Saat
baru berpindah ke Malang, terutama saat sedang mengandung saya, adalah
masa-masa sulit bagi bapak-ibuk. Masa-masa sulit seperti itu semakin sulit
dirasakan bapak-ibuk karena cemoohan sebagai orang miskin yang datangnya dari
kakak lelaki bapak sendiri. Kakak bapak saat itu memang kaya. Sangat kaya
malah, cerita ibuk. Dia termasuk kaum urban yang sukses di kota orang. Maksud
beliau berkata begitu, kata ibuk, sesunggunya untuk memotivasi adiknya. “Namun,
sepertinya hal itu tertangkap lain di hati bapakmu,” ibuk berasumsi.
Bapak
sakit hati, dan di luar dugaan ibuk, bapak melakukan hal yang aneh menurut
ibuk. Bapak melakukan tirakat. Bapak melakukan puasa selama empat puluh hari
juga sekaligus bertapa. Entah di mana persisnya bapak bertapa, saya lupa bagian
cerita yang ini.
Singkat
cerita, bapak pulang. Sebelum subuh, seperti biasa ibuk membangunkan bapak
untuk sholat berjama’ah. Karena belum punya kamar mandi sendiri, mereka
berwudlu di Belek samping Musholla. Belek yang merupakan sumber air dan dipakai
oleh masyarakat umum, dini hari itu sangat sepi.
“Dan
terjadilah hal itu. Tiba-tiba muncul seorang kakek berbaju putih, membawa
tongkat, dengan janggutnya yang panjang,” cerita ibuk. “Larilah kami berdua.
Lari pontang-panting.” Dan memang tidak ada yang berubah dengan kondisi ekonomi
keluarga waktu itu. Ya karena bapak masih lontang-lantung, belum ada kerja yang
jelas.
Mendekati
hari kelahiran, ibuk sangat susah. Kebiasaannya membaca sholawat semakin kenceng.
Suatu malam, saat bapak dan ibuk menyandarkan badannya di tembok rumah
kontrakan yang usang, ibuk mengelus-ngelus perutnya sambil terus ndemimil membaca
sholawat, sementara bapak terbengong di sampingnya. Tiba-tiba bapak terkesiap,
tubuhnya menegak saat melihat kakek tua berbaju putih dengan janggut panjang
itu telah berdiri di depan mereka. Bapak dan ibuk tercekat kaget. Tidak ada
yang bisa mereka lakukan waktu itu kecuali duduk dengan tegang. Kakek itu
tertawa keras seperti menertawakan dan meledek kesedihan mereka.
“Tiba-tiba
kakek itu hilang berbarengan dengan munculnya cahaya yang terbang pelan
mengelilingi bapak, lalu berputar lama di atas perut ibuk yang sedang mengandungmu.
Lalu ibuk melihat dan merasakan cahaya itu tenggelam ke perut ibuk,” pungkas
ibuk dalam klimaks sekaligus ending ceritanya dengan air muka biasa saja.
Ibuk
selalu begitu. Barangkali dia tidak tahu, bahwa saat itu juga saya merasa
merinding, takut, cemas, juga senang sih. Hihi. Siapa tahu saya memang
keberkahan yang ditakdirkan lahir di tengah-tengah keluarga ini. Hahaha. Siapa tahu lo ya? Sekali lagi, siapa tahu…
0 komentar:
Posting Komentar