Rabu, 23 April 2014

Dua Gadis Berbeda Keyakinan; Obrolan di sebuah bus

"Kebiasaan manusia yang buruk, cenderung mengotak-ngotakkan manusia dan bangsa-bangsa, dan bukannya melihat bangsa-bangsa dunia adalah menyatu dalam satu umat manusia"
(Sebuah tulisan pengantar pada sebuah novel yang satu hari kemarin saya baca)

Adagium itu, mengingatkan saya pada peristiwa bulan November tahun kemarin. Saat itu, saya dan seorang teman perempuan dari aliran kepercayaan duduk satu jok di sebuah bus. Sepanjang perjalanan kami saling bercerita secara terbuka tentang latar belakang agama dan kepercayaan kami. Saya tentu saja menceritakan perjalanan hidup tentang pesantren. Dari sebelum masuk pesantren, saat di pesantren, dan hidup seperti apa yang saya tempuh setelah keluar dari pesantren. Begitu pula ia, dengan cerita-cerita yang benar-benar asing bagi saya. Mulai dari sejarah agamanya, tata cara sembahyangnya, sampai pada kenyataan-kenyataan yang ia terima dari masyarakat pada keluarganya yang merupakan agama minoritas dan belum diakui oleh negara. Termasuk kenyataan-kenyataan pahit dipandang 'Liyan' oleh teman-teman sekolah dan bermainnya.

"Saat kecil, apa kamu sudah berfikir dan melihat gejala perbedaan yang membuatmu dianggap berbeda? " tanyaku sok perhatian, sok arif, dan sok toleran.
Dia menoleh, dan matanya tepat bersitatap dengan mataku. Kami berpandangan dalam, "Bahkan aku berfikir, mengapa orang-orang di sekelilingku berfikir seperti itu. Melihat dengan mengotak-ngotakkan" katanya lembut tapi tepat memukul ke dasar hatiku. Menampar keangkuhanku yang ternyata selama ini telah bersembunyi di belakang rasa sok toleransi. Aku tertegun dan menelan ludah. Aku malu. Malu sekali! Kemana kiranya aku bersembunyi dari rasa malu ini?

(Tanpa Mega Merah di Perpustakaan)

0 komentar:

Posting Komentar