Senin, 14 Juli 2014

Agama, Perempuan, dan Kesetiaan


Menjalin hubungan sebelum menikah untuk belajar saling memahami karakter masing-masing barangkali merupakan suatu hal yang gampang-gampang sulit. Tentu saja ada banyak hal yang mesti dihadapi oleh setiap pasangan. Dari yang manis, kecut, asin, pedas, sampai yang paling pahit sekalipun. Perlu menjadi karang yang kuat bagi setiap pasangan saat badai hadir di depan mata. Pasangan karang rapuh atau mudah rapuh akan habis di sana. Pasangan karang yang kuat dan kokoh akan tetap berdiri gagah bagaimanapun terjangan badai dan amukannya menghantam.


Akhir-akhir ini, bersliweran di sekeliling saya pasangan yang goyah, oleng, terhempas, sampai yang berantakan dan hancur remuk. Inilah kenyataan. Inilah dinamika kehidupan yang mesti ditelan oleh ruang pengalaman saya.

Berbagai warna keolengan pasangan itu banyak sekali diakibatkan menyusupnya pihak ketiga. Entah oleh pasangan lelaki ataupun pasangan perempuan. Umumnya, banyak yang mengatakan pasangan laki-lakilah yang mudah oleng karena angin tetangga. Namun dalam kenyataan yang saya hadapi ini adalah sebaliknya. Kenyataan yang membuat saya menelan ludah. Terlebih karena subjek-subjek adalah yang terkesan sebagai perempuan alim atau muslimah sholihah.

Di sinilah kerancuan yang mengganggu hati dan pikiran saya. Adakah kerancuan itu muncul karena memang adanya kesenjangan antara konsep dan realitas sholihah itu sendiri? Atau barangkali kerancuan memahami konsep sholihah secara konvensional? Mungkin juga setiap kepala memiliki dan berhak membangun konsep sholihah itu sendiri sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman masing-masing? Embuhlah.

Satu argumen yang saya dapati dari salah seorang subjek terkait dengan kesetiaan. Menurutnya, kesetiaan itu hanya berlaku setelah ia menikah dengan pasangan. Setelah ia berada pada posisi sebagai ‘istri’. Di sanalah kesetiaan kepada pasangan akan benar-benar ia perjuangkan dan jaga.

Secara sederhana dan selintas, argumen itu mungkin bisa kita benarkan. Namun bisa kita bayangkan, jika dunia ini tak ada agama yang menyakralkan hubungan sepasang kekasih --yang akhirnya tersebut sebagai suami dan istri-- bisa jadi kehidupan akan carut marut dan tak karuan. Terlihat pula, hubungan tersebut akan tampak sebagai main-main dan pengisi waktu muda jika kesetiaan hanya ada di balik batas penyakralan agama. Jika seperti itu, jelaslah tak ada komitmen baik di sana kecuali komitmen untuk main-main dan bersenang-senang di waktu muda.

Terakhir, para subjek dengan argumen  yang sama tentang konsep kesetiaan di atas, bukanlah para perempuan yang setia pada pasangan. Kesetiaan mereka adalah pada agama!
Apakah kesetiaan pada agama lebih disenangi Tuhan daripada kesetiaan pada-Nya? Kesetiaan pada-Nya mungkin bisa diejawantah dengan tidak menelikung dan menyakiti makhluk-Nya. Apapun alasannya. Allaahu ‘Alam.
16 Ramadhan 1435 H


0 komentar:

Posting Komentar