Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHSEMBILAN: BAPAK DITOLAK RA LELUR


Ra Lelur, masyarakat Madura menyebutnya. Kalau tidak salah (dan sepertinya benar), beliau adalah cicit ulama besar Bangkalan Madura, Al-Maghfurlah Syaikhona Kholil, Gurunya para Kiai, sang terpilih yang mendapat isyarah untuk mendirikan jam’iyah Nahdatul Ulama.

“Beliau itu sakti,” kata seseorang di antara gerombolan bapak-bapak Madura.

“Betul. Bisa menghilang,” yang lain menyahut.

“Beliau juga bisa muncul di mana-mana. Tiba-tiba di Demangan, tiba-tiba di nDalemnya, tiba-tiba di Makkah, tiba-tiba sudah sampai di acara pengajian ini,” yang lain juga tak ingin ketinggalan menunjukkan lebih banyak tahunya.

“Iya, kemarin acara pengajian di sini, orang-orang sudah menunggu di bawah panggung untuk sungkem ngalap barokah, eh ternyata beliau sudah ada di mobil,” terang ibuk saat saya minta penjelasan kebenaran kabar itu.

Saya memang sering melihatnya di pigura foto yang tergantung di dinding hampir seluruh rumah masyarakat desa ini. Dalam setiap foto, penampilan beliau hampir sama. Nampak sangat santai dan kelewat sederhana dalam balutan kaos singlet putih, tanpa pecis, dan sarung yang sangat sederhana, bahkan beberapa saya temui beliau mengenakan celana pendek yang santai. Wajahnya yang sepuh alangkah teduh.

Pertama kali saya diajak sowan ke nDalemnya, beliau hanya mau menerima lima orang saja, dan sukur Alhamdulillah saya termasuk salah-satunya. Tidak sebagaimana jikalau sowan ke nDalem ulama yang di Madura rata-rata sudah bagus bahkan beberapa sudah mentereng, setelah dipersilahkan juru kunci, kami memasuki gerbang kecil yang ternyata menghubungkan antara jalan raya dan hutan belantara. Di tengah hutan inilah sebuah rumah gubuk reot berdiri. Pertama kali mata saya ini melihatnya, beliau sedang berdiri santai di depan nDalemnya sambil memandangi pohon-pohon lebat nan tinggi yang tumbuh di depan nDalemnya.

Pada detik-detik itu, saya berdebar sangat. Teringat cerita orang, perlu nyali yang tinggi sowan ke nDalem beliau. Macam-macam cara beliau menerima tamu. Ada yang ditampar, ditendang, diludahi, diusir keras, dan sebagainya.

Barangkali saya berdebar, karena takut ketengilan saya selama di Jogja diketahui. Tidak sebagaimana di Pesantren saat saya membatasi pergaulan hanya dengan teman perempuan saja, di Jogja mayoritas teman saya malah laki-laki. Kaki saya tersendat-sendat mendekati beliau. Masih jarak jauh dengan nDalemnya, saya melepas sandal. Telanjang kaki sambil berjalan agak merunduk. Giliran saya salim dan menangkap tangan beliau, hati saya yang sedari tadi jedag-jedug tidak karuan, sekejap menjadi hening dan tentram.

Liburan Maulid kemarin, bapak dengan paklik sowan ke sana. Bapak senang sekali. Tapi saat ingat sedang tidak punya uang untuk salim, bapak sedih. Bapak tetap nekat, uang terakhir di dompetnya yang rencananya untuk ongkos pulang Malang dipakainya. Tapi apa yang terjadi saat bapak sampai ke nDalem beliau? Ra Lelur melempar uang bapak ke tanah. Bapak memungutnya, disalimkannya kembali. Dan lagi, Ra Lelur membuangnya keras ke tanah. Akhirnya bapak salim biasa, lalu memungut uangnya kembali dan cepat beranjak berjalan mundur meninggalkan ulama yang penuh karomah itu dengan sebuncah tanda tanya.

Keluarga besar tertawa terpingkal-pingkal tak habis-habis saat mendengar cerita bapak. Ibuk dengan suaranya yang keras menyahut, “Gak papa, Pak. Siapa tahu Samean nanti kaya. Katanya ada orang dibuang uangnya, esoknya rejekinya jadi lancar!”


Bapak cuma mesam-mesem, dan keluarga besar kembali tertawa ngakak. Bahkan lebih keras. 

0 komentar:

Posting Komentar