Ibuk
pernah bercerita kalau saya itu pencemburu tingkat dewa. Semasa kecil, saya
pernah memecahkan mangkok milik tukang bakso dorong yang setiap sore mangkal di
depan rumah. Kata ibuk, karena saya melihat ibuk dan bebek (cara membaca ‘e’nya
seperti huruf vokal ‘e’. Panggilan khas Madura untuk bibik, bulek, dan bude)
saya mengobrol dan terbahak bersama tukang bakso itu. Puncaknya, saat si tukang
bakso bertanya kepada saya, “Nduk, ibue oleh a tak eppek?” Kontan saya melotot, tanpa menjawab
pertanyaan itu, saya mengambil susunan mangkok milik si tukang bakso dan
langsung membantingnya. “Wah… ibuk jadi harus cari utangan untuk mengganti mangkoknya
tukang bakso. Padahal mase yo mek guyon, tapi Samean iso kalap koyok ngono,”
terang ibuk. Saya langsung ngakak diceritai seperti itu.
“Adalagi
saudara lelaki ibuk yang sangat kamu cemburui. Namanya Besrawi. Samean ingat?,”
tanya ibuk. Saya mengangguk. Samar-samar, saya juga ingat, saat saya menangis geroh-geroh
sambil melempari batu kepada lelaki yang sedang menyengaja merayu ibuk karena
kecemburuan saya. Hahaha ternyata saya parah dan ada benih anarkisnya juga.
Wkwk.
“Bapakmu
cerita kepada ibuk, katanya kamu juga cemburu pada saudara perempuan jauhnya
bapak ya?” saya ngakak ibuk bertanya seperti itu. Mengingatkan saya pada
perjalanan pulang ke Madura bersama bapak. Waktu itu kami berangkat berombongan
satu mobil dengan keluarga kakaknya bapak, keluarga Pakde Hosen. Saat di Kapal
Feri, seorang penjual nasi asongan menyapa bapak. Lipstiknya merah dan menor
menurut saya yang masih kecil waktu itu. Perempuan itu ramah sekali, tapi dalam
pandangan masa kecil saya, sikapnya centil dan menggoda.
“Bapak!”
dari kaca mobil saya melotot ke arah bapak.
Bapak
hanya menoleh sebentar dan kembali mengobrol dengan perempuan berlipstik menor
itu.
“Bapak!”
kembali saya menjerit memanggil bapak sambil melempar sapu tangan yang
dibawakan ibuk dari rumah.
Bapak
menoleh lagi. Mengambilkan sapu tangan, memberikannya kepada saya lewat kaca
mobil dan kembali lagi asik mengobrol dengan perempuan menor itu.
Sambil
ketawa menggoda, perempuan itu menunjuk ke arah saya, “Itu anakmu Kak?”
katanya.
Bapak
mengiyakan, saya melengos pada perempuan berlipstik menor itu. Lalu bapak
kembali asik mengobrol lagi. Di sinilah saya merasa diduakan. Karena panas di
dada yang menggelagak, saya mulai berani mengeluarkan tubuh saya dari kaca
mobil. Berjinjit ke arah bapak yang sedang mengobrol dengan perempuan
berlipstik menor itu. Perempuan itu tersenyum sok ramah. Kaki saya semakin
berjinjit. Dan saat tangan saya udah sampai di pundak bapak, saya melepas dengan
kasar topi dari kepala bapak dan dengan gesit melemparkannya ke laut. Bapak kaget.
Perempuan itu juga kaget. Topi bapak telah mengambang di atas permukaan laut. Sebelum
bapak mengatakan apa-apa, saya sudah berteriak sambil menangis, “Samean tak
kandakno nang ibuk!”
Di
situlah bapak baru menyadari sifat cemburuan saya sedang kambuh. Setelah
menenangkan saya yang menangis dan memberi pengertian, bapak kembali kepada
perempuan itu. Saya lihat bapak mengatakan sesuatu tentang saya sehingga
perempuan itu menoleh ke arah saya lalu tertawa. Saya pelototin perempuan itu.
Lalu
keduanya, bapak dan perempuan itu sama-sama menoleh ke arah saya. Saya melengos
keras!
0 komentar:
Posting Komentar