Menjalin hubungan sebelum menikah untuk belajar saling memahami karakter masing-masing barangkali merupakan suatu hal yang gampang-gampang sulit. Tentu saja ada banyak hal yang mesti dihadapi oleh setiap pasangan. Dari yang manis, kecut, asin, pedas, sampai yang paling pahit sekalipun. Perlu menjadi karang yang kuat bagi setiap pasangan saat badai hadir di depan mata. Pasangan karang rapuh atau mudah rapuh akan habis di sana. Pasangan karang yang kuat dan kokoh akan tetap berdiri gagah bagaimanapun terjangan badai dan amukannya menghantam.
Akhir-akhir ini, bersliweran
di sekeliling saya pasangan yang goyah, oleng, terhempas, sampai yang
berantakan dan hancur remuk. Inilah kenyataan. Inilah dinamika kehidupan yang
mesti ditelan oleh ruang pengalaman saya.
Berbagai warna
keolengan pasangan itu banyak sekali diakibatkan menyusupnya pihak ketiga.
Entah oleh pasangan lelaki ataupun pasangan perempuan. Umumnya, banyak yang
mengatakan pasangan laki-lakilah yang mudah oleng karena angin tetangga. Namun
dalam kenyataan yang saya hadapi ini adalah sebaliknya. Kenyataan yang membuat
saya menelan ludah. Terlebih karena subjek-subjek adalah yang terkesan sebagai
perempuan alim atau muslimah sholihah.
Di sinilah
kerancuan yang mengganggu hati dan pikiran saya. Adakah kerancuan itu muncul
karena memang adanya kesenjangan antara konsep dan realitas sholihah itu
sendiri? Atau barangkali kerancuan memahami konsep sholihah secara
konvensional? Mungkin juga setiap kepala memiliki dan berhak membangun konsep
sholihah itu sendiri sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman masing-masing? Embuhlah.
Satu argumen yang
saya dapati dari salah seorang subjek terkait dengan kesetiaan. Menurutnya,
kesetiaan itu hanya berlaku setelah ia menikah dengan pasangan. Setelah ia
berada pada posisi sebagai ‘istri’. Di sanalah kesetiaan kepada pasangan akan
benar-benar ia perjuangkan dan jaga.
Secara sederhana
dan selintas, argumen itu mungkin bisa kita benarkan. Namun bisa kita
bayangkan, jika dunia ini tak ada agama yang menyakralkan hubungan sepasang
kekasih --yang akhirnya tersebut sebagai suami dan istri-- bisa jadi kehidupan
akan carut marut dan tak karuan. Terlihat pula, hubungan tersebut akan tampak
sebagai main-main dan pengisi waktu muda jika kesetiaan hanya ada di balik
batas penyakralan agama. Jika seperti itu, jelaslah tak ada komitmen baik di
sana kecuali komitmen untuk main-main dan bersenang-senang di waktu muda.
Terakhir, para
subjek dengan argumen yang sama tentang
konsep kesetiaan di atas, bukanlah para perempuan yang setia pada pasangan.
Kesetiaan mereka adalah pada agama!
Apakah kesetiaan
pada agama lebih disenangi Tuhan daripada kesetiaan pada-Nya? Kesetiaan
pada-Nya mungkin bisa diejawantah dengan tidak menelikung dan menyakiti
makhluk-Nya. Apapun alasannya. Allaahu ‘Alam.
16
Ramadhan 1435 H
0 komentar:
Posting Komentar