Pewawancara : Kru Suka TV
Narasumber : Pimpro “Kalijaga Menari” (Halimah
Garnasih)
Berapa lama proses pembuatan
produksi ini?
Secara keseluruhan kami
berproses hampir satu tahun. Tapi khusus produksi ini, kami totalitas lebih dari tiga bulan.
Sebelumnya memang sudah sering tampil di luar UIN seperti Komunitas Matapena,
English Café, Institut Seni Indonesia, dll. Baru setelah dikenal di luar,
sering dapat undangan di UIN sendiri.
Mengapa mengusung tema
Kalijaga Menari?
Ceritanya, saat kami mendengar
pengakuan beberapa dosen di ISI yang terkejut menyaksikan UIN turut serta dalam
produksi tari disana. Mereka mengaku, kalau mendengar UIN disebut, yang
terlintas adalah gudangnya para
intelektual, cendekiawan, dan orang-orang yang saling silang pendapat.
Dan yang paling khas adalah gudangnya para demonstran. Padahal, sudah bukan
rahasia lagi kalau UIN juga gudangnya para sastrawan, budayawan, dan seniman. Di
sana, ada juga corak berfikir yang mendikotomikan nilai islam dan nilai-nilai
tradisi nusantara. Dari situ kami merasa perlu melakukan sesuatu. Membuat
gebrakan sesuai dengan divisi kami, Divisi Seni Tari.
Jadilah kami melakukan
pembacaan cukup lama tentang kampus ini. Dari nama Kalijaga yang menjadi
lambang kampus rakyat ini, ternyata memiliki makna dan keterkaitan yang dalam
antara kesenian, nusantara, dan sosoknya. Beberapa kali pertemuan dan
pembacaan, akhirnya kami sepakat mengangkat tema “Kalijaga Menari”.
Apa benar selain make-up,
kostum juga didesign sendiri?
Iya. Kami ingin menjadi dan
menelurkan penari yang mandiri dan berkualitas. Tidak hanya bisa menari tapi ‘bisa’
dan ‘tidak manja’ untuk mempersiapkan segala kebutuhannya sendiri. Untuk kostum
tarian kresai atau tradisional semi kreasi, kami mendisign sendiri. Untuk
kostum tarian tradisional, kami meminjam, seperti kostum tarian tradisional Golek
Sulung Dhayung, khas Ngayogyokarto dan kostum Topeng Klana. Juga kostum tari
tradisional Kretek asal Kudus langsung kami pesan dari sana.
Harapannya?
Mahasiswa tidak patah semangat
apalagi mutung untuk berkarya hanya karena sistem kampus yang terkadang (dan
memang sering) mengebiri kreatifitas mahasiswanya. Dan saya berharap FAIB bisa
menjadi background kesusatraan, kebudayaan, dan kesenian di UIN khususnya.
Dibahasakan tulis 17 Mei 2014
Kotagede
Dibahasakan tulis 17 Mei 2014
Kotagede
0 komentar:
Posting Komentar