“Beramal” itulah kata Cak Nun. Sesuatu yang dianjurkan oleh
Tuhan pada pada makhluk-Nya. Beramal bukan berarti kita menamasukkan uang receh
di kotak amal musholla-musholla atau masjid-masjid di pinggir jalan. Beramal
adalah bekerja. Bekerja adalah berkarya. Beramal adalah bekerja. Bekerja adalah
berkarya. Berkarya, selain untuk mengoptimalkan apa yang telah diberikan oleh
Tuhan kepada makhluknya, adalah juga suatu pekerjaan yang akan berbuah manis.
Manusia yang huduts bisa sedikit mengulur kefana-annya di
panggung sandiwara dunia ini. Misalnya manusia yang berkarya lewat tulisan,
maka meski jasadnya telah absen terlebih dahulu dari dunia fana ini, pikiran,
getaran emosi, dan seluruh perasaannya yang pernah terekam bersamanya dalam
ruang imajinasinya, tetap lebih lama bertahan di bandingkan dirinya yang lain
yang telah rusak karena hukum alam sudah tiba padanya. Buah karyanya masih bisa
diraba, dibaca, difahami, dikunjungi oleh manusia lainnya. Ia telah mati, tapi
ternyata ia tidak benar-benar mati.
Begitu juga dengan manusia lain yang bekarya dengan bakat
atau kemampuannya masing-masing. Mulai dari melukis, menari, bertani, dst.
Tentu saja sesuai dengan kadar bidang masing-masing. Begitu juga dengan membuat
topeng atau wayang juga alat-alat musik yang pernah dikaryakan oleh para
walisongo. Saya sendiri tidak hidup di zamannya apalagi bertemu langsung
dengannya. Saya yang terpaut jauh dengan zaman walisongo, tapi masih bisa
merasakan manfaat dan dampak dari karya-karya mereka. Allaahummahgfilahum.
Saya memang bukan tipikal manusia yang bisa, hobi, atau suka
membuat topeng. Tapi kemarin, saya berkesempatan menjadi bagian proses kreatif
pembuatannya. Yah… karena saya tidak bisa membantu banyak dalam pembuatan, saya
usahakan minimal melakukan sesuatu yang saya bisa. Teman saya bilang, wajah
saya imut dan dia sedang membutuhkan master
topeng seperti wajah saya. Ya saya… MAULAH!
Kenapa saya mau? Hm… yang jelas, karena teman. Bagi saya,
menjadi seorang teman adalah bisa bermanfa’at kepada temannya. Kedua, saya
berfikir, Tuhan telah menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihan
masing-masing. Nah, untuk menembel kekurangan bakat dan minat saya pada pembuatan
topeng, usaha saya adalah dengan menyodorkan master wajah saya untuk dijadikan
topeng. Juga, setidaknya kalau hukum alam kehancuran jasad saya telah
mendekati, berarti wajah saya juga akan ludes. Setidaknya, salah seorang teman
telah memiliki cetakan wajah saya pada salah satu topengnya. hehehe
02 juni 2014
Terimakasih kunjungannya...
BalasHapusBaru berbalas :)