Senin, 18 Juli 2016

DUAPULUHENAM: BERJUANG SEMENJAK BAYI BERSAMA BAPAK-IBUK


Miturut cerita orang di Desa, masa muda bapak saya adalah masa muda yang gemilang. Karena tipikal pemuda yang gigih dan tekun bekerja, bapak telah memiliki mobil di masa mudanya. Satu-satunya mobil yang dimiliki oleh seorang pemuda desa itu di zamannya. Ibuk saya, pada zaman itu adalah satu-satunya perempuan yang mampu membeli bedak dan hand body lotion. Ya, ibuk saya adalah anak seorang juragan besi yang sering pulang-pergi Madura-Solo dengan mobil pribadi. Saya taksir-taksir, kegigihan bapak bekerja dan membeli mobil adalah untuk menaikkan gengsi pada orangtua gadis yang dicintainya.

“Begitulah masa muda bapak. Saat pemuda lain disibukkan dengan tanah di sawah, bapak sudah bisa melancong ke Malaysia,” cerita bapak suatu ketika. Bapak melanjutkan, “Barangkali karena sudah kaya di masa muda, bapakmu ini sudah tidak bisa kaya di masa tua. Terutama masa-masa pengantin baru dan masa kamu selagi bayi.”

Lalu ibuk berganti mengambil alih, menceritakan masa-masa sulit di awal berurbanisasi dari Madura ke Malang. Dan masa itu adalah masa saya selagi bayi. Ibuk menceritakan, jam tiga dini hari, sambil menggendong saya yang tidur di gendongan, ibuk berlari-lari mengejar truck pengangkut dagangan dari desa. Ibuk berebut dagangan dengan para calon penjual lainnya. Halimah si bayi mungil itu pun ikut terhuyung-huyung dalam buaian.

Bapak menyebut nama seorang perempuan, yang seringkali menggendong saya di Pasar saat bapak dan ibuk sedang repot mengurusi dagangan. “Kamu itu, kecilnya hidup di jalanan, di pinggir-pinggir pasar. Sedari kecil, kamu itu sudah kami ajak sengsara,” ibuk mengambil alih lagi, “Kamu kami tidurkan di atas jagung, kadang kacang, kadang juga ubi-ubian. Kalau hujan, kamu itu ditutupi plastik,” lanjut ibuk sambil memotong-motong sayuran. Tidak ada kesedihan di wajahnya saat mengulang perjuangan itu, barangkali karena terlampau banyak ujian Tuhan yang menghampirinya. Sedang bapak, hanya tersenyum kecil melihat saya mendapati kenyataan masa kecil yang memprihatinkan. Maklum, saya tumbuh di tengah kota, terurus dengan benar, rajin dan disiplin. Saya semakin memahami, mengapa masa kecil saya berbeda dengan teman-teman lain dimana kami sama-sama tumbuh di tengah kota. Saya paham, semenjak kecil, bapak-ibuk telah membekali saya berbagai skill menghadapi kehidupan. Segala skill. Skill domestik, skill publik, kesadaran bermasyarakat yang heterogen, dan terutama kesadaran sebagai seorang muslimah terlebih sebagai perempuan Timur yang beradat-istiadat.


“Oh ya, sewaktu kamu mulai bisa merangkak, kamu hampir di tabrak truk yang baru saja datang dari desa. Truk pengangkut segala jenis sayuran,” kata ibuk lagi, dan dengan raut wajah biasa juga. Hahaha. Padahal, saya sudah syok, mengimajinasikan seorang bayi yang kehidupannya dilalui di tengah hiruk-pikuk pasar, di tengah malam yang dingin menggigit, tidak kenal panas, tidak kenal hujan. Lalu pada suatu malam bayi itu merangkak dan hampir ditabrak truck. Ya Tuhan, semoga bayi itu, kelak dapat membayar semua perjuangan bapak-ibuknya. Aamiin… Ud’uunii Astajib Lakum[]

0 komentar:

Posting Komentar