Rabu, 13 Agustus 2014

SIAPA ‘SITI’ DI GUNUNG SELERET ITU?


Rupa-rupanya hidup memang mesti penuh kedamaian. Baru-baru yang saya temui adalah kedamaian yang mesti kita ciptakan sendiri dari berdamai. Berdamai yang tidak bisa dibilang mudah adalah berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan asa atau prediksi sendiri.



Seperti ketidak-adanya hasrat untuk mudik ke rumah mbah ummik pada lebaran kali ini, akhirnya hasrat itu tidaklah bertemu tuannya. Garis tangan menghendaki yang lain, bersua jualah nafas ini dengan udara Madura. Menjejak jualah kaki ini di atas tanahnya. Meminum airnyalah saat tenggorokan ini bertemu dahaga.

Hanya satu yang menjadi alasan saya merajut ikhlas dalam mudik kali ini. Hanya satu, demi ridho ibuk. Begitupula pada akhirnya ibuk pulang dan bapak mengikhlaskannya setelah sepakat bahwa lebaran tahun ini tidak ada mudik, yaitu demi ibunnya, mbah ummik. Pertimbangan apalagi kiranya selain ridho ibu? Sungguh, adalah betapa ruginya anak manusia yang hidup seribu tahun tanpa ridlo ibunya…

Pada akhirnya, mudik kali ini memang tidak berbuah bahagia di hati saya pribadi. Bertemu keluarga besar terasa biasa saja. Karena beban di hati yang telah lama lahir di tempat ini, masih membekas di atasnya. Hanya satu yang membuat saya bertahan, ridho ibuk. Saya ngasisteni ibuk. Menjadi asisten pekerja domestik di rumah dan dapur sebesar ini. Hanya satu alasan, ridho ibuk. Satu-satunya alasan yang membuat saya mau tak mau harus betah di rumah ini, juga satu-satunya alasan saya bisa bahagia.

Saya butuh udara untuk bernafas. Rumah dan halaman sebesar ini begitu sesak terasa. Mungkin bukan karena tubuh saya yang terhimpit tapi batin saya. Ya, batin saya. Batin seorang anak gadis yang melihat batin kedua orangtuanya terhimpit. Akhirya, saya putuskan untuk keluar rumah mencari udara yang segar. Dua hari setelah hari raya, saya muncak ke atas gunung. Dengan mengajak ketiga adik lelaki dan seorang sepupu perempuan, hari itu juga kaki saya melangkah mantap menuju Gunung Sleret. Sebuah Gunung di depan desa.

Di masyarakat sekitar, nama gunung beserta makom yang berada di puncaknya, sudahlahlah sangat akrab. Melewati jalan setapak, menyebrangi jalan raya yang ramai, jalan bertanah merah dan terkadang berlumpur, saya dan rombongan berjalan di bawah terik. Kami juga melewati sawah penduduk, hutan yang rimbun dengan sapuan angin yang merayu kantuk. Kaki kami juga lincah berjalan di atas batu-batu hitam yang besar, batu yang lancip, dan lereng-lereng licin dengan rumput yang segar di mata.

Satu jam telah berlalu. Setelah melewati lereng yang menanjak, akhirnya kami sampai di puncak. Perjalanan yang melelahkan rupanya tidaklah sia-sia, mata kami dimanjakan oleh sapuan panorama pulau Madura yang menghijau, rumah-rumah penduduk terlihat kecil-kecil. Angin biru dengan sapuan awan putih di sana-sini seakan bersentuhan langsung dengan hijaunya pohon-pohon yang rimbun.

Di sinilah saya masuk ke sebuah makom. Setelah beruluk salam, saya amati makom dan sekitarnya. Sempat saya baca Sang empunya makom, K.H. Abdurrohman Alqodry dan Siti Kenongo. Dua nama, khususnya yang kedua, sesaat masuk dalam memori otak saya. Memori otak saya rupanya lekas berputar, bagian sel ingatan menggulung informasi kedua nama yang sepertinya sudah pernah masuk sebelumnya.

Tapi saya putus dulu. Saya putuskan untuk terlebih dahulu bersimpuh dan mengirim doa. Upacara yang saya lakukan telah usai, sebelum bangkit saya sempatkan menyemat puisi di kertas-kertas yang sengaja saya bawa. Saya urai batin saya masih di depan makom tempat saya mengirim fatihah. ‘Siti Kenongo’, nama itu serasa tak asing lagi memang. Puisi saya terputus dengan aroma bunga kenanga yang menyergap hidung dan masuk ke paru-paru sampau mengelindan pada sukma saya siang itu…



0 komentar:

Posting Komentar