Pertama kali
melihat Ra Faizi di PPRU I Ganjaran Gondanglegi Malang, tepatnya saat acara
LSdP#12, saya merasa menemukan sosok kiai dan penyair yang langka. Sosok kiai
dan penyair yang berkilau kepandaian di bidangnya itu, terbalut dengan sikap
yang sangat rendah hati. Saya maklum, beliau adalah dari segelintir kiai dan
penyair yang tidak terkontaminasi pongahnya dunia apalagi di zaman ini. Beliau
dibentuk, terbentuk, dan membentuk dirinya dari dan oleh kenaturalan alam di Desanya. Saya
percaya, orang yang kehidupannya dekat dengan alam dan mampu menghayatinya,
jalan menjadi yang murni sebagaimana sejatinya kemurnian manusia mudah
tercapai.
Kesan pertama saya tentang beliau, teramini oleh celetukan dua guru yang menjadi idola saya karena kepandaian, kemanfa’atan, dan kerendah hatian keduanya. Beliau berdua memandang Ra Faizi sebagai sosok manusia sebagaimana kesan pertama saya melihatnya dan merasakan auranya. Maka, saya semakin yakin.
Tahun 2015 kemarin, saat mendekati acara LSdP#13 di Banyuwangi, saya mulai berkontak dengan beliau, Ra Faizi. Dan selama saya berkontak dengan beliau baik via SMS ataupun Email, sikap kerendah hatian itu tetap memancar. Oleh karena itu, untuk pembelajaran dan pengingat bagi saya supaya terus menuju manusia yang rendah hati, saya alihkan percakapan dari Ra Faizi yang terkirim di inbox sms saya ketulisan ini. Semoga menjadi jalan ngalap barokahnya juga. Aamiin.
Berikut ini sebagian kecil sms beliau yang masih sengaja saya simpan untuk ditulis ulang. Saya ketik sama persis bahkan titiknya, tanpa tambahan apalagi pengurangan:
Saat saya bertanya alamat email untuk mengirim TOR dan surat undangan. Cepat terbalas:
Ini sabajarin @gmail.com (24/12/2015. 14.33.14)
Pertanyaan yang cair dari beliau:
Eh, saya mau ngapain di acara LSDP? Bingung, saya bukan aktor. Masa mau disuruh berdoa? (25/12/2015. 08.52.28)
Setelah saya posting di facebook tentang keberadaan saya di Madura. Beliau bertanya dan sms:
Mari ke sini. (29/12/2015. 11.09.50)
Kesan pertama saya tentang beliau, teramini oleh celetukan dua guru yang menjadi idola saya karena kepandaian, kemanfa’atan, dan kerendah hatian keduanya. Beliau berdua memandang Ra Faizi sebagai sosok manusia sebagaimana kesan pertama saya melihatnya dan merasakan auranya. Maka, saya semakin yakin.
Tahun 2015 kemarin, saat mendekati acara LSdP#13 di Banyuwangi, saya mulai berkontak dengan beliau, Ra Faizi. Dan selama saya berkontak dengan beliau baik via SMS ataupun Email, sikap kerendah hatian itu tetap memancar. Oleh karena itu, untuk pembelajaran dan pengingat bagi saya supaya terus menuju manusia yang rendah hati, saya alihkan percakapan dari Ra Faizi yang terkirim di inbox sms saya ketulisan ini. Semoga menjadi jalan ngalap barokahnya juga. Aamiin.
Berikut ini sebagian kecil sms beliau yang masih sengaja saya simpan untuk ditulis ulang. Saya ketik sama persis bahkan titiknya, tanpa tambahan apalagi pengurangan:
Saat saya bertanya alamat email untuk mengirim TOR dan surat undangan. Cepat terbalas:
Ini sabajarin @gmail.com (24/12/2015. 14.33.14)
Pertanyaan yang cair dari beliau:
Eh, saya mau ngapain di acara LSDP? Bingung, saya bukan aktor. Masa mau disuruh berdoa? (25/12/2015. 08.52.28)
Setelah saya posting di facebook tentang keberadaan saya di Madura. Beliau bertanya dan sms:
Mari ke sini. (29/12/2015. 11.09.50)
Saat saya
tanya mau dijemput dimana dan jam berapa:
Saya ngebis. Anda cukup duduk manis saja. Saya nanti datang sendiri. Tenang saja. (29/12/2015. 11.11.40)
Saat saya pastikan bahwa ada tim panitia yang akan menjemput:
Nggak usah. Saya terbiasa opar oper naik angkutan begitu (supaya jadi catatan perjalanan). Hehe. Anda dulu mondok di PPRU? (29/12/2015. 11.16.20)
Saat saya berterimakasih karena beliau sudah berkenan mengisi LSdP, jauh-jauh dari Sumenep-Banyuwangi:
Iya. Saya senang. Saya buru-buru karena kejar tayang. Saya sudah nulis catatan perjalanan di facebook pagi ini. (06.12.31)
Pengalaman berkontak dengan calon pemateri, beliau paling tidak ribet dan paling tidak banyak permintaan. Dan memudahkan kerja saya tentunya. Mator Seklangkong, Ra J
Saya ngebis. Anda cukup duduk manis saja. Saya nanti datang sendiri. Tenang saja. (29/12/2015. 11.11.40)
Saat saya pastikan bahwa ada tim panitia yang akan menjemput:
Nggak usah. Saya terbiasa opar oper naik angkutan begitu (supaya jadi catatan perjalanan). Hehe. Anda dulu mondok di PPRU? (29/12/2015. 11.16.20)
Saat saya berterimakasih karena beliau sudah berkenan mengisi LSdP, jauh-jauh dari Sumenep-Banyuwangi:
Iya. Saya senang. Saya buru-buru karena kejar tayang. Saya sudah nulis catatan perjalanan di facebook pagi ini. (06.12.31)
Pengalaman berkontak dengan calon pemateri, beliau paling tidak ribet dan paling tidak banyak permintaan. Dan memudahkan kerja saya tentunya. Mator Seklangkong, Ra J
Jum’at, 26 Februari 2016
0 komentar:
Posting Komentar