Minggu ini, minggu di akhir bulan
Mei 2014, hidupku tak beraturan, dan lagi-lagi, kata-kata Sang Guru itu benar
bahwa terkadang yang tak beraturan itulah yang indah. Ya, minggu ini hidupku
terasa indah…sekali. Aku bahagia, aku senang. Aku juga sedih tapi bahagia,
bahagia tapi sedih. Ya, pada akhirnya aku bisa adil pada semua
perasaan-perasaan itu. Aku dan hidupku pada akhirnya tidak pada posisi
keberpihakan kebahagiaan dan kesenangan saja. Artinya, aku telah paham bahwa
kesedihan adalah juga bagian dari aku dan hidupku. Aku bahagia karena ada dia.
Tentu saja, karena dialah bahagia bernama bahagia. Oh tidak! Mungkin aku telah
lama paham tentang itu. Hanya saja, minggu indah yang tak beraturan ini
benar-benar menyusupiku tentang pemahaman lamaku itu. Akhirnya, itu tak hanya
jadi pemahaman, tapi kesatuan yang terasa.
Pada
minggu ini aku melakukan aktifitas-aktifitas dengan tidak terlebih dahulu
memplaningkannya lalu mencatatnya untuk kemudian aku centang pada bagian-bagian
yang telah aku tunaikan. Aku juga tidak memenjarakan diriku hanya di atas
buku-buku atau laptop. Aku juga tidak mengekangnya seharian di dalam kost atau
melakukan sesuatu hal yang sama pada tiap harinya. Rutinitas yang sama yang
pada akhirnya melahirkan kejenuhan.
Aku
benar-benar telah menjadi burung. Aku melakukan hal-hal yang aku ingin kerjakan
tanpa memplaningkan sebelumnya. Aku keluar kost di saat matahari tersenyum
hangat. Aku menghirup udara segar di antara pepohonan kampus. Aku bertemu dan
bercanda dengan teman-teman yang berwarna-warni. Aku mendatangi setiap pertunjukan
seni di kampus pada malam-malam hari. Aku janjian dengan seorang teman lelaki
untuk bersama bertandang lagi ke acara teater kampus lalu pergi ngopi untuk
melepas jenuh bersama banyak teman yang lain. Aku bertemu Sang Guru untuk
mengobrol tentang kegelisahan hidupku yang tak semua orang bisa memahaminya.
Aku juga bermimpi sesuatu hal yang tidak beraturan tapi indah! Yang di sini,
aku tak bisa mengisahkanya.
Semua
kehidupan tak beraturan ini adalah berkah Sendratari “Kalijaga Menari”. Di
sanalah mula-mula akau menemukan duniaku bersamaan aku menemukan diriku. Seperti
kemarin, aku mulai bergabung dengan gerombolan teater Sang Guru. Untuk pertama
kali dalam hidup, aku benar-benar melakukan olah tubuh yang total! juga olah
rasa lewat latihan inti murni. Cara lain dalam menemukan hal yang sama. Boleh
dong, aku anggap ini adalah salah-satu suluk yang aku pergunakan selain sholat 5
waktu, berdzikir, dan tahajjud. Aku juga menemukan dan merasakan hal yang sama
dengan yang aku temukan pada suluk-suluk yang kulakukan di pesantren dulu pada
saat menari. Boleh dong, kalau aku PDKT kepada-Nya dengan menari dan hal-hal
yang lain. Lawong Dia kok yang memberi aku bakat, getaran emosi, dan gairah
untuk menari. Maka apa salahnya karunia yang diberikan oleh-Nya kupersembahkan
juga untuk-Nya. Boleh dong…
0 komentar:
Posting Komentar