Sengaja aku menulis kembali beberapa potong kalimat yang ada dalam sura-surat Kartini. Aku ingin kata-kata, ruh, nilai-nilai, dan gairah itu tidak hanya terpayar oleh mataku, lebih dari itu, aku ingin mereka benar-benar masuk dalam pikir dan nuraniku lalu menjalar lewat jari-jariku untuk kembali benar-benar masuk pada pikir dan nurani. Lagi. Membentuk semacam hegemoni kebaikan. Aku ingin diriku selalu dipenuhi dengan yang baik-baik agar yang buruk-buruk sedikit demi sedikit tergeser dan lama-lama hilang karena kehabisan tempat oleh yang baik-baik.
Kartini dan Cinta“Gadis Bunda hidup lagi, ia hidup sungguh-sungguh. Hatinya menyala dan bergetar lagi. Bukan lagi kesedihan yang menyanyat, bukan pula putus asa yang mencekam, melainkan cinta yang penuh dan dalam, menggema dalam hatiku. Saya ini tidak tahu berterimakasih, mengapa saya masih mengeluh, dengan kekayaan yang melimpah pada saya! Cinta itulah yang paling unggul! Ia paling kaya kalau ia memberi. Dan saya dapat, saya akan memberi cinta di sekitarku dengan tangan penuh. Betapa banyaknya orang yang lapar dan haus akan sekedar cinta!” (kepada Ny. Abendanon, 3 november 1903)
“ Jika kita mencintai, maka yang paling kita inginkan ialah agar supaya yang kita cintai, menjadi bahagia. Bukan begitukah? Maka bahagialah ia yang banyak mencintai dan banyak dicintai. Saya tidak bicara tentang cinta antara pria dan wanita. Itu soal yang rumit dan saya tidak mempunyai pendapat mengenai itu. Saya bicara tentang cinta yang orang rasakan terhadap orang banyak, meskipun terhadap yang satu caranya lain daripada terhadap yang lain.”
(21 november 1902)
Kartini dan Membaca
Sejak kecil Kartini memang sudah sangat suka membaca. Bacaan itu baginya membuka dunia baru yang kaya raya. Alam yang lain, penuh keramaian, keajaiban, barang-barang baru, yang semuanya sangat berlainan dari hidupnya sehari-hari. Tanpa bacaan ia menjadi haus akan pengetahuan. Sekarang dalam pingitan ia mempunyai banyak waktu. Tiap hari pagi-pagi ia mengerjakan apa yang ditugaskan kepadanya. Sesudah itu ia membaca….dan membaca… dan membaca. Ia baca segala macam bacaan yang datang padanya, tanpa milih-milih, tanpa tuntutan, tanpa rencana,. Membaca bagi Kartini menjadi suatu nafsu.
(Hlm. 72)
Sejak kecil Kartini memang sudah sangat suka membaca. Bacaan itu baginya membuka dunia baru yang kaya raya. Alam yang lain, penuh keramaian, keajaiban, barang-barang baru, yang semuanya sangat berlainan dari hidupnya sehari-hari. Tanpa bacaan ia menjadi haus akan pengetahuan. Sekarang dalam pingitan ia mempunyai banyak waktu. Tiap hari pagi-pagi ia mengerjakan apa yang ditugaskan kepadanya. Sesudah itu ia membaca….dan membaca… dan membaca. Ia baca segala macam bacaan yang datang padanya, tanpa milih-milih, tanpa tuntutan, tanpa rencana,. Membaca bagi Kartini menjadi suatu nafsu.
(Hlm. 72)
Kartini dan Poligami
Aduh Gusti, jadi begitukah? Dipaksa… dimadu… diterlantarkan, dicerai…! Semua itu menggantung di atas kepalanya bagaikan pedang Demokles! Sekarang semuanya menjadi jelas bagi Kartini. Kenyataan itu begitu kejam, mematahkan semangat gadis kecil yang hatinya masih murni, masih penuh pikiran-pikiran yang luhur dan suci. Baginya segala yang menyiksa orang lain itu dosa. Mengapa dosa yang demikian besarnya itu dipertahankan berabad-abad lamanya, tanpa ada yang memberontak?
(hlman. 53)
Aduh Gusti, jadi begitukah? Dipaksa… dimadu… diterlantarkan, dicerai…! Semua itu menggantung di atas kepalanya bagaikan pedang Demokles! Sekarang semuanya menjadi jelas bagi Kartini. Kenyataan itu begitu kejam, mematahkan semangat gadis kecil yang hatinya masih murni, masih penuh pikiran-pikiran yang luhur dan suci. Baginya segala yang menyiksa orang lain itu dosa. Mengapa dosa yang demikian besarnya itu dipertahankan berabad-abad lamanya, tanpa ada yang memberontak?
(hlman. 53)
Nyonya H. de Booy-Boissevain.
“Tatapan mata Kartini langsung dan menawan. Matanya besar, hitam dan penuh perasaan. Di dalamnya, seolah-olah mengandung suatu pertanyaan yang halus. Ia Nampak begitu jelita. Aku taka akan dapat melupakan saat waktu aku melihatnya untuk pertama kali pada bulan September 1900 bersama kedua adiknya di serambi muka Istana Gubernur jendral Buitenzorg (Bogor). Ketiganya berpakaian serupa; bajunya dari sutera biru laut dihias dengan renda perak, dengan kain bagus dan kakinya memakai selop indah. Ia bicara bahasa Belanda dengan sempurna, bernada lembut, gerak-geriknya menarik hati tanpa tanda malu-malu. Aku sangat kagum padanya, apalagi setelah ia menceritakan bahwa putri-putri ningrat seperti mereka, tidak diperbolehkan untuk keluar pada kesempatan umum: dan bahwa mereka telah menyimpang dari adat kuno dan membawa serta mereka pergi ke Batawia. ‘Apalagi saya ini sudah perawan tua.’ Kata kartini yang umurnya 21 tahun itu, ‘saya toh tidak akan kawin!"
“Tatapan mata Kartini langsung dan menawan. Matanya besar, hitam dan penuh perasaan. Di dalamnya, seolah-olah mengandung suatu pertanyaan yang halus. Ia Nampak begitu jelita. Aku taka akan dapat melupakan saat waktu aku melihatnya untuk pertama kali pada bulan September 1900 bersama kedua adiknya di serambi muka Istana Gubernur jendral Buitenzorg (Bogor). Ketiganya berpakaian serupa; bajunya dari sutera biru laut dihias dengan renda perak, dengan kain bagus dan kakinya memakai selop indah. Ia bicara bahasa Belanda dengan sempurna, bernada lembut, gerak-geriknya menarik hati tanpa tanda malu-malu. Aku sangat kagum padanya, apalagi setelah ia menceritakan bahwa putri-putri ningrat seperti mereka, tidak diperbolehkan untuk keluar pada kesempatan umum: dan bahwa mereka telah menyimpang dari adat kuno dan membawa serta mereka pergi ke Batawia. ‘Apalagi saya ini sudah perawan tua.’ Kata kartini yang umurnya 21 tahun itu, ‘saya toh tidak akan kawin!"
Kartini dan Ibu:
"Dan nama Ibu itu keramat! Pada saat-saat putus asa dan sakit bibir kami yang pucat berkomat-kamit, membisikkan nama Ibu. Ibulah dan sekali lagi Ibu yang selalu kami panggil-panggil, bilama kami membutuhkan pertolongan dan bantuan… dalam memanggil nama Ibu waktu menderita atau pada saat-saat yang gawat terletak penghormatan kami kepada Ibu. Mengapa kami toidak memanggil nama Ayah, mengapa justru Ibu? Karena naluri kami sejak kecil merasa, bahwa Ibu berarti Cinta dan pengorbanan yang tiada habisnya! Secara impulsif kadang-kadang Ibu juga mengeluarkan kata kesayangan pada anak. Misalnya bilamana sesuatu barang lepas dan jatuh dari tangan kami, akan dipungutnya dengan ucapan: ‘O Allah angger!’"
(Surat kepada Stella 15 Agustus 1902)
Kartini dan Puisi:
"Semua yang agung dan indah dalam hidup adalah puisi. Cinta, kesungguhan, setia, kepercayaan, seni, semua yang meningkatkan jiwa, yang memuliakan dan memperindah adalah puisi. Rakyat Jawa dan puisi sangat erat berkaitan. Orang Jawa yang paling rendah pun masih puitis." (Surat kepada Stella, 15 Agustus 1902)
Ia selalu bermain, tidak pernah diam dan suka tertawa terbahak-bahak. Ia senang di sekolah karena dapat tertawa dengan bebas. Sebab, di Kabupaten, “tertawa terbahak-bahak” itu, meskipun anak kecil, dianggap “tidak sopan”. (Hlm. 41)
“Saya dinamakan “kuda kore”, kuda liar, karena saya jarang berjalan tetapi selalu meloncat-loncat dan berlari-lari: dan bagaimana saya dimaki-maki, karena saya terlalu sering tertawa terbahak-bahak yang dikatakan ‘tidak pantas’ oleh sebab memperlihatkan gigi saya.
(Surat kepada Ny. Abendadon, Agustus 1900)
Kartini dan Klain Scevening
“Lautnya teramat bagus, begitu datar, dan betapa indahnya permainan warna yang diciptakan di atasnya oleh matahari yang sedang terbenam. Seolah-olah orang melihat satu tiram mutiara yang teramat besar. Di sebelah barat langit seluruhnya seperti terbakar; di sebelah selatan di mana langit dan laut bertemu, warnanya ungu halus. Betapa nyamannya warna biru tua di atas kepala kami, bagi mata kami, setelah disilaukan oleh segala yang gemerlap tadi! Dan di tengah-tengah segala keindahan itu, sambil duduk di atas pasir yang putih murni, kaki kami di dalam air, kami hidup kembali dalam impian bahagia itu!”
"Dan nama Ibu itu keramat! Pada saat-saat putus asa dan sakit bibir kami yang pucat berkomat-kamit, membisikkan nama Ibu. Ibulah dan sekali lagi Ibu yang selalu kami panggil-panggil, bilama kami membutuhkan pertolongan dan bantuan… dalam memanggil nama Ibu waktu menderita atau pada saat-saat yang gawat terletak penghormatan kami kepada Ibu. Mengapa kami toidak memanggil nama Ayah, mengapa justru Ibu? Karena naluri kami sejak kecil merasa, bahwa Ibu berarti Cinta dan pengorbanan yang tiada habisnya! Secara impulsif kadang-kadang Ibu juga mengeluarkan kata kesayangan pada anak. Misalnya bilamana sesuatu barang lepas dan jatuh dari tangan kami, akan dipungutnya dengan ucapan: ‘O Allah angger!’"
(Surat kepada Stella 15 Agustus 1902)
Kartini dan Puisi:
"Semua yang agung dan indah dalam hidup adalah puisi. Cinta, kesungguhan, setia, kepercayaan, seni, semua yang meningkatkan jiwa, yang memuliakan dan memperindah adalah puisi. Rakyat Jawa dan puisi sangat erat berkaitan. Orang Jawa yang paling rendah pun masih puitis." (Surat kepada Stella, 15 Agustus 1902)
Ia selalu bermain, tidak pernah diam dan suka tertawa terbahak-bahak. Ia senang di sekolah karena dapat tertawa dengan bebas. Sebab, di Kabupaten, “tertawa terbahak-bahak” itu, meskipun anak kecil, dianggap “tidak sopan”. (Hlm. 41)
“Saya dinamakan “kuda kore”, kuda liar, karena saya jarang berjalan tetapi selalu meloncat-loncat dan berlari-lari: dan bagaimana saya dimaki-maki, karena saya terlalu sering tertawa terbahak-bahak yang dikatakan ‘tidak pantas’ oleh sebab memperlihatkan gigi saya.
(Surat kepada Ny. Abendadon, Agustus 1900)
Kartini dan Klain Scevening
“Lautnya teramat bagus, begitu datar, dan betapa indahnya permainan warna yang diciptakan di atasnya oleh matahari yang sedang terbenam. Seolah-olah orang melihat satu tiram mutiara yang teramat besar. Di sebelah barat langit seluruhnya seperti terbakar; di sebelah selatan di mana langit dan laut bertemu, warnanya ungu halus. Betapa nyamannya warna biru tua di atas kepala kami, bagi mata kami, setelah disilaukan oleh segala yang gemerlap tadi! Dan di tengah-tengah segala keindahan itu, sambil duduk di atas pasir yang putih murni, kaki kami di dalam air, kami hidup kembali dalam impian bahagia itu!”


0 komentar:
Posting Komentar