Clurit
dan carokan, tidak bisa lepas dari kesan masyarakat Madura. Ya sebagaimana
sate, tukang cukur rambut, dan pedagang besi. Di rumah saya, tepat di belakang
pintu kamar, ada celurit menggantung. Saya juga tahu kalau bapak punya semacam
keris dalam ukuran sangat kecil. Semasa saya kecil, saya sering menyaksikan
setiap malam jum’at bapak akan memandikan kerisnya dengan asap dupa Arab. Kata
ibuk, bapak pernah sakit karena lupa tidak memandikan kerisnya itu. Apakah
kebiasaan itu masih dilakukan bapak sampai sekarang, saya kurang tahu.
Lalu,
apa hubungannya clurit dan segala yang di atas dengan cerita bapak belajar
agama di penjara?
Begini
ceritanya:
Cerita
ini saya dapatkan dari ibuk juga sepotong-sepotong dari bapak. Sudah lama
sekali saya mendengarnya. Kalau tidak banyak lupanya, kejadiannya seperti ini: Menurut
saya, mayoritas masyarakat Madura sangat patriarkhis. Tapi, kalau urusan
kehormatan perempuan terutama kehormatan seorang istri, adalah hal mutlak yang
harus dijaga oleh semua masyarakat desa terutama suami dan keluarga besarnya.
Secuil saja istri seseorang diganggu, maka clurit dan carok adalah harga mati.
Begitulah,
suatu kali istri kakaknya bapak dilecehkan oleh lanceng desa lain. Hal
itu diutarakannya kepada keluarga besarnya termasuk bapak. Semua tidak terima,
hingga datanglah peristiwa itu. Peristiwa saat bapak bersama para keluarga
lelakinya menemu lanceng desa lain itu. Carokan tidak bisa dihindari.
Dalam carokan itu, bapak terkena sabit di punggung. Tapi kemenangan tetap milik
keluarga seorang istri yang mendapatkan pelecehan seksual. Sang pelaku mati
tersabit.
Polisi
mengendus kejadian itu. Singkatnya, kakak bapak yang berhasil membunuh korban
harus cuci tangan. Itu permintaan bapak, mengingat istri kakaknya tengah hamil
besar, sementar bapak masih lanceng (perjaka) dan belum memiliki
tanggungjawab keluarga. Demi menghormati perempuan yang tengah hamil, bapak
menyerahkan dirinya untuk dijebloskan ke penjara.
Di
balik jeruji besi itulah bapak bertemu seorang ulama yang mumpuni, dan kepadanyalah
bapak berguru. Tapi bapak tidak pernah membuka rahasianya terkait siapa
sesungguhnya ulama itu. Bapak termasuk pemuda yang haus pada ilmu. Bagaimanapun
bapak adalah santri dan pernah menghabiskan masa mudanya di Pesantren Pakong
Madura. Juga seorang Qori’ handal yang menjadi andalan kecamatannya.
Menurut
cerita, beberapa kali bapak dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya
karena selalu gelut dengan narapidana yang lain, bahkan polisi penjaga
yang menurut bakat telah berlaku nakal dan tidak adil. Saya pernah menangkap
kritik pedas bapak pada para polisi dan penjaga penjara. “Dari dulu, banyak
polisi yang memang sudah bermasalah. Dia berpihak pada siapa yang punya uang
banyak.! Pada siapa yang punya rokok tebel!” cerita bapak bersungut-sungut.
“Karena
bapak bisa mengaji, akhirnya bapak diangkat menjadi takmir,” terang bapak. “Ya
mulai dari membersihkan musholla, mengimami, mengajar ngaji para napi yang
lain, mengajari qiro’ah,” lanjut bapak saat saya tanya apa saja pekerjaannya
sebagai takmir di Penjara. “Jadi takmir lebih enak, tidak perlu kerja membuat
ketrampilan, dan yang penting rokok bisa nyala terus.”
Mendengar cerita itu, saya
merasa melihat sisi lain dari bapak. Sekaligus seorang pemuda yang telah banyak
makan garam kehidupan. “Senakal apapun bapak dulu, yang penting bapak manut poro
ulama!” bapak mengakhiri ceritanya.
0 komentar:
Posting Komentar