Selasa, 12 Januari 2016

JEJAK DI BANYUWANGI [1]


Tiket sudah di tangan. Meluncurlah saya bersama Junaidi Ahmad dari Stasiun Lempuyangan menuju Banyuwangi dengan kereta Sritanjung. Waktu itu, hari Minggu tanggal 6 Desember 2015. Ini kali kedua saya ke Banyuwangi setelah belasan tahun silam, perjalanan bersama keluarga besar untuk menyambangi saudara jauh yang berumah di kaki bukit Gunung Gumitir. Perjalan itu pula yang sempat membuat saya takut untuk naik mobil lagi, karena kecelakaan di daerah Blimbing Malang yang menimpa mobil sedan keluarga saya sepulang dari sana.

Seharian saya dan Jun menghabiskan waktu di kereta. Beruntung, tempat duduk yang mestinya diisi oleh enam penumpang kosong sampai Banyuwangi. Saya dan Jun bisa santai selonjoran dan bebas ketawa dan bercanda ngalor-ngidul. Jun yang berasal dari Pulau Sepeken, pulau kecil di luar pulau Madura sebagaimana Kangean, banyak menceritakan kisah masa kecilnya di pulau itu . Saya yang memiliki jiwa petualang ini tentu saja sangat penasaran, senang, dan terhibur. Sampai-sampai terpatri janji dalam batin: Pokoknya, sebelum menikah dan sebelum hamil, saya ingin sekali ke Pulau itu. Mengakrabi adat-istiadat, bahasa, masyarakat, lengkap dengan segala keunikannya.





Sekitar jam 21.00 kami sampai di Stasiun Kalisetail. Empat lelaki bersarung telah menunggu kami di samping mobil yang akan membawa kami ke lokasi tujuan: PP. Mukhtar Syafa'at, Blokagung, Tegalsari.Satu dari empat lelaki itu rupanya adalah menantu pengasuh pesantren sekaligus menjabat sebagai Pimpinan Pesantren, Imam Khaudi nama beliau. Sungguh tersanjung. Sambutan yang luar biasa sekali. Setelah mampir di sebuah Rumah Makan, kami langsung diantar ke salah satu nDalem dimana kami akan beristirahat di sana. Gus Khaudi sendiri yang menunjukkan mana kamar saya, kama mandi saya, dan kamar Junaidi. (dua catatan kebaikan). Setelah Gus Khaudi memberi pengantar dengan sangat baik, beliau undur diri. Saya sangat terkesan dengan sikap ramah dan rendah hatinya. Ini nih, jiwa kiai, jiwa-jiwa pendidik, batin saya. Sepulang beliau, saya mengobrol sebentar dengan seorang panitia lokal terkait rencana survei esok hari. Kami akan memulainya pagi-pagi sekali, karena di siang harinya, kami harus meluncur ke Pulau Merah, rencana tempat outbond di hari terakhir. Jun mengobrol dengan tiga orang santri --satu di antaranya adalah Supir Pesantren--, yang kami tidak tahu, bahwa kelak, hubungan kami dengannya tidaklah sebatas tamu dan tuan rumahnya. prikitiuwww :D Saya masuk kamar. Mengistirahatkan tubuh semalaman.


Subuh. Saya buka pintu kamar, dua orang santri lengkap dengan pecis dan baju koko putihnya tertidur di ruang tamu, ruang semalam kami berbincang. Jenggirat.Mereka kaget saya membuka pintu. Dua santri ini lebih muda dari santri yang semalam. Rupanya mereka bergantian menjaga kami di nDalem ini. Tentu saja tabu, jikalau hanya kami berdua saja di rumah ini. Kebetulan rumah ini adalah rumah adik ipar Gus Khaudi yang tengah belajar Bahasa Jerman ke Pare Kediri.Setelah saya ajak mengobrol sebentar supaya tidak canggung, mereka undur diri.




Jam 09.00 kami baru keluar untuk Survei area Pesantren ditemani langsung oleh Gus Khaudi. (catat lagi).Untung saja beliau langsung turut mengecek kami, karena panitia lokal yang telah janjian semalam tiada kunjung muncul batang hidungnya hingga jelang tengah hari. HPnya pun tidak aktif. Selain area Pesantren, Gus Khaudi juga menunjukkan kepada kami sebuah Dam dan Kebun Kopi yang tidak jauh dari lokasi Pesantren. Sungguh-sungguh Survei LSdP#13 ini istimewa sekali, pengasuh turun langsung memandu kami. Rela berjalan dan berpanas-panasan sepanjang Dam dan Kebun Kopi.


Kami beranjak ke Pulau Merah sore hari, karena tengah hari Blokagung disinggahi hujan teramat deras. Saat hujan, saya dan Jun memilih istirahat di penginapan, merebus kopi dan dua porsi mie instan. Tetiba, dua santri berhujan-hujanan. Jun langsung tanggap, berlari mendekati mereka yang basah kuyup meski telah berpayung. "Ini salamnya Gus Khaudi," cerita Jun meniru dua santri tadi sambil menjulurkan satu kresek yang berisi dua bungkus rujak ulek. Hem.... senangnya hatiku... ini yang aku rindu dari Jawa Timur. Kuliner-kuliner yang memanjakan lidah. 

Malam hari, kami baru sampai ke penginapan lagi setelah mampir makan ayam goreng jumbo khas Banyuwangi. Saya terkesan, porsi sambalnya yang banyak sekali, lima kali lipat dari sambal lalapan ayam gorengnya Jogja. Jun juga terkaget-kaget dengan pecel lele pesanannya. Lelenya gemuk, panjang, dan sepertinya lebih dari dua ekor setiap porsinya. 

Kedatangan ke Pulau Merah sore tadi cukup menyenangkan. Pantainya luas, panjang, langitnya biru eksotis, dan indah sekali. Saya dan Jun sempat mengobrol dengan nelayannya terkait waktu pasang-surut laut hingga pengunjung dapat menyebrang ke Pulau di tengah lautan itu. Juga sedikit hal d luar itu. Kami pun sempat mengambil gambar video juga banyak foto cantik, menyatukan keindahan batin dengan keindahan lukisan Tuhan di kanvas Pulau Merah. Kami berempat, selain saya dan Jun, ada Ridho'i, ketua panitia lokal, dan Surur, Supir Pesantren, yang bersamanya kami punya cerita seru. Nanti saya kasih judul khusus tulisan itu: Tersesat di Banyuwangi. Seperti cintanya, yang tersesat di hati seorang Neng. #wetuwetuwet hihi.








Sebelum tidur, saya masih terbayang dengan sikap Gus Khaudi saat berpapasan dengan masyarakat dan para santrinya tadi siang. Di samping itu, satu hal lagi yang unik, yang tidak saya temui di Pesantrn saya, tapi ada di sini: Alih-alih tiba-tiba minggir, diam atau mematung saat bertemu Bu Nyai atau Kiainya, para santri di sini akan menyapa dengan sopan bahkan beberapa dengan ceria. Mendekat, menguluk salam, dan langsung bersalaman. Bahkan, saat Gus Khaudi berada dalam mobil bersama kami. Umi dan abah, para santri di sini memanggil. Ah, saya semakin yakin, bahwa cerita Pesantren tidak akan habis-habis dituangkan dalam tulisan, karena terbukti, setiap Pesantren memiliki keunikan dan khas masing-masing.....

Jogja, 11 Januari 2016

0 komentar:

Posting Komentar