Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHDELAPAN: BAPAK DAN PIT ONTEL KECILKU


Setelah kecelakaan itu, meskipun telah istirahat panjang, saya takut sekali meyeberang. Bahkan hanya dibonceng motor oleh teman-teman, rasanya jantung mendadak merosot, tidak hanya sekedar jedag-jedug keras. Untuk sekedar naik pit ontel saja, saya kehilangan nyali. Saat kaki mulai naik ke sadelnya, otot-otot kaki tiba-tiba melemas. Oh Tuhan!

Akhirnya, dengan dorongan kuat teman-teman kost, saya kembali memiliki kesadaran harus berani mencoba. Saya mulai melakukan terapi naik pit ontel keliling perumahan Timoho di sekitar kost. Dalam memulainya, saya berusaha membelokkan sugesti sehingga beberapa kali saya telah berhasil ngontel meski belum berani ke jalan saya.

Suatu pagi, saya kembali akan mulai terapi. Setiap akan mengayuh sadel, setiap itu pula jantung saya berdebar lebih cepat dan otot kaki gemetar. Namun pagi itu, saya kembali berhasil menyugesti diri saya berani naik pit ontel dan mengayuhnya. Tidak sampai lima meter, saya mendengar suara motor, dan.... “Gubrak” saya ambruk bersama pit ontel itu.

Saat itu saya menyadari, ketakutan saya pada motor bahkan sekedar hanya mendengar  suaranya. Dari situ saya tidak mau mencoba lagi. Saya kalah. Ketakutan mengalahkan saya. Hingga datanglah suatu hari saat saya harus membantu teman mengajar di sebuah sekolah Alam di daerah Wahid Hasyim. Saya berfikir, tidak mungkin setiap pulang-pergi dengan jalan kaki setiap. Dari situlah, mau tidak mau saya harus menumbuhkan keberanian itu lagi. Begitulah saya dari dulu. Saya akan lebih bersemangat melakukan sesuatu untuk orang lain meski itu memerlukan perjuangan, dibanding sekadar untuk diri sendiri yang seringkali lebih mengikuti rayuan rasa malas. Hehe. 

Sebenarnya ceritanya panjang. Jatuh-bangun. Bisa dibilang juga berdarah-darah. Mana pakek disrempet mobil dan taksi segala.Tapi pendeknya saja, dengan bantuan terapi dari seorang terkasih, saya berhasil melenyapkan perasaan traumatik itu. Semenjak itu juga, saya kembali menjadi sang muallaf pengemudi ontel jalanan Jogja. Ya masak tidak bisa bangun kembali. Kalau dipikir sedikit jeru, malu ah sama masa kecil dulu.

Semasa kecil, saya tidak bisa dipisahkan dengan pit ontel. Saya sangat mahir memainkan pit kecil itu. Mulai dari mengayuhnya tanpa berpegangan, mengangkat-ngangkat ban depan, sampai berbagai gaya berdiri, duduk, memutar, dan banyak lagi.

Saya satu-satunya perempuan dalam Geng Pit Ontel Arek Mergosono. Geng itu tidak kurang dari lima belas anggota. Aktifitas kami adalah mengganggu tidur siang masyarakat yang kelihatan jahat terhadap anak kecil. Kebanyakan ya para ibu-ibu yang cerewet dan pelit. Kami akan memasang sisa wadah air mineral di bawah jok yang akan bergesekan dengan ban belakang saat dikayuh. Dan itu akan mengeluarkan bunyi yang sangat berisik menurut orang dewasa. Kalau bagi kami yang anak kecil sih, itu penemuan amazing. Bunyinya keren! Dan kami, secara berombongan, akan bergerilya di tengah hari, saat orang-orang sedang nyenyak dengan tidur siangnya. Jangan dibayangkan tanpa perjuangan. Geng saya tidak jarang disiram air ember oleh ibu-ibu, tapi kami senang. Karena itu tandanya, kami berhasil ‘mengganggu’, dan sasaran kami berhasil ‘terganggu’.

Ketengilan saya tercium bapak. Suatu kali bapak mencegat rombongan Geng Pit Ontel saya yang siap beraksi. Dengan sarung, baju koko, pecis hitam, juga kumis hitamnya yang khas, bapak berdiri dengan mengacungkan penjalin bambu  panjang tepat di depan grombolan kami. Saya hanya bisa ndomblong di atas pit, tidak percaya dengan kenyataan ini. Saat saya menoleh, teman-teman sudah pada kocar-kacir ke segala penjuru. Tanpa ba bi bu, saya turun dari pit ontel, menuntunnya dengan menunduk lesu sampai ke rumah. Ya, seperti prajurit yang kalah sebemum berperang. Bapak memang belum mengatakan sepatah kata pun, tapi semua yang terlihat tadi, sudah lebih dari cukup!


Sesampai di rumah, saaya langsung parkirkan pit ontel itu, mengambil wudlu, sholat dhuhur, lalu tidur siang karena nanti sore harus berangkat TPA. Begitu saja. Cukup.

0 komentar:

Posting Komentar