Ra
Lelur, masyarakat Madura menyebutnya. Kalau tidak salah (dan sepertinya benar),
beliau adalah cicit ulama besar Bangkalan Madura, Al-Maghfurlah Syaikhona
Kholil, Gurunya para Kiai, sang terpilih yang mendapat isyarah untuk mendirikan
jam’iyah Nahdatul Ulama.
“Beliau
itu sakti,” kata seseorang di antara gerombolan bapak-bapak Madura.
“Betul.
Bisa menghilang,” yang lain menyahut.
“Beliau
juga bisa muncul di mana-mana. Tiba-tiba di Demangan, tiba-tiba di nDalemnya,
tiba-tiba di Makkah, tiba-tiba sudah sampai di acara pengajian ini,” yang lain
juga tak ingin ketinggalan menunjukkan lebih banyak tahunya.
“Iya,
kemarin acara pengajian di sini, orang-orang sudah menunggu di bawah panggung
untuk sungkem ngalap barokah, eh ternyata beliau sudah ada di mobil,” terang
ibuk saat saya minta penjelasan kebenaran kabar itu.
Saya
memang sering melihatnya di pigura foto yang tergantung di dinding hampir
seluruh rumah masyarakat desa ini. Dalam setiap foto, penampilan beliau hampir
sama. Nampak sangat santai dan kelewat sederhana dalam balutan kaos singlet
putih, tanpa pecis, dan sarung yang sangat sederhana, bahkan beberapa saya
temui beliau mengenakan celana pendek yang santai. Wajahnya yang sepuh alangkah
teduh.
Pertama
kali saya diajak sowan ke nDalemnya, beliau hanya mau menerima lima orang saja,
dan sukur Alhamdulillah saya termasuk salah-satunya. Tidak sebagaimana jikalau
sowan ke nDalem ulama yang di Madura rata-rata sudah bagus bahkan beberapa
sudah mentereng, setelah dipersilahkan juru kunci, kami memasuki gerbang kecil
yang ternyata menghubungkan antara jalan raya dan hutan belantara. Di tengah
hutan inilah sebuah rumah gubuk reot berdiri. Pertama kali mata saya ini
melihatnya, beliau sedang berdiri santai di depan nDalemnya sambil memandangi
pohon-pohon lebat nan tinggi yang tumbuh di depan nDalemnya.
Pada
detik-detik itu, saya berdebar sangat. Teringat cerita orang, perlu nyali yang
tinggi sowan ke nDalem beliau. Macam-macam cara beliau menerima tamu. Ada yang
ditampar, ditendang, diludahi, diusir keras, dan sebagainya.
Barangkali
saya berdebar, karena takut ketengilan saya selama di Jogja diketahui. Tidak
sebagaimana di Pesantren saat saya membatasi pergaulan hanya dengan teman
perempuan saja, di Jogja mayoritas teman saya malah laki-laki. Kaki saya
tersendat-sendat mendekati beliau. Masih jarak jauh dengan nDalemnya, saya
melepas sandal. Telanjang kaki sambil berjalan agak merunduk. Giliran saya
salim dan menangkap tangan beliau, hati saya yang sedari tadi jedag-jedug tidak
karuan, sekejap menjadi hening dan tentram.
Liburan
Maulid kemarin, bapak dengan paklik sowan ke sana. Bapak senang sekali. Tapi
saat ingat sedang tidak punya uang untuk salim, bapak sedih. Bapak tetap nekat,
uang terakhir di dompetnya yang rencananya untuk ongkos pulang Malang
dipakainya. Tapi apa yang terjadi saat bapak sampai ke nDalem beliau? Ra Lelur
melempar uang bapak ke tanah. Bapak memungutnya, disalimkannya kembali. Dan
lagi, Ra Lelur membuangnya keras ke tanah. Akhirnya bapak salim biasa, lalu
memungut uangnya kembali dan cepat beranjak berjalan mundur meninggalkan ulama
yang penuh karomah itu dengan sebuncah tanda tanya.
Keluarga
besar tertawa terpingkal-pingkal tak habis-habis saat mendengar cerita bapak.
Ibuk dengan suaranya yang keras menyahut, “Gak papa, Pak. Siapa tahu Samean
nanti kaya. Katanya ada orang dibuang uangnya, esoknya rejekinya jadi lancar!”
Bapak
cuma mesam-mesem, dan keluarga besar kembali tertawa ngakak. Bahkan lebih
keras.
0 komentar:
Posting Komentar