Sabtu, 04 Juni 2016

TIGAPULUHLIMA: BAPAK BELAJAR AGAMA DI PENJARA


Clurit dan carokan, tidak bisa lepas dari kesan masyarakat Madura. Ya sebagaimana sate, tukang cukur rambut, dan pedagang besi. Di rumah saya, tepat di belakang pintu kamar, ada celurit menggantung. Saya juga tahu kalau bapak punya semacam keris dalam ukuran sangat kecil. Semasa saya kecil, saya sering menyaksikan setiap malam jum’at bapak akan memandikan kerisnya dengan asap dupa Arab. Kata ibuk, bapak pernah sakit karena lupa tidak memandikan kerisnya itu. Apakah kebiasaan itu masih dilakukan bapak sampai sekarang, saya kurang tahu.

Lalu, apa hubungannya clurit dan segala yang di atas dengan cerita bapak belajar agama di penjara?
Begini ceritanya:

Cerita ini saya dapatkan dari ibuk juga sepotong-sepotong dari bapak. Sudah lama sekali saya mendengarnya. Kalau tidak banyak lupanya, kejadiannya seperti ini: Menurut saya, mayoritas masyarakat Madura sangat patriarkhis. Tapi, kalau urusan kehormatan perempuan terutama kehormatan seorang istri, adalah hal mutlak yang harus dijaga oleh semua masyarakat desa terutama suami dan keluarga besarnya. Secuil saja istri seseorang diganggu, maka clurit dan carok adalah harga mati.

Begitulah, suatu kali istri kakaknya bapak dilecehkan oleh lanceng desa lain. Hal itu diutarakannya kepada keluarga besarnya termasuk bapak. Semua tidak terima, hingga datanglah peristiwa itu. Peristiwa saat bapak bersama para keluarga lelakinya menemu lanceng desa lain itu. Carokan tidak bisa dihindari. Dalam carokan itu, bapak terkena sabit di punggung. Tapi kemenangan tetap milik keluarga seorang istri yang mendapatkan pelecehan seksual. Sang pelaku mati tersabit.

Polisi mengendus kejadian itu. Singkatnya, kakak bapak yang berhasil membunuh korban harus cuci tangan. Itu permintaan bapak, mengingat istri kakaknya tengah hamil besar, sementar bapak masih lanceng (perjaka) dan belum memiliki tanggungjawab keluarga. Demi menghormati perempuan yang tengah hamil, bapak menyerahkan dirinya untuk dijebloskan ke penjara.

Di balik jeruji besi itulah bapak bertemu seorang ulama yang mumpuni, dan kepadanyalah bapak berguru. Tapi bapak tidak pernah membuka rahasianya terkait siapa sesungguhnya ulama itu. Bapak termasuk pemuda yang haus pada ilmu. Bagaimanapun bapak adalah santri dan pernah menghabiskan masa mudanya di Pesantren Pakong Madura. Juga seorang Qori’ handal yang menjadi andalan kecamatannya.

Menurut cerita, beberapa kali bapak dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya karena selalu gelut dengan narapidana yang lain, bahkan polisi penjaga yang menurut bakat telah berlaku nakal dan tidak adil. Saya pernah menangkap kritik pedas bapak pada para polisi dan penjaga penjara. “Dari dulu, banyak polisi yang memang sudah bermasalah. Dia berpihak pada siapa yang punya uang banyak.! Pada siapa yang punya rokok tebel!” cerita bapak bersungut-sungut.

“Karena bapak bisa mengaji, akhirnya bapak diangkat menjadi takmir,” terang bapak. “Ya mulai dari membersihkan musholla, mengimami, mengajar ngaji para napi yang lain, mengajari qiro’ah,” lanjut bapak saat saya tanya apa saja pekerjaannya sebagai takmir di Penjara. “Jadi takmir lebih enak, tidak perlu kerja membuat ketrampilan, dan yang penting rokok bisa nyala terus.”

Mendengar cerita itu, saya merasa melihat sisi lain dari bapak. Sekaligus seorang pemuda yang telah banyak makan garam kehidupan. “Senakal apapun bapak dulu, yang penting bapak manut poro ulama!” bapak mengakhiri ceritanya.







0 komentar:

Posting Komentar