1435 Hijriah, adalah
dimana kali pertama saya bisa berkesempatan menunaikan sholat ‘idul fitri di
salah-satu desa kecil yang berada di Pulau Madura. Sebuah pulau kecil di ujung
timur pulau Jawa. Ya, di titik pulau kecil, di antara ribuan pulau kecil yang
ada di Indonesialah pagi 1 syawal itu saya berdiri tegak bersama
muslimin-muslimat lainnya.
Di antara rerimbunan ummat
muslim bermukenah dan berpecis putih mulut dan hati saya bertakbir. Menggemakan
keagungan-Nya. Betapa saya bahagia dalam tangisan yang paling sunyi pagi itu
bersama alam yang menghijau. Dalam sujud, bersama ummat muslim yang lainnya,
saya sujud sepenuhnya sujud di altar masjid. Sebuah masjid sederhana yang
berada di tengah sawah yang menghijau dimana di bawahnya air sungai yang jernih
mengalir sendu. Kejernihan airnya seakan mengaliri darah dan denyut nadi yang
pasrah setelah sebulan penuh disuguhi-Nya beribu keberkahan bersama bulannya
yang penuh berkah.
Gusti,,, gondelani ati.
Aku menyebutmu, aku mengingatmu, aku nggondelimu dalam diam dan dalam
bersuara, dalam jaga dan istirah, dalam langkah dan geming, dalam isi dan
kosong, dalam iya dan tidak, dalam gamang dan mesra, dalam dan di luar…
Gusti,,, gondelani ati…
engkang sawiji… dalem nyawiji-Mu…
Madura,
Setelah menapaki makam dan makam. Bujuk saron dan Pemakaman…
0 komentar:
Posting Komentar