Senin, 02 Juni 2014

MINGGU NYENI

Minggu ini, minggu di akhir bulan Mei 2014, hidupku tak beraturan, dan lagi-lagi, kata-kata Sang Guru itu benar bahwa terkadang yang tak beraturan itulah yang indah. Ya, minggu ini hidupku terasa indah…sekali. Aku bahagia, aku senang. Aku juga sedih tapi bahagia, bahagia tapi sedih. Ya, pada akhirnya aku bisa adil pada semua perasaan-perasaan itu. Aku dan hidupku pada akhirnya tidak pada posisi keberpihakan kebahagiaan dan kesenangan saja. Artinya, aku telah paham bahwa kesedihan adalah juga bagian dari aku dan hidupku. Aku bahagia karena ada dia. Tentu saja, karena dialah bahagia bernama bahagia. Oh tidak! Mungkin aku telah lama paham tentang itu. Hanya saja, minggu indah yang tak beraturan ini benar-benar menyusupiku tentang pemahaman lamaku itu. Akhirnya, itu tak hanya jadi pemahaman, tapi kesatuan yang terasa.


Pada minggu ini aku melakukan aktifitas-aktifitas dengan tidak terlebih dahulu memplaningkannya lalu mencatatnya untuk kemudian aku centang pada bagian-bagian yang telah aku tunaikan. Aku juga tidak memenjarakan diriku hanya di atas buku-buku atau laptop. Aku juga tidak mengekangnya seharian di dalam kost atau melakukan sesuatu hal yang sama pada tiap harinya. Rutinitas yang sama yang pada akhirnya melahirkan kejenuhan.


Aku benar-benar telah menjadi burung. Aku melakukan hal-hal yang aku ingin kerjakan tanpa memplaningkan sebelumnya. Aku keluar kost di saat matahari tersenyum hangat. Aku menghirup udara segar di antara pepohonan kampus. Aku bertemu dan bercanda dengan teman-teman yang berwarna-warni. Aku mendatangi setiap pertunjukan seni di kampus pada malam-malam hari. Aku janjian dengan seorang teman lelaki untuk bersama bertandang lagi ke acara teater kampus lalu pergi ngopi untuk melepas jenuh bersama banyak teman yang lain. Aku bertemu Sang Guru untuk mengobrol tentang kegelisahan hidupku yang tak semua orang bisa memahaminya. Aku juga bermimpi sesuatu hal yang tidak beraturan tapi indah! Yang di sini, aku tak bisa mengisahkanya.


Semua kehidupan tak beraturan ini adalah berkah Sendratari “Kalijaga Menari”. Di sanalah mula-mula akau menemukan duniaku bersamaan aku menemukan diriku. Seperti kemarin, aku mulai bergabung dengan gerombolan teater Sang Guru. Untuk pertama kali dalam hidup, aku benar-benar melakukan olah tubuh yang total! juga olah rasa lewat latihan inti murni. Cara lain dalam menemukan hal yang sama. Boleh dong, aku anggap ini adalah salah-satu suluk yang aku pergunakan selain sholat 5 waktu, berdzikir, dan tahajjud. Aku juga menemukan dan merasakan hal yang sama dengan yang aku temukan pada suluk-suluk yang kulakukan di pesantren dulu pada saat menari. Boleh dong, kalau aku PDKT kepada-Nya dengan menari dan hal-hal yang lain. Lawong Dia kok yang memberi aku bakat, getaran emosi, dan gairah untuk menari. Maka apa salahnya karunia yang diberikan oleh-Nya kupersembahkan juga untuk-Nya. Boleh dong…


01 juni 2014
 

0 komentar:

Posting Komentar