Rabu, 11 Juni 2014

POLITIK ALAM


Malam Selasa, tanggal 26 Mei aku bertemu Sang Guru. Kali ini, di bawah pohon yang besar, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai satu hal yang bisa aku catat, politik alam.

Mula-mula, beliau mengatakan tanganku yang nggendewo pinentang. Lalu menceritakan kisah masa mudanya di tanah kelahirannya, Kebumen. Bagiku, ceritanya hampir mirip-mirip cerpen A.A. Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami. Tentang sumur yang selalu memberikan air meski kemarau. Sumur tua di samping pohon yang sangat besar dan ditaksir juga sudah sangat tua. Sang Guru berasumsi bahwa dari akar-akar pohon itulah banyak cadangan air hingga sumur tak pernah kering dan terus bisa memberikan airnya pada masyarakat bahkan di musim yang mengemarau. Tapi suatu kali pohon besar itu ditebang oleh beberapa oknum masyarakat di bawah suruhan seorang kiai Muhammadiyah. Penebangan itu dilakukan karena menurutnya, dianggap sebagai simbol kemusyrikan.

Memang, kata Sang Guru, masyarakat sering menaruh sesajen di bawah pohon besar itu. Itu mungkin yang dikira masuk kemusyrikan oleh Kiai Muhammadiyah itu. “Tapi, di luar anggapan kemusyrikan itu, aku malah berfikir lain. Makanan yang ditaruh oleh masyarakat itu adalah sebuah sikap cinta kasih pada alam dan makhluk yang lain. Di sana, semut-semut dan hewan-hewan kecil turut memakannya. Bahkan orang gila yang luput dari pikiran kita untuk memberinya makan, memakannya”, tutur Sang Guru.

“Kalau merunut sejarah setempat”, Sang Guru melanjutkan “di sana adalah tempat dakwah Ki Geseng. Kira-kira mengapa Ki Geseng membiarkan hal itu?” Sang Guru seolah bertanya pada dirinya sendiri. Aku dan seorang teman terus mendengarkannya dengan khusyuk sedanh Sang Guru terus melanjutkan. “Bagiku, ini adalah politik alam yang dipilih oleh Ki Geseng, dan tentu saja bukan karena tanpa alasan. Watak orang-orang jaman dahulu sulit menerima sesuatu hal yang masuk akal, coraknya adalah percaya pada hal-hal mistis, dan Ki Geseng telah memiliki watak intelegensi yang kuat untuk membaca fenomena itu. Mungkin saja tujuan Ki Geseng adalah ingin mengatakan bahwa penting untuk merawat pohon besar itu karena darinya air bersumber, banyak cadangan air pada akar-akarnya yang besar, agar sumur terus terisi dan tak kering. Tapi tentu saja dengan penyampaian seperti itu tidak akan begitu dipegang teguh oleh masyarakat daripada dengan mengatakan bahwa pohon itu keramat.”

Aku dan seorang teman membawa persepsi yang berbeda pada Sang Guru, saat berangkat dan pulang kost. Angin malam semilir… dan aku menahan nafas sejenak pada jeda malam, pada jeda kehidupan.  

0 komentar:

Posting Komentar