Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHTIGA: BAPAK MENGIKATKAN PERBAN DI KAKIKU


Masa-masa romantisme saya dengan bapak-ibuk adalah justru saat saya mengalami sebuah ujian dari Tuhan, yaitu saat kecelakaan pada tahun 2012. Karena tulang kaki kanan saya yang patah, mengharuskan saya operasi dan berhenti penuh dari segala aktifitas dan kesibukan. Otomatis itu berlaku pula pada bapak dan ibuk, karena mereka berdua selama masa-masa sulit bagi saya itu, selalu mendampingi saya. Berada di sisi saya semenjak munculnya fajar sampai fajar itu kembali muncul di esok hari. Iya, masa-masa itu saya merasa kembali menjadi bayi.

Memang, hanya tulang kaki kanan yang nampak cidera parah, namun ternyata hampir merata di bagian tubuh saya babak belur seperti maling habis digebukin massa. Barangkali karena tubuh saya terlempar ke pagar besi saat motor yang menghantar saya pada kecelakaan itu melejit kencang. Hal itu membuat hampir seluruh tubuh saya terasa linu karena lebam-lebam.

Saya kembali menjadi bayi. Semuanya dilayani. Pertama kali pulang dari rumah sakit, ibuk membawa saya ke kamar mandi dengan kaki berperban. Ibuk memeriksa seluruh bagian tubuh saya. Di situlah kami mulai tahu bahwa banyak bagian tubuh yang lebam. Ibuk mengelap tubuh saya pelan, telaten, dan sambil menangis. Melihat hal itu, kesakitan yang saya rasakan sebatas pada fisik, merembet pada psikis. Saya semakin sedih melihat ibuk sedih karena kondisi saya.

Makan, minum, dan apapun yang saya butuhkan dilayani oleh bapak dan ibuk. Setiap pagi, setelah bapak pelan-pelan membuka perban saya, ibuk akan mengelapnya dengan air hangat sambil meniupnya dan membaca sholawat. Setelah mengipasinya, bapak akan kembali mengangkat pelan kaki kanan saya itu, mengambil perban baru dan mulai melilitkan ke kaki saya dengan pelan. Pelan, telaten, dan teliti sekali bapak saya memasangnya. Jangan sampai saya merasa sakit karena terlalu kencang dan jangan pula saya akan merasa sakit dan lebih membahayakan misalnya perban terpasang kendor. Oleh karena itu, ibuk memilih bapak saja untuk melakukannya.

Begitulah pemandangan yang akan terlihat setiap pagi di rumah paklek saya yang di Solo. Seorang anak di atas ranjang bersama bapak-ibuknya di bawah berdiri dengan lutut sedang melepas-pasang perban anak perawannya.

Memang, karena ujian ini, bapak dan ibuk bisa istirah dari kerja kerasnya di pasar. Beban dagangan yang berat, juga seringkali kurang tidur. Sekarang, untuk sementara bapak dan ibuk bisa tidur dengan normal. Bisa istirahat dari kerja kerasnya. Dan yang terpenting, bisa selalu dekat dengan saya, hal yang telah lama kita lewati karena berpisah jauh. Bisa selalu dekat adalah keinginan bapak-ibuk seperti percakapan pagi via telpon antara saya dan ibuk sebelum saya kecelakaan.

Enggeh, Buk. Sedilut maleh kulo wangsul. Kita mangke ketemu,” jawab saya begitu saja kepada ibuk via telpon, meski sebenarnya saya belum punya rencana pulang. Dan keesokan harinya setelah percakapan itu, kecelakaan itu terjadi. Dan karena itu, saya benar-benar pulang. Pulang dan bertemu bapak-ibuk. Bertemu dalam waktu yang panjang, seperti musim hujan yang jatuhnya telah lama dirindukan.



0 komentar:

Posting Komentar