Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHEMPAT: BAPAK BERTAPA


Saat baru berpindah ke Malang, terutama saat sedang mengandung saya, adalah masa-masa sulit bagi bapak-ibuk. Masa-masa sulit seperti itu semakin sulit dirasakan bapak-ibuk karena cemoohan sebagai orang miskin yang datangnya dari kakak lelaki bapak sendiri. Kakak bapak saat itu memang kaya. Sangat kaya malah, cerita ibuk. Dia termasuk kaum urban yang sukses di kota orang. Maksud beliau berkata begitu, kata ibuk, sesunggunya untuk memotivasi adiknya. “Namun, sepertinya hal itu tertangkap lain di hati bapakmu,” ibuk berasumsi.

Bapak sakit hati, dan di luar dugaan ibuk, bapak melakukan hal yang aneh menurut ibuk. Bapak melakukan tirakat. Bapak melakukan puasa selama empat puluh hari juga sekaligus bertapa. Entah di mana persisnya bapak bertapa, saya lupa bagian cerita yang ini.

Singkat cerita, bapak pulang. Sebelum subuh, seperti biasa ibuk membangunkan bapak untuk sholat berjama’ah. Karena belum punya kamar mandi sendiri, mereka berwudlu di Belek samping Musholla. Belek yang merupakan sumber air dan dipakai oleh masyarakat umum, dini hari itu sangat sepi.

“Dan terjadilah hal itu. Tiba-tiba muncul seorang kakek berbaju putih, membawa tongkat, dengan janggutnya yang panjang,” cerita ibuk. “Larilah kami berdua. Lari pontang-panting.” Dan memang tidak ada yang berubah dengan kondisi ekonomi keluarga waktu itu. Ya karena bapak masih lontang-lantung, belum ada kerja yang jelas.

Mendekati hari kelahiran, ibuk sangat susah. Kebiasaannya membaca sholawat semakin kenceng. Suatu malam, saat bapak dan ibuk menyandarkan badannya di tembok rumah kontrakan yang usang, ibuk mengelus-ngelus perutnya sambil terus ndemimil membaca sholawat, sementara bapak terbengong di sampingnya. Tiba-tiba bapak terkesiap, tubuhnya menegak saat melihat kakek tua berbaju putih dengan janggut panjang itu telah berdiri di depan mereka. Bapak dan ibuk tercekat kaget. Tidak ada yang bisa mereka lakukan waktu itu kecuali duduk dengan tegang. Kakek itu tertawa keras seperti menertawakan dan meledek kesedihan mereka.

“Tiba-tiba kakek itu hilang berbarengan dengan munculnya cahaya yang terbang pelan mengelilingi bapak, lalu berputar lama di atas perut ibuk yang sedang mengandungmu. Lalu ibuk melihat dan merasakan cahaya itu tenggelam ke perut ibuk,” pungkas ibuk dalam klimaks sekaligus ending ceritanya dengan air muka biasa saja.


Ibuk selalu begitu. Barangkali dia tidak tahu, bahwa saat itu juga saya merasa merinding, takut, cemas, juga senang sih. Hihi. Siapa tahu saya memang keberkahan yang ditakdirkan lahir di tengah-tengah keluarga ini. Hahaha.  Siapa tahu lo ya? Sekali lagi, siapa tahu…

0 komentar:

Posting Komentar