Minggu, 18 Mei 2014

Diinterview SUKA TV; ADC Melahirkan Penari Yang Berkualitas dan Mandiri





Waktu              : 14 Mei 2014
Pewawancara   : Kru Suka TV
Narasumber     : Pimpro “Kalijaga Menari” (Halimah Garnasih)

Berapa lama proses pembuatan produksi ini?
Secara keseluruhan kami berproses hampir satu tahun. Tapi khusus produksi  ini, kami totalitas lebih dari tiga bulan. Sebelumnya memang sudah sering tampil di luar UIN seperti Komunitas Matapena, English Café, Institut Seni Indonesia, dll. Baru setelah dikenal di luar, sering dapat undangan di UIN sendiri.

Mengapa mengusung tema Kalijaga Menari?
Ceritanya, saat kami mendengar pengakuan beberapa dosen di ISI yang terkejut menyaksikan UIN turut serta dalam produksi tari disana. Mereka mengaku, kalau mendengar UIN disebut, yang terlintas adalah gudangnya para  intelektual, cendekiawan, dan orang-orang yang saling silang pendapat. Dan yang paling khas adalah gudangnya para demonstran. Padahal, sudah bukan rahasia lagi kalau UIN juga gudangnya para sastrawan, budayawan, dan seniman. Di sana, ada juga corak berfikir yang mendikotomikan nilai islam dan nilai-nilai tradisi nusantara. Dari situ kami merasa perlu melakukan sesuatu. Membuat gebrakan sesuai dengan divisi kami, Divisi Seni Tari.
Jadilah kami melakukan pembacaan cukup lama tentang kampus ini. Dari nama Kalijaga yang menjadi lambang kampus rakyat ini, ternyata memiliki makna dan keterkaitan yang dalam antara kesenian, nusantara, dan sosoknya. Beberapa kali pertemuan dan pembacaan, akhirnya kami sepakat mengangkat tema “Kalijaga Menari”.

Apa benar selain make-up, kostum juga didesign sendiri?
Iya. Kami ingin menjadi dan menelurkan penari yang mandiri dan berkualitas. Tidak hanya bisa menari tapi ‘bisa’ dan ‘tidak manja’ untuk mempersiapkan segala kebutuhannya sendiri. Untuk kostum tarian kresai atau tradisional semi kreasi, kami mendisign sendiri. Untuk kostum tarian tradisional, kami meminjam, seperti kostum tarian tradisional Golek Sulung Dhayung, khas Ngayogyokarto dan kostum Topeng Klana. Juga kostum tari tradisional Kretek asal Kudus langsung kami pesan dari sana.

Harapannya?
Mahasiswa tidak patah semangat apalagi mutung untuk berkarya hanya karena sistem kampus yang terkadang (dan memang sering) mengebiri kreatifitas mahasiswanya. Dan saya berharap FAIB bisa menjadi background kesusatraan, kebudayaan, dan kesenian di UIN khususnya.

Dibahasakan tulis 17 Mei 2014
Kotagede

0 komentar:

Posting Komentar