Selasa, 12 Januari 2016

MULUTAN DI MADURA

Tiga kali ini saya merayakan Maulid Nabi di Madura. Tradisi perayaannya ramai sekali. Menyenangkan, khususnya bagi anak-anak.Di Langgaar setiap rumah, telah menyediakan gunungan aneka ragam bebuahan. Setelah ritual berdoa dan sholawatan selesai, tanpa dikomando, anak-anak akan berebut buah-buahan itu. Hahaha. Ramai dan seru deh. Hal itu akan terulang di rumah berikutnya, bergantian, bergiliran. Semua laki-laki di tiap rumah, hampir diwajibkan keluar untuk mengikuti "kaoenjengan" ini.

Ada yang mengejutkan saya pada mulutan kali ini. Saya menjumpai dua sampai tiga anak perempuan yang ikut serta di antara gerombolan anak lelaki. Saya lihat mereka membawa keresek sambil bergandengan tangan. Sedang bibir mereka, tak lepas dari menyunggingkan senyum. Senyum khas anaka-anak.... Ah... andai masa kanak saya dulu merasai bagaimana sensasi berebut buah. Belum lagi perasaan senang karena ditunggu para perempuan ang --seperti ibu, mbah ummik, dan para bulek di rumah--yang tengah penasaran buah apa yang berhasil kami rebut. Ditambah hujan pujian yang akan saya dapati saat buah perolehan saya banyak dan terutama mendapatkan buah yang mahal-mahal harganya. Kamu pasti tahu, kalau anak-anak itu suka dipuji.hehe. Andai saja.....

Ah, Madura... harus menyiapkan waktu yang banyak untuk menceritakanmu. Bagaimanapun, darimulah aku lahir. Padamu, sejarah masa kanakku turut terbentuk. Kau adalah kebahagiaan sekaligus kesedihanku. Kau, Madura! Ya, Kaulah semuanya!!!

0 komentar:

Posting Komentar