DARI MADURA KE GUBENG
Tanggal 30 Desember 2015, saya berpamitan kepada ibuk. Saya sungkem tangannya, ngesun pipi kanan dan kirinya, lalu bergantian, ibu juga ngesun pipi kanan dan kiri saya. Saya berpamitan juga pada mbah ummik. Dan Luqman, si bungsu, juga menyalimi tangan saya.
Bersama bapak, saya meninggalkan ibuk yang sesungguhnya, masih belum usai menyimpan rindu pada saya. Saya pun begitu. Tidak seperti biasanya keluar Jembatan Suramadu dengan bus, kami diantar mobil avanza langsung ke Stasiun Gubeng Lama. Harganya lumayan murah ketimbang naik bis dan harus oper TSI (apa SIT ya?, lupa, yang jelas angkutan kota Surabaya) menuju stasiun.
Saya dan bapak berkesempatan mengobrol berdua di depan Stasiun Gubeng Lama. Bapak nampak menikmati pengalaman barunya ini. Pandangannya menyusuri bangunan stasiun, jalanannya, juga para penjual yang rata-rata adalah orang Madura. Di samping saya, bapak juga mengobrol dengan beberapa remaja memakai bahasa Indonesia. Lama-lama, setelah bapak tahu mereka dari Madura dan sedang menunggu jadwal kereta menuju Malang, bapak langsung beralih ke bahasa lokalnya, Madura. hahaha, saya ketawa saja. Saya lihat, bapak memang gemar mengobrol dengan orang baru, entah lebih tua atau muda. Sepertinya, mengobrol adalah kemewahan tersendiri bagi bapak saya, sosok bijak yang sederhana itu.
Setelah lama menunggu Hanif, teman saya yang asli Gresik itu, saya berpamitan pada bapak. Seperti biasa, saya telah bersiap dengan wejangan-wejangan beliau sebelum kami berpisah. Wejangan beliau kali ini adalah: Ingat, hati-hati kalau ngomong dengan orang. Jangan sampai tanpa sengaja kamu menyakiti hati orang lain. Saya mengangguk dan menjawab sesantun mungkin.
MERAMBAT KE TIMUR DENGAN SRITANJUNG
Karena bertepatan tahun baru, Maulid Nabi, Natal, dan libur panjang, saya tidak bisa memilih tiket dalam satu gerbong dengan Hanif. Namun beruntung sekali masih tersisa tujuh kursi menuju Banyuwangi. Saya di Gerbong Tiga, Hanif di Gerbong Lima. hahaha Akhirnya kami mengobrol via BB, sms, atau WA. Meski sesampainya di Sekretariat Fasilitator nanti, Hanif berpamer: Aku satu kereta dengan Halimah, lo... kakakak!.Saya iyakan, sambil menjelaskan, saya gerbong berapa dan Hanif gerbong berapa. Sontak semua fasilitator yang rata-rata lelaki itu ngakak tak henti-henti.
Selama di Kereta, tidak ada yang spesial. Saya hanya ingat, saya mengalah berpindah tempat duduk agar pasangan ibu-anak bisa duduk bersebelahan. Ini kasusnya sama dengan tiket pesanan saya. Tidak tega membiarkan seorang anak SD mesti duduk berjauhan dengan ibunya, saya yang single, mencangklong tas, dan berpindah.
Beranjak surub hari, saya mengirim pesan ke Hanif. Janjian bertemu di Gerbong Resto. Sambil memesan dua cup popmie, kami mengobrol. Saya memilih menjadi pendengar cerita Hanif dan Gresik Tripnya. Sebuah komunitas yang dikelolanya selepas boyong dari Jogja. Saya kagum sama teman saya yang celeleannya kembar siam dengan saya ini. hahaha. Selain punya daya hidup untuk menghidupkan tradisi dan kekayaan alam Gresik lewat komunitas yang lahir dari inisiasinya sendiri, dia juga mampu merangkul komunitas-komunitas lainnya. Keren untukmu, Cing!. Lalu, saya dilamar untuk mengisi workshop menulis cerpen di Gresik. klepek-klepek...
Kami sampai di Banyuwangi lebih awal dari jadwal yang tertera di tiket. Akhirnya, sambil menunggu jemputan oleh panitia, kami jeprat-jepret di depan Stasiun Kalisetail. Pret.. klik... pret... klik... begitulah ya, pokoknya. Gaya saya ya gitu-gitu aja, apalagi Hanif. Kamu yang kenal, pastilah tahu gaya kakunya itu. kakakakak!
SELAMAT DATANG DI BLOKAGUNG!
SELAMAT DATANG DI BLOKAGUNG!
Empat hari. Bayangannya lama... sekali. Eh, tahu-tahu sudah malam terakhir saja. Sebelumnya, saya ceritakan gambaran singkat perharinya, yak.
Hari pertama, merupakan hari yang spesial bagi saya. Iyalah.... saya dapat banyak hujanan puisi dari Pak D.Zawawi, Kiai penyair asal Sumenep ini. Apalagi, isi ceramah beliau di sela-sela pembacaan puisinya, berkali-kali menyebut nama Halimah, ibu susuan Nabi. yah.. kamu pasti bisa membayangkanlah... gimana panitia dan fasilitator menyuit-nyuitin saya karena nama saya disebut-sebut. Hah.. sudah biasa.. tapi seru untuk rame-ramean kekekek!. Hah... intinya... Akhir tahun yang spesial untuk seorang Halimah Garnasih! ihirrrrrr
Hari kedua, saya merasa lelah sekali. Siangnya, saat perjalanan menuju Kebun Kopi, saya nggelundung. Haha... untung saja, seorang peserta lelaki sigap menangkap tangan saya. Ciee.... (aman kok, aman. dia terlalu brondong untuk saya yang sudah umuran tante-tante) Namun kelelahan demi kelelahan, bisa kami lewati dengan edian dan ngakak-ngakak tak kunjung lelah....Ya, bagaimana lagi, kami adalah komplotan manusia edian.
Memasuki hari ketiga..... (backsound suara guntur), saya, Junaidi, dan Surur, si Supir Pesantren menuju Pulau Merah untuk kali keduanya. Setelah berjuang melewati kemacetan, melobi pengelola Wisata PM untuk Dispensasi Biaya Retribusi, foto-foto lagi di Pantai, bingung mencari ATM dan toko buku untuk membeli sertifikat, kami akhirnya tersesat! tersesat ke hutan-hutan dan pekuburan. Oh, My God, No! (Akan ada tulisan khusus menceritakan perjalanan ini). Sekitar pukul 21.00 kami baru sampai lagi di Sekretariat.
Hari keempat, tetap gokil abizz... Sungguh, memiliki teman sebagaimana para fasilitator Matapena yang gila abiz itu, adalah kemewahan tersendiri bagi saya! Padahal, ada sedikit insiden kecil terjadi di hari ke empat ini. Setelah saya selesai meluapkan kemarahan, teman-teman memutar tombol di belakang punggung saya, lalu ngakak lagilah saya! (emang robot, pakai diputar segala?) hahaha
Yap, begitulah. .....
Hari kedua, saya merasa lelah sekali. Siangnya, saat perjalanan menuju Kebun Kopi, saya nggelundung. Haha... untung saja, seorang peserta lelaki sigap menangkap tangan saya. Ciee.... (aman kok, aman. dia terlalu brondong untuk saya yang sudah umuran tante-tante) Namun kelelahan demi kelelahan, bisa kami lewati dengan edian dan ngakak-ngakak tak kunjung lelah....Ya, bagaimana lagi, kami adalah komplotan manusia edian.
Memasuki hari ketiga..... (backsound suara guntur), saya, Junaidi, dan Surur, si Supir Pesantren menuju Pulau Merah untuk kali keduanya. Setelah berjuang melewati kemacetan, melobi pengelola Wisata PM untuk Dispensasi Biaya Retribusi, foto-foto lagi di Pantai, bingung mencari ATM dan toko buku untuk membeli sertifikat, kami akhirnya tersesat! tersesat ke hutan-hutan dan pekuburan. Oh, My God, No! (Akan ada tulisan khusus menceritakan perjalanan ini). Sekitar pukul 21.00 kami baru sampai lagi di Sekretariat.
Hari keempat, tetap gokil abizz... Sungguh, memiliki teman sebagaimana para fasilitator Matapena yang gila abiz itu, adalah kemewahan tersendiri bagi saya! Padahal, ada sedikit insiden kecil terjadi di hari ke empat ini. Setelah saya selesai meluapkan kemarahan, teman-teman memutar tombol di belakang punggung saya, lalu ngakak lagilah saya! (emang robot, pakai diputar segala?) hahaha
Yap, begitulah. .....
Insiden apakah yang dimaksud mbak? hhhh
BalasHapushahaha... insiden yang membuat peserta laki-laki harus turun dari truck. hihihi
BalasHapus