Kapankah dirimu menemukan dirimu sendiri?
Bagiku, menemukan diri sendiri atau bagian dari diri sendiri adalah hal yang sulit-sulit gampang dan gampang-gampang sulit. Artinya, diriku bisa menemukan diriku cukup dengan diriku sendiri atau kadang melalui diri lain yang di sana ada diriku. Atau pada diriku, mungkin, ada pada diri yang lain itu. Dan disinilah aku akan menceritakan padamu satu titik tahap kehidupan dimana aku menemukan diriku atau bagian dari diriku.
Mengkoordinir para penari di Fakultas, tidak pernah menjadi impianku. Tapi akhirnya semua aku lakukan untuk mendedikasikan diri pada tempat di mana padanya aku telah banyak memetik pengetahuan selama hampir enam tahun. Juga karena ada dorongan batin untuk menerima pinangan tugas ini. Mungkin, dorongan itu tidak bisa dilepaskan dengan diriku yang selalu ingin membantu sesama, ingin hidup bermanfaat terkhusus bgai orang-orang yang hidup di sekelilingku, ingin hidup tak sia-sia. Baiklah, akhirnya aku iyakan pinangan itu, sekalian menempa jiwa senitari yang pada waktu itu mulai kembali menggeliat dari tidurnya.
Akhirnya, aku mulai komunitas tari ini benar-benar dari nol. Dan aku mulai bisa merasakan keringat dan usaha selama ini tidaklah sia-sia saat komunitas kami ini mulai diterima di masyarakat Yogyakarta. Selanjutnya di kampus sendiri. Banyak tawaran manggung, anak-anak juga semakin semangat latihan. Sampai suatu kali kami bersama-sama memiliki i’tikad melaksanakan hajat senitari yang besar di kampus sendiri. Kami ingin mempersembahkan kreatifitas kami pada kampus tercinta. Kami ingin membuktikan, bahwa selama ini banyak bibit-bibit berkualitas di fakultas khususnya yang belum pernah diberdayakan dan sekarang telah bisa mengangkat nama harum dengan tangan dan kaki sendiri.
Aku bersama teman-teman mulai melakukan pembacaan, merumuskan konsep, menentukan tarian, membuat koreografi, merembugkan kostum, make-up, kepanitiaan, anggaran, mitra lokal, dll. Semuanya kami garap dengan serius selama lebih dari tiga bulan. Tentu saja,banyak yang kami perjuangkan dan relakan untuk semua itu. Dari waktu, tenaga, fikiran, materi,dst. Tapi semuanya menjadi indah dengan niat bersama dan tindakan bersama-sama.
Sampai tiba waktu itu, tanggal 8 Mei 2014, saat hari H tinggal beberapa hari lagi. Kami bersama-sama hunting kostum ke Magelang yang dekat dengan salah-satu rumah penari sekaligus panitia bagian artistik, Fity. Di sana kami sempatkan untuk merefsresh diri dengan bersenang senang pergi ke kebun salak tidak jauh dari rumahnya. Kami juga menyempatkan memandangi panorama perkebunan salak yang mengelebat dari sungai yang berudara segar dan airnya terasa dingin di kaki.
Sampai sore kami memberi hak pada tubuh dan fikiran untuk bersenang-senang. Dari Magelang, kami langsung menuju Student Center untuk kembali merapat dan melaporkan juga mengevaluasi kerja selama seminggu itu. Di sana, sudah ada Dimas Bayu yang aku ajak gabung dalam acara senitari ini. Aku ingin kelompok musiknya bisa berkolaborasi dengan kami. Aku menyalaminya dan seseorang yang berpenampilan nyentrik di sampingnya.
“Halimah” aku menyalami sambil menyebut nama
“Elek” kata sosok nyentrik itu menerima jabatan tanganku membuatku terperanjat. Tentu saja hal itu terdengar seperti ini “Halimah Elek” yang artinya “Halimah Jelek”. Membuatku teringat pada tokoh Sudrun di novelnya Agus Sunyoto.
Baiklah, rupanya kamu sudah menunggu dimana diriku menemukan diriku. Aku coba persingkat saja. Ceritanya, rapat yang sama sekali tidak formal dan tidak serius itu mengalir dengan menyenangkan. Bahak tawa terdengar mulai rapat dimulai sampai rapat benar-benar selesai. Tapi, sebenarnya, dan jikalau teman-teman memiliki daya tangkap yang cerdas dan peka, rapat ini adalah rapat yang sungguh-sungguh serius. Di sana, dalam perbincangan, kami menemukan dimana letak sosok yang menjadi tema besar kami ini, Kanjeng Sunan Kalijaga. Dimana ia bersembunyi dalam sekian banyak tarian yang akan kami tampilkan. Kangmas Elek yang memancing-mancing kami membuat pikiran-pikiran liarku kembali ngembara.
Lalu, malamnya, Kangmas Elek memancing-mancing emosiku yang sedang berada pada titik lelah memercik lagi. Dan akhirnya, benar-benar membakar. Diiringi salah-satu musik Kitaro yang benar-benar asing ditelingaku, aku biarkan tangan, lengan kaki, pinggul, kepala, mata, mulut, rambut-rambut, bulu kuduk, dan bulu-bulu yang lain terbawa arus musiknya. Malam itu sebelum aku “menyerahkan” semua milikku pada malam dan musik itu, mereka semua telah menyerahkan dirinya sendiri. Atau musik, malam, dan pancingan Kangmas Elek itulah yang merenggut mereka dariku!. Maksudku, aku pun terenggut bersama mereka. Aku bersama mereka semua melebur dan berserah pada malam juga sihir bernama musik. Di sanalah, saat aku mabuk, Kangmas Elek terlihat dengan sebaris senyumnya, melihatku menemukan diriku. Di sana pula, dalam mabuk, aku mendengar diriku menyebutnya Sang Guru. Meski sebelum benar-benar hilang, aku merebut kembali diriku dari entah siapa! “Begitu ya kamu, memutus emosi seseorang yang sedang kayang!” Kangmas Elek seolah ingin mengatakan bahwa dia tahu sesuatu dengan sikapnya yak tak biasa. Yang tidak seperti sebelum-sebelumnya, celelean.
30 Mei 2014






0 komentar:
Posting Komentar