Senin, 18 Juli 2016

TIGAPULUHDUA: CEMBURU KEPADA BAPAK


Ibuk pernah bercerita kalau saya itu pencemburu tingkat dewa. Semasa kecil, saya pernah memecahkan mangkok milik tukang bakso dorong yang setiap sore mangkal di depan rumah. Kata ibuk, karena saya melihat ibuk dan bebek (cara membaca ‘e’nya seperti huruf vokal ‘e’. Panggilan khas Madura untuk bibik, bulek, dan bude) saya mengobrol dan terbahak bersama tukang bakso itu. Puncaknya, saat si tukang bakso bertanya kepada saya, “Nduk, ibue oleh a tak eppek?”  Kontan saya melotot, tanpa menjawab pertanyaan itu, saya mengambil susunan mangkok milik si tukang bakso dan langsung membantingnya. “Wah… ibuk jadi harus cari utangan untuk mengganti mangkoknya tukang bakso. Padahal mase yo mek guyon, tapi Samean iso kalap koyok ngono,” terang ibuk. Saya langsung ngakak diceritai seperti itu.

“Adalagi saudara lelaki ibuk yang sangat kamu cemburui. Namanya Besrawi. Samean ingat?,” tanya ibuk. Saya mengangguk. Samar-samar, saya juga ingat, saat saya menangis geroh-geroh sambil melempari batu kepada lelaki yang sedang menyengaja merayu ibuk karena kecemburuan saya. Hahaha ternyata saya parah dan ada benih anarkisnya juga. Wkwk.

“Bapakmu cerita kepada ibuk, katanya kamu juga cemburu pada saudara perempuan jauhnya bapak ya?” saya ngakak ibuk bertanya seperti itu. Mengingatkan saya pada perjalanan pulang ke Madura bersama bapak. Waktu itu kami berangkat berombongan satu mobil dengan keluarga kakaknya bapak, keluarga Pakde Hosen. Saat di Kapal Feri, seorang penjual nasi asongan menyapa bapak. Lipstiknya merah dan menor menurut saya yang masih kecil waktu itu. Perempuan itu ramah sekali, tapi dalam pandangan masa kecil saya, sikapnya centil dan menggoda.

“Bapak!” dari kaca mobil saya melotot ke arah bapak.

Bapak hanya menoleh sebentar dan kembali mengobrol dengan perempuan berlipstik menor itu.

“Bapak!” kembali saya menjerit memanggil bapak sambil melempar sapu tangan yang dibawakan ibuk dari rumah.

Bapak menoleh lagi. Mengambilkan sapu tangan, memberikannya kepada saya lewat kaca mobil dan kembali lagi asik mengobrol dengan perempuan menor itu.

Sambil ketawa menggoda, perempuan itu menunjuk ke arah saya, “Itu anakmu Kak?” katanya.

Bapak mengiyakan, saya melengos pada perempuan berlipstik menor itu. Lalu bapak kembali asik mengobrol lagi. Di sinilah saya merasa diduakan. Karena panas di dada yang menggelagak, saya mulai berani mengeluarkan tubuh saya dari kaca mobil. Berjinjit ke arah bapak yang sedang mengobrol dengan perempuan berlipstik menor itu. Perempuan itu tersenyum sok ramah. Kaki saya semakin berjinjit. Dan saat tangan saya udah sampai di pundak bapak, saya melepas dengan kasar topi dari kepala bapak dan dengan gesit melemparkannya ke laut. Bapak kaget. Perempuan itu juga kaget. Topi bapak telah mengambang di atas permukaan laut. Sebelum bapak mengatakan apa-apa, saya sudah berteriak sambil menangis, “Samean tak kandakno nang ibuk!”

Di situlah bapak baru menyadari sifat cemburuan saya sedang kambuh. Setelah menenangkan saya yang menangis dan memberi pengertian, bapak kembali kepada perempuan itu. Saya lihat bapak mengatakan sesuatu tentang saya sehingga perempuan itu menoleh ke arah saya lalu tertawa. Saya pelototin perempuan itu.

Lalu keduanya, bapak dan perempuan itu sama-sama menoleh ke arah saya. Saya melengos keras!


0 komentar:

Posting Komentar