Siapa yang bisa
memprediksi dengan benar skenario Tuhan atasnya? Mungkin tak ada. Maka kewajibanku
sebagai seorang hamba adalah selalu berprasangka baik pada-Nya juga sekaligus
pada alur kehidupan atau skenario yang
telah Dia buat atasku.
Tapi sebenarnya aku tak
ingin mengatakan itu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Tentang ibuk.Beberapa hari aku ada di
rumah, ibuk bertanya tentang seorang lelaki yang dulu pernah menjengukku sampai
dua kali pasca oprasi di solo. Aku seperti tahu arah dan maksud pertanyaan
ibuk. Aku jawab saja kalau aku jarang dan hampir tak pernah bertemunya. Aku juga
menambah jawaban yang terkesan aku tak tahu-menahu tentangnya.
Beberapa saat kemudian
ibuk bertanya lagi kabar seorang teman lelakiku. Kini seorang teman lelaki yang
pernah mampir bersamaku di rumah Malang. Aku juga tahu maksud dan tujuan
pertanyaan ibuk masih sama. Maka aku ceritakan saja pada ibuk tentang seorang
perempuan yang memang sangat dicintai dan diharapkan menjadi pendamping hidup
oleh teman lelakiku itu. Aku juga memberikan jawaban yang berkesan bahwa kami
adalah teman baik yang sering saling curhat terkhusus tentang kekasih hati
masing-masing.
Aku lega, karena yakin ibuk tidak akan bertanya-tanya lagi
tentang lelaki lagi padaku.Masih aku pandangi
punggung ibuk saat keluar dari kamarku. Aku tak tahu apa yang ada di hatinya
saat mungkin tidak mendapat jawaban yang diharapkannya.
Subuh. Setelah keluarga
usai mengaji, ibuk masuk ke kamar lagi dan tidur di sampingku. Tiba-tiba ibuk
menceritakan kisah masa mudanya. Kisah cintanya terutama tentang perjuangan
bapak mendapatkan ibuk dan kesetiaan ibuk menunggu bapak. Bahkan saat ibuk
dipaksa keluarga menikah dengan seorang lelaki saat bapak tengah berada jauh
dari Pulau Garam. Ibuk membuktikan kesetiaannya dengan menemukan berbagai cara
agar pada malam hari tidak ‘tidur’ dengan suaminya. Membawa adik-adiknya tidur
bersamanya di ranjang, berpura-pura sakit sampai bahkan diam-diam tidur di kolong
ranjang yang bertanah sampai fajar muncul kembali.
Oh ibuk! Apa kau mulia
gelisah kepada anakmu ini? Atau kau ingin menitipkan nilai-nilai luhur yang
diajarkan oleh tradisi kepada anak perempuanmu ini? Ibuk, baiklah akan
kuceritakan siapa lelaki baik yang menjadi pilihan putrimu. Lelaki dengan
perangai luhur yang akhi-akhir ini telah mendampingi hati anakmu. Ibuk, tak
usah khawatir, anakmu telah pandai memilih! Doakan kami berjodoh :DTapi sampai detik ini,
mengapa aku masih deg-deg byurrr saat ingin menyebut namanya di depanmu, Ibuk?!
0 komentar:
Posting Komentar