Diantara kita, tidak ada yang terpenting-Diantara kita tak ada yang tak penting-Karena kita semua adalah penting
(Kangmas Elek)
(Kangmas Elek)
Baru semalam perhelatan
Sendratari Kalijaga usai digelar. Proses yang dilakoni teman-teman selama lebih
dari tiga bulan telah terbayarkan, bahkan
lebih dari apa yang saya perkirakan. Apalagi seminggu sebelum acara,
semenjak Kangmas Elek dan Dimas Bayu beserta teman-temannya masuk dalam dunia
kami. Proses dan latihan terasa semakin bergairah. Tingkah celelean dan wak-wakannya
memberi atmosfer baru bagi dunia kami yang mungkin mulai agak jenuh atau
perasaan nervous mendekati hari H.
Akhirnya,
bersama mereka kami bisa membangun emosi
yang mulanya masih berdiri sendiri-sendiri menjadi satu lingkaran emosi yang
utuh, yang satu padu. Apalagi detik-detik saat kami akan memposisikan diri
dalam satu lingkaran arak-arakan, seakan ada yang lain dalam diri kami,
setidaknya itu yang saya lihat pada rona-rona wajah dan tubuh kawan-kawan.
Ya. Bagi saya pribadi, semalam
bukanlah sekedar sebuah arak-arakan yang hanya bagian formalitas dari rundown
acara Sendratari, tapi lebih dari itu. Mungkin, bagi orang lain, terkhusus
orang yang belum mengenal saya secara utuh, adagium di atas adalah suatu hal
yang berlebih-lebihan. Tapi itulah yang saya rasakan, hal yang saya alami.
Tentu saja saya tidak bisa membohongi dan mengingkari apa yang nuani saya
katakana dan rasakan. Saya adalah tipe manusia yang percaya bahwa takdir selain
bersumber dari keputusan pribadi setiap personal, sesungguhnya takdir juga
adalah keadaan-keadaan yang menggiring setiap personal pada keadaan dan
peristiwa yang tak disangka-sangka, yang luput dari apa yang ia
harapkan-rencanakan-dan impikan. Ialah yang telah tertulis di Lauh Mahfudz, dawuh
Kiai di pesantren saya dulu.
Dari apa yang saya yakini
tentang konsep takdir itulah, saya mecoba berikhtiar menggunakan rasio dan rasa
saya sebagai manusia. Dua hal yang karena itulah manusia tersebut manusia. Saya
selalu berfikir dengan cara mata rantai, sistematik, dan kronologis tentang
alur peristiwa kehidupan saya. Lalu saya konsultasikan dengan rasa dan nurani
saya. Terkadang juga, dalam dunia kognitif, saya coba merepresikannya dengan
segala disiplin ilmu yang pernah saya pelajari di Pesantren dulu dan di Kampus.
Begitulah, di antara ikhtiar saya memanusiakan kemanusiaan manusia saya.
Semasa kecil saya pernah
seperti bermimpi. Saya melihat diri saya berada di sebuah peti kaca berhiaskan dedaunan
yang menjalar. Saya melihat banyak sekali yang mengelilingi peti kaca dimana
saya tertidur. Saya melihat bepuluh-puluh para Kiai dengan sorban, pecis,
tasbih, sajadah dan wajahnya yang memancarkan sinar Ilahi. Wajah yang teduh dan
meneduhkan siapa saja yang memandangnya. Saya yang tertidur di dalam peti kaca
seolah tersenyum merasakan kehadiran para Kia, Masyayikh, dan Habaaib di sana.
Saya juga melihat seorang perempuan penguasa laut Selatan dengan kesegala
kekuasaan dan kemegahannya bersama ratusan para dayang dan punggawanya. Saya
yang tertidur di kaca tersenyum karena bagian keindahan Tuhan terpancar pada
wajah, tubuh, dan kekuasaannya. Tapi hati saya sedikit kecut, karena saat itu
masih termahjub tentang kebaikan apa yang telah dilakukan perempuan itu sebagai
makhluk Tuhan. Juga saya melihat seorang perempuan tua bersama ratusan anak
buahnya. Dengan wajah yang telah keriput, rambut dan baju yang usang,
mengingatkan saya yang tertidur di peti kaca pada sosok Mak Lampir dan para
anak buahnya. Perasaan saya sebagai seorang anak kecil waktu itu adalah mereka
merupakan makhluk-makhluk Tuhan di sisi kegelapan. Dan tentu saja jiwa anak
kecil saya ketakutan dan benar-benar tak ingin berdekatan dengannya.
Singkatnya, pertemuan besar lintas dimensi itu sedang memperebutkan hak
masing-masing atas sebagian dari diri saya. Saat itu saya sudah tahu bahwa tak
ada satu pun yang berhak atas diri saya bahkan saya sendiri kecuali Dia. Dan
hanya Dia. Lebih singkat lagi, setelah saya berkomunikasi batin dengan para Kiai
yang pada merekalah saya sangat ingin ikut, tetap saja saya harus sementara
berada di bawah pilihan ketiga setelah perempuan laut selatan itu. Dawuh para
Kiai, itu adalah siasat, taktik, bagian dari diplomasi yang juga diajarkan oleh
Kanjeng Nabi. Saya yang masih kecil, tentu saja sangat berat ikut dengan sosok
perempuan tua yang jelek rupa dan ketawanya. Tapi, ini perintah Kiai dan ajaran
Nabi, saya pun manut. Tapi tidak lama bersamanya, saya telah berada di
istana Laut Selatan. Dan Kiai, lewat komunikasi batin, tahu akan hal itu.
seolah-olah mereka mengatakan bahwa itu adalah alur kehidupan yang memang mseti
saya lewati.
Semenjak apa yang saya lihat
pada diri saya dalam dunia seperti mimpi itu, saya tetap menjalani kehidupan
seperti biasa. Sampai setelah dewasa, saat bertemunya saya dengan seseorang
yang menyadarkan saya bahwa apa yang saya kira biasa, ternyata tak biasa. Ia
membuka mata saya dan mata batin saya sehingga saya benar-benar sadar dan lebih
logis. Semenjak itu pula saya semakin menyadari dan mencoba sadar atas apa yang
saya lihat dan saya dengar. Saya berusaha untuk beriman sepenuhnya bahwa dalam
Al-Qur’an pertama tersebutkan tentang orang beriman adalah yang percaya pada
hal yang gaib. Dan bukankah hal yang gaib tidak hanya Tuhan, Malaikat, dan
setan?
Saat saya menulis ini,
perhelatan memanglah telah usai. Namun, saya menulis ini karena sesuatu yang
membelenggu saya semenjak kemarin pagi belum juga usai meski sudah lebih baik.
Puncaknya memang semalam, saat saya memerankan karakter perempuan penguasa.
Saat saya bersama rombongan arak-arakan mulai melangkahkan kaki di depan
panggung alami, Gerbang Budaya. Memang tidak ada yang tahu, bahwa saat kaki ini
mulai melangkah di depan panggung, tenggorokan saya sudah tercekat, bibir saya
terasa kelu hingga saya tak bisa mendengar bahwa mulut saya masih
mengumandangkan “Gong Ngliwang Ngliwong”. Hati saya memeberontak karena
sebentar lagi saya mesti membaca puisi. Dan kaki saya pun sudah tak bisa berjalan
seirama bunyi gong, kleningan, bunyi sapu, dan tiga kata di atas. Kaki saya
terasa berat untuk diangkat, saya telah berusaha tapi tidak berhasil. Maka saya
berjalan biasa dengan sangat pelan. Berjalan tidak seiramadengan langkah kaki
kawan-kawan arak-arakan. Tangan saya… tangan saya juga memberat. Pundak saya
kaku. Semua mendadak tak bisa dikendalikan. Saya berkecamuk. Tak habis pikir,
bagaimana perform saya setelah ini, menarikan puisi. Saya ingin menjerit.
Ingin… sekali, tapi tentu saja tidak boleh. Saya tetap harus tampak tenang dan
menyembunyikan semua yang tiba-tiba saya rasakan bahkan kepada kawan-kawan
arak-arakan sendiri.
Hujan mulai menderas saat kaki
saya benar-benar telah berada di atas panggung alami, panggung Gerbang Budaya
yang di apit oleh taman. Kaki, pundak, dan tangan saya semakin memberat, dan
saya benar-benar tak bisa mengendalikan. Saya berusaha berjalan sampai tepat di
tengah panggung lalu mematung dengan daun kluweh dan daun jati yang saya bawa
sebagai simbol hutan dan angkara murka. Semestinya saya angkat kedua simbol itu
tinggi-tinggi untuk selanjutnya dibabat, tapi sungguh saya tak kuat. Akhirnya
saya melakukan improve koreo mematung sebagai jalan terakhir saya bertahan.
Kedua simbol itu lunglai di bawah tangan saya yang benar-benar tak bisa saya
kendalikan. Lalu dalam posisi mematung dan membelakangi penonton, saya
dikelilingi oleh para rombongan arak-arakan. Mula-mula empat lelaki penyapu,
saya berputar dan menutupi muka dengan dua daun simbol huatan dan angkara
murka. Tangan saya sedikit bergetar saat saya mulai berani memaksanya. Saya
ambil posisi duduk dengan tetap menutupi wajah. Selanjutnya, tiga perempuan
pembawa dupa berputar-putar mengelilingi saya yang terduduk dengan tangan
gemetar karena memberontak pada entah siapa. Aroma dupa menyeruap sampai ke
paru-paru. Tangan saya semakin bergetar hebat saat giliran dua perempuan
pembawa bunga lewat dan menaburkannya pada tubuh saya. Sungguh! Saya hampir tak
kuat menyangga tangan sendiri. Terus seperti itu, silih berganti rombongan arak-arakan
melewati saya yang berada di tenga-tengah panggung tanpa mengetahui apa yang
benar-benar sedang menyiksa saya.
Hening. Tapi hujan menderas,
mengguyur tubuh saya yang bersimpuh di tengah panggung. Tangan dan pundak saya
berat klimaks. Tapi saya dengan sekuat tenaga tetap berusaha menyangga karena
saya sadar untuk detik ini syalah yang menjadi icon panggung. Semua mata
menyorot pada perempuan di bawah hujan itu. Perempuan bertutupkan dua simbol
daun, jaret yang panjang menjuntai, dan kebaya krem kekuningan yang
manik-maniknya berkilauan ditabrak cahaya dan air hujan. Mungkin hanya itu yang
bisa ditangkap para penonton. Hanya itu. Tanpa pundak dan tangan yang memberat
dan kaku.
Sedikit demi sedikit tentu
saja dengan usaha keras, saya buka daun jati dan daun kluweh yang menutupi
wajah saya. Dan saat wajah saya benar-benar menangkap air hujan dari langit,
saya menghantam batin dan kerongkongan yang sejak tadi tercekat. “Tangan
Penari” saya berteriak! Dan tentu saja suara itu asing. Ia tidak menyatu dengan
saya. Sampai di ending, saat Kangmas Elek masuk mencoba mentawarkan aksi
panggung saya yang saya rasakan sendiri kaku. Saya meneriakkan tentang
gemulainya tangan penari, tapi sungguh tangan saya tak bergerak, tak bisa
gemulai seperti biasanya. Suara saya pun saya dengar sendiri sebagai suara yang
tercekat dan sumbang. Baru kali ini saya tidak bisa menikmati aksi panggung
saya. Seperti ada yang ingin menguasai dan menekan saya. Saya bertarung
dengannya di atas panggung, dan mungkin tanpa seorang pun yang tahu pertarungan
hebat ini. Tapi saya kalah, saya ingin cepat-cepat meninggalkan panggung. Dan
setelah benar-benar saya telah berada di belakang panggung, saya luruh. Saya
lemas sekali. Saya meringkuk di pojokan, menjauh dai kawan-kawan. Saya kalah.
Saya kalah! Atau memang, saya yang membawa simbol hutan dan angkara murka telah
terbabatkan?entah!
“Mbak, aku lihat tadi tanganmu
bergetar. Ma’af aku gak bisa bantu, karena ia begitu kuat,” saya terperanjat,
ternyata saya tak berperang sendiri. Saya hentikan langkahnya dengan bahasa
mata, “katakana padaku, siapa dia dan dimana dia sekarang?”. Dia membalas
dengan bahasa mata dan sambil lalu berkata, “lepaskan bajumu. Beban berat itu
setidaknya akan berkurang”. Tentu saja saya merinding dan berdebar-debar. “oh
ya, aku tadi sempat kaget dan membatin berani sekali mbak Halimah naruh bunga
di bajunya,” katanya berbalik badan. Aku semakin mematung, karena saya tadi
tidak hanya menaruh beberapa kelopak bunga di dada tai juga sempat memakannya
beberapa helai menirukan apa yang dilakukan Kangmas Elek.
Dan sebelum menulis semua ini,
sempat berlama-lama saya pandangi baju bermanikmanik itu menggantung.[]
Yogyakarta, 15 Mei 2014
0 komentar:
Posting Komentar