
hanya bisa ndomblong di atas pit, tidak percaya dengan kenyataan
ini. Saat saya menoleh, teman-teman sudah pada kocar-kacir ke segala penjuru.
Tanpa ba bi bu, saya turun dari pit ontel, menuntunnya dengan menunduk lesu sampai
ke rumah. Ya, seperti prajurit yang kalah sebemum berperang. Bapak memang belum
mengatakan sepatah kata pun, tapi semua yang terlihat tadi, sudah lebih dari
cukup!
Sesampai
di rumah, saaya langsung parkirkan pit ontel itu, mengambil wudlu, sholat
dhuhur, lalu tidur siang karena nanti sore harus berangkat TPA. Begitu saja.
Cukup.
0 komentar:
Posting Komentar