Rupa-rupanya hidup memang mesti penuh kedamaian. Baru-baru yang saya temui adalah kedamaian yang mesti kita ciptakan sendiri dari berdamai. Berdamai yang tidak bisa dibilang mudah adalah berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan asa atau prediksi sendiri.
Seperti ketidak-adanya
hasrat untuk mudik ke rumah mbah ummik pada lebaran kali ini, akhirnya hasrat
itu tidaklah bertemu tuannya. Garis tangan menghendaki yang lain, bersua jualah
nafas ini dengan udara Madura. Menjejak jualah kaki ini di atas tanahnya.
Meminum airnyalah saat tenggorokan ini bertemu dahaga.
Hanya satu yang menjadi
alasan saya merajut ikhlas dalam mudik kali ini. Hanya satu, demi ridho ibuk.
Begitupula pada akhirnya ibuk pulang dan bapak mengikhlaskannya setelah sepakat
bahwa lebaran tahun ini tidak ada mudik, yaitu demi ibunnya, mbah ummik.
Pertimbangan apalagi kiranya selain ridho ibu? Sungguh, adalah betapa ruginya
anak manusia yang hidup seribu tahun tanpa ridlo ibunya…
Pada akhirnya, mudik kali
ini memang tidak berbuah bahagia di hati saya pribadi. Bertemu keluarga besar
terasa biasa saja. Karena beban di hati yang telah lama lahir di tempat ini,
masih membekas di atasnya. Hanya satu yang membuat saya bertahan, ridho ibuk.
Saya ngasisteni ibuk. Menjadi asisten pekerja domestik di rumah dan dapur
sebesar ini. Hanya satu alasan, ridho ibuk. Satu-satunya alasan yang membuat
saya mau tak mau harus betah di rumah ini, juga satu-satunya alasan saya bisa
bahagia.
Saya butuh udara untuk
bernafas. Rumah dan halaman sebesar ini begitu sesak terasa. Mungkin bukan
karena tubuh saya yang terhimpit tapi batin saya. Ya, batin saya. Batin seorang
anak gadis yang melihat batin kedua orangtuanya terhimpit. Akhirya, saya
putuskan untuk keluar rumah mencari udara yang segar. Dua hari setelah hari
raya, saya muncak ke atas gunung. Dengan mengajak ketiga adik lelaki dan
seorang sepupu perempuan, hari itu juga kaki saya melangkah mantap menuju
Gunung Sleret. Sebuah Gunung di depan desa.
Di masyarakat sekitar,
nama gunung beserta makom yang berada di puncaknya, sudahlahlah sangat akrab.
Melewati jalan setapak, menyebrangi jalan raya yang ramai, jalan bertanah merah
dan terkadang berlumpur, saya dan rombongan berjalan di bawah terik. Kami juga
melewati sawah penduduk, hutan yang rimbun dengan sapuan angin yang merayu
kantuk. Kaki kami juga lincah berjalan di atas batu-batu hitam yang besar, batu
yang lancip, dan lereng-lereng licin dengan rumput yang segar di mata.
Satu jam telah berlalu.
Setelah melewati lereng yang menanjak, akhirnya kami sampai di puncak.
Perjalanan yang melelahkan rupanya tidaklah sia-sia, mata kami dimanjakan oleh
sapuan panorama pulau Madura yang menghijau, rumah-rumah penduduk terlihat
kecil-kecil. Angin biru dengan sapuan awan putih di sana-sini seakan bersentuhan
langsung dengan hijaunya pohon-pohon yang rimbun.
Di sinilah saya masuk ke
sebuah makom. Setelah beruluk salam, saya amati makom dan sekitarnya. Sempat
saya baca Sang empunya makom, K.H. Abdurrohman Alqodry dan Siti Kenongo. Dua
nama, khususnya yang kedua, sesaat masuk dalam memori otak saya. Memori otak
saya rupanya lekas berputar, bagian sel ingatan menggulung informasi kedua nama
yang sepertinya sudah pernah masuk sebelumnya.
Tapi saya putus dulu. Saya
putuskan untuk terlebih dahulu bersimpuh dan mengirim doa. Upacara yang saya
lakukan telah usai, sebelum bangkit saya sempatkan menyemat puisi di
kertas-kertas yang sengaja saya bawa. Saya urai batin saya masih di depan makom
tempat saya mengirim fatihah. ‘Siti Kenongo’, nama itu serasa tak asing lagi
memang. Puisi saya terputus dengan aroma bunga kenanga yang menyergap hidung
dan masuk ke paru-paru sampau mengelindan pada sukma saya siang itu…
0 komentar:
Posting Komentar