Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHENAM: BAPAK DAN LIMA KELAHIRAN


Saya ingin sekali, kelak saat saya melahirkan, suami selalu berada di samping saya sampai proses melahirkan selesai. Ingin sekali. Karena saya ingin hubungan saya dan suami semesra hubungan bapak-ibuk. Syukur-syukur kalau bisa lebih dari itu.

Bapak benar-benar suami siaga. Selama lima kali ibuk melahirkan, selama lima kali itu pula bapak menyaksikan prosesnya. Empat kali ibuk melahirkan di rumah. Dibantu dukun bayi yang kemampuan dan peralatannya sudah sangat dipercaya. Setiap ibuk melahirkan, sang dukun selalu menyuruh bapak untuk melihat proses keluarnya bayi itu. “Lihat sini. Biar kamu tahu perjuangannya perempuan. Biar kamu gak semena-mena dan sayang terus sama istri,” kata sang Dukun kepada Bapak. Bahkan, kelahiran bayi keempat di Bidan, bapak memaksa masuk untuk tetap bisa mendampingi ibuk.

Karena itulah, pertama kali suara yang masuk ke liang telinga lima bayi adalah suara adzan bapak. Bayi pertama, lahir di dini hari. Bayi kedua, pas ba’da maghrib di malam maulid Nabi. Bayi ketiga, di tengah malam. Bayi keempat juga malam hari. Bayi kelima ini yang saya belum tahu, karena ia telahir saat saya getol-getolnya menghafalkan tashrifan di sebuah pesantren sederhana di tengah desa. “Mau pulang lihat adik bayi?” kata bapak via telpon waktu itu. “Mboten, Pak. Katdah hafalan,” jawab saya via telepon Pesantren.

Selama ibuk istirahat pasca melahirkan, bapaklah yang menghandle semua pekerjaan rumah. Dari mencuci popok, memasak, menyapu, mengepel, dan merawat ibuk. Ibuk dimintanya untuk benar-benar istirahat, makan yang banyak supaya kembali sehat dan bayi bisa meminum ASI dengan maksimal.

Pada kelahiran kelima, cerita ibuk, hampir saja perjuangannya sampai di situ. Ari-ari tidak mau keluar, lama sekali. Dukun bayi sudah mengaku pasrah kepada bapak sambil mengangkat tangan. Sementara ibuk terus membaca sholawat dan meminta kepada bapak untuk mengikhlaskan. Bapak menangis keras seperti bayi. “Jangan menangis. Carikan saja aku air zam-zam. Kita lupa, setiap aku melahirkan, bukankah aku selalu minum air zam-zam terlebih dulu?” kata ibuk dalam lemah dan kepasrahan totalnya. Bapak, dengan derai air mata di pipinya langsung berlari ke setiap rumah saudara. Mengetuk satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Bapak juga mengerahkan seluruh saudara yang ada di Malang untuk bergerilya mencari air zam-zam secepatnya. Dan dapat!

Bapak menyaksikan sendiri ibuk meminum air zam-zam itu. Lalu duduk bersandar dan melihat ari-ari bayi itu keluar begitu saja. “Mukjizat, Li!” pekik sang Dukun bayi menyebut nama bapak. Bapak lunglai di bibir ranjang, antara buncah bahagia dan lelah yang baru dirasakannya.



 TIGAPULUHENAM: BAPAK DAN LIMA KELAHIRAN
Saya ingin sekali, kelak saat saya melahirkan, suami selalu berada di samping saya sampai proses melahirkan selesai. Ingin sekali. Karena saya ingin hubungan saya dan suami semesra hubungan bapak-ibuk. Syukur-syukur kalau bisa lebih dari itu.
Bapak benar-benar suami siaga. Selama lima kali ibuk melahirkan, selama lima kali itu pula bapak menyaksikan prosesnya. Empat kali ibuk melahirkan di rumah. Dibantu dukun bayi yang kemampuan dan peralatannya sudah sangat dipercaya. Setiap ibuk melahirkan, sang dukun selalu menyuruh bapak untuk melihat proses keluarnya bayi itu. “Lihat sini. Biar kamu tahu perjuangannya perempuan. Biar kamu gak semena-mena dan sayang terus sama istri,” kata sang Dukun kepada Bapak. Bahkan, kelahiran bayi keempat di Bidan, bapak memaksa masuk untuk tetap bisa mendampingi ibuk.
Karena itulah, pertama kali suara yang masuk ke liang telinga lima bayi adalah suara adzan bapak. Bayi pertama, lahir di dini hari. Bayi kedua, pas ba’da maghrib di malam maulid Nabi. Bayi ketiga, di tengah malam. Bayi keempat juga malam hari. Bayi kelima ini yang saya belum tahu, karena ia telahir saat saya getol-getolnya menghafalkan tashrifan di sebuah pesantren sederhana di tengah desa. “Mau pulang lihat adik bayi?” kata bapak via telpon waktu itu. “Mboten, Pak. Katdah hafalan,” jawab saya via telepon Pesantren.
Selama ibuk istirahat pasca melahirkan, bapaklah yang menghandle semua pekerjaan rumah. Dari mencuci popok, memasak, menyapu, mengepel, dan merawat ibuk. Ibuk dimintanya untuk benar-benar istirahat, makan yang banyak supaya kembali sehat dan bayi bisa meminum ASI dengan maksimal.
Pada kelahiran kelima, cerita ibuk, hampir saja perjuangannya sampai di situ. Ari-ari tidak mau keluar, lama sekali. Dukun bayi sudah mengaku pasrah kepada bapak sambil mengangkat tangan. Sementara ibuk terus membaca sholawat dan meminta kepada bapak untuk mengikhlaskan. Bapak menangis keras seperti bayi. “Jangan menangis. Carikan saja aku air zam-zam. Kita lupa, setiap aku melahirkan, bukankah aku selalu minum air zam-zam terlebih dulu?” kata ibuk dalam lemah dan kepasrahan totalnya. Bapak, dengan derai air mata di pipinya langsung berlari ke setiap rumah saudara. Mengetuk satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Bapak juga mengerahkan seluruh saudara yang ada di Malang untuk bergerilya mencari air zam-zam secepatnya. Dan dapat!
Bapak menyaksikan sendiri ibuk meminum air zam-zam itu. Lalu duduk bersandar dan melihat ari-ari bayi itu keluar begitu saja. “Mukjizat, Li!” pekik sang Dukun bayi menyebut nama bapak. Bapak lunglai di bibir ranjang, antara buncah bahagia dan lelah yang baru dirasakannya.



0 komentar:

Posting Komentar