Senin, 14 Juli 2014

Kegelisahan ibuk

Siapa yang bisa memprediksi dengan benar skenario Tuhan atasnya? Mungkin tak ada. Maka kewajibanku sebagai seorang hamba adalah selalu berprasangka baik pada-Nya juga sekaligus pada alur kehidupan atau skenario  yang telah Dia buat atasku.

Tapi sebenarnya aku tak ingin mengatakan itu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Tentang ibuk.Beberapa hari aku ada di rumah, ibuk bertanya tentang seorang lelaki yang dulu pernah menjengukku sampai dua kali pasca oprasi di solo. Aku seperti tahu arah dan maksud pertanyaan ibuk. Aku jawab saja kalau aku jarang dan hampir tak pernah bertemunya. Aku juga menambah jawaban yang terkesan aku tak tahu-menahu tentangnya.

Beberapa saat kemudian ibuk bertanya lagi kabar seorang teman lelakiku. Kini seorang teman lelaki yang pernah mampir bersamaku di rumah Malang. Aku juga tahu maksud dan tujuan pertanyaan ibuk masih sama. Maka aku ceritakan saja pada ibuk tentang seorang perempuan yang memang sangat dicintai dan diharapkan menjadi pendamping hidup oleh teman lelakiku itu. Aku juga memberikan jawaban yang berkesan bahwa kami adalah teman baik yang sering saling curhat terkhusus tentang kekasih hati masing-masing. 

Aku lega, karena yakin ibuk tidak akan bertanya-tanya lagi tentang lelaki lagi padaku.Masih aku pandangi punggung ibuk saat keluar dari kamarku. Aku tak tahu apa yang ada di hatinya saat mungkin tidak mendapat jawaban yang diharapkannya.

Subuh. Setelah keluarga usai mengaji, ibuk masuk ke kamar lagi dan tidur di sampingku. Tiba-tiba ibuk menceritakan kisah masa mudanya. Kisah cintanya terutama tentang perjuangan bapak mendapatkan ibuk dan kesetiaan ibuk menunggu bapak. Bahkan saat ibuk dipaksa keluarga menikah dengan seorang lelaki saat bapak tengah berada jauh dari Pulau Garam. Ibuk membuktikan kesetiaannya dengan menemukan berbagai cara agar pada malam hari tidak ‘tidur’ dengan suaminya. Membawa adik-adiknya tidur bersamanya di ranjang, berpura-pura sakit sampai bahkan diam-diam tidur di kolong ranjang yang bertanah sampai fajar muncul kembali.

Oh ibuk! Apa kau mulia gelisah kepada anakmu ini? Atau kau ingin menitipkan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh tradisi kepada anak perempuanmu ini? Ibuk, baiklah akan kuceritakan siapa lelaki baik yang menjadi pilihan putrimu. Lelaki dengan perangai luhur yang akhi-akhir ini telah mendampingi hati anakmu. Ibuk, tak usah khawatir, anakmu telah pandai memilih! Doakan kami berjodoh :DTapi sampai detik ini, mengapa aku masih deg-deg byurrr saat ingin menyebut namanya di depanmu, Ibuk?!

Malang, 16 Ramadhan 1435 H  

0 komentar:

Posting Komentar