Saya
ingin sekali, kelak saat saya melahirkan, suami selalu berada di samping saya
sampai proses melahirkan selesai. Ingin sekali. Karena saya ingin hubungan saya
dan suami semesra hubungan bapak-ibuk. Syukur-syukur kalau bisa lebih dari itu.
Bapak
benar-benar suami siaga. Selama lima kali ibuk melahirkan, selama lima kali itu
pula bapak menyaksikan prosesnya. Empat kali ibuk melahirkan di rumah. Dibantu
dukun bayi yang kemampuan dan peralatannya sudah sangat dipercaya. Setiap ibuk
melahirkan, sang dukun selalu menyuruh bapak untuk melihat proses keluarnya
bayi itu. “Lihat sini. Biar kamu tahu perjuangannya perempuan. Biar kamu gak
semena-mena dan sayang terus sama istri,” kata sang Dukun kepada Bapak. Bahkan,
kelahiran bayi keempat di Bidan, bapak memaksa masuk untuk tetap bisa
mendampingi ibuk.
Karena
itulah, pertama kali suara yang masuk ke liang telinga lima bayi adalah suara
adzan bapak. Bayi pertama, lahir di dini hari. Bayi kedua, pas ba’da maghrib di
malam maulid Nabi. Bayi ketiga, di tengah malam. Bayi keempat juga malam hari.
Bayi kelima ini yang saya belum tahu, karena ia telahir saat saya
getol-getolnya menghafalkan tashrifan di sebuah pesantren sederhana di tengah
desa. “Mau pulang lihat adik bayi?” kata bapak via telpon waktu itu. “Mboten,
Pak. Katdah hafalan,” jawab saya via telepon Pesantren.
Selama
ibuk istirahat pasca melahirkan, bapaklah yang menghandle semua
pekerjaan rumah. Dari mencuci popok, memasak, menyapu, mengepel, dan merawat
ibuk. Ibuk dimintanya untuk benar-benar istirahat, makan yang banyak supaya
kembali sehat dan bayi bisa meminum ASI dengan maksimal.
Pada
kelahiran kelima, cerita ibuk, hampir saja perjuangannya sampai di situ.
Ari-ari tidak mau keluar, lama sekali. Dukun bayi sudah mengaku pasrah kepada
bapak sambil mengangkat tangan. Sementara ibuk terus membaca sholawat dan
meminta kepada bapak untuk mengikhlaskan. Bapak menangis keras seperti bayi.
“Jangan menangis. Carikan saja aku air zam-zam. Kita lupa, setiap aku
melahirkan, bukankah aku selalu minum air zam-zam terlebih dulu?” kata ibuk
dalam lemah dan kepasrahan totalnya. Bapak, dengan derai air mata di pipinya
langsung berlari ke setiap rumah saudara. Mengetuk satu pintu rumah ke pintu
rumah yang lain. Bapak juga mengerahkan seluruh saudara yang ada di Malang
untuk bergerilya mencari air zam-zam secepatnya. Dan dapat!
Bapak
menyaksikan sendiri ibuk meminum air zam-zam itu. Lalu duduk bersandar dan
melihat ari-ari bayi itu keluar begitu saja. “Mukjizat, Li!” pekik sang Dukun
bayi menyebut nama bapak. Bapak lunglai di bibir ranjang, antara buncah bahagia
dan lelah yang baru dirasakannya.
TIGAPULUHENAM: BAPAK DAN LIMA
KELAHIRAN
Saya
ingin sekali, kelak saat saya melahirkan, suami selalu berada di samping saya
sampai proses melahirkan selesai. Ingin sekali. Karena saya ingin hubungan saya
dan suami semesra hubungan bapak-ibuk. Syukur-syukur kalau bisa lebih dari itu.
Bapak
benar-benar suami siaga. Selama lima kali ibuk melahirkan, selama lima kali itu
pula bapak menyaksikan prosesnya. Empat kali ibuk melahirkan di rumah. Dibantu
dukun bayi yang kemampuan dan peralatannya sudah sangat dipercaya. Setiap ibuk
melahirkan, sang dukun selalu menyuruh bapak untuk melihat proses keluarnya
bayi itu. “Lihat sini. Biar kamu tahu perjuangannya perempuan. Biar kamu gak
semena-mena dan sayang terus sama istri,” kata sang Dukun kepada Bapak. Bahkan,
kelahiran bayi keempat di Bidan, bapak memaksa masuk untuk tetap bisa
mendampingi ibuk.
Karena
itulah, pertama kali suara yang masuk ke liang telinga lima bayi adalah suara
adzan bapak. Bayi pertama, lahir di dini hari. Bayi kedua, pas ba’da maghrib di
malam maulid Nabi. Bayi ketiga, di tengah malam. Bayi keempat juga malam hari.
Bayi kelima ini yang saya belum tahu, karena ia telahir saat saya
getol-getolnya menghafalkan tashrifan di sebuah pesantren sederhana di tengah
desa. “Mau pulang lihat adik bayi?” kata bapak via telpon waktu itu. “Mboten,
Pak. Katdah hafalan,” jawab saya via telepon Pesantren.
Selama
ibuk istirahat pasca melahirkan, bapaklah yang menghandle semua
pekerjaan rumah. Dari mencuci popok, memasak, menyapu, mengepel, dan merawat
ibuk. Ibuk dimintanya untuk benar-benar istirahat, makan yang banyak supaya
kembali sehat dan bayi bisa meminum ASI dengan maksimal.
Pada
kelahiran kelima, cerita ibuk, hampir saja perjuangannya sampai di situ.
Ari-ari tidak mau keluar, lama sekali. Dukun bayi sudah mengaku pasrah kepada
bapak sambil mengangkat tangan. Sementara ibuk terus membaca sholawat dan
meminta kepada bapak untuk mengikhlaskan. Bapak menangis keras seperti bayi.
“Jangan menangis. Carikan saja aku air zam-zam. Kita lupa, setiap aku
melahirkan, bukankah aku selalu minum air zam-zam terlebih dulu?” kata ibuk
dalam lemah dan kepasrahan totalnya. Bapak, dengan derai air mata di pipinya
langsung berlari ke setiap rumah saudara. Mengetuk satu pintu rumah ke pintu
rumah yang lain. Bapak juga mengerahkan seluruh saudara yang ada di Malang
untuk bergerilya mencari air zam-zam secepatnya. Dan dapat!
Bapak
menyaksikan sendiri ibuk meminum air zam-zam itu. Lalu duduk bersandar dan
melihat ari-ari bayi itu keluar begitu saja. “Mukjizat, Li!” pekik sang Dukun
bayi menyebut nama bapak. Bapak lunglai di bibir ranjang, antara buncah bahagia
dan lelah yang baru dirasakannya.
0 komentar:
Posting Komentar