Minggu, 06 April 2014

Kesaksian Pasar Gadang

Jikalau Anda sempat bermain ke Malang, Anda bisa mampir ke pasar sayur yang cukup besar di sana, pasar Gadang orang menyebutnya. Pasar Gadang merupakan pasar transit segala macam sayuran, buah-buahan yang langsung dibawa dari desa bagian Malang selatan. Tentu saja hasil pertanian dan perkebunan yang masih segar-segar. Begitu pula ikan-ikan yang dibawa dari daerah pesisir. Mereka yang membawa dari desa atau daerah pesisir tidak menjualnya eceran atau menjual dengan sedikit-sedikit, melainkan langsung dalam jumlah yang besar dan banyak. Nah, penjual yang asli bermukim di kota Malang dan kebanyakan yang berada di sekitar pasar Gadanglah yang membeli dagangan dengan jumlah besar itu. Di sini, nantinya mereka akan mengopernya ke pembeli lain untuk akhirnya dijual eceran, kiloan. Yang jelas, tidak sebesar jumlah seperti yang dibeli dari produsen asli.

Di pasar ini jugalah ibuk saya berjualan, berdagang. Dan uang dari hasil penjualan itulah yang akhirnya dikirim ke Jogja, Bangil, Pasuruan, dan Madura. Kami semua, anak-anaknya yang tersebar dimana-mana. Waktu itu ibuk saya adalah pedagang pemula (meski berapa belas tahun yang lalu juga sudah ada pengalaman berdagang) di sana. Layaknya pedagang pemula yang lain, konsumen masih jarang, masih belum ada juga pelanggan. Laba pun, akhirnya sangat sedikit.

Ibuk berdagang dengan bondo nekat. Karena suatu kali bapak sudah menyerah, kelelahan, dan pasrah dan mengaku tidak bisa lagi membiayai kami semua anak-anaknya (karena perda dan peristiwa penggusuran kios bapak), ibuk mengaku muntab! Tidak rela nak-anaknya putus sekolah sebagaimana dirinya berapa puluh tahun yang lalu. Dalam keadaan marah, ibuk berjalan dan mendatangi beberapa tetangga untuk meminjam uang. Dengan bekal uang secukupnya, ibuk berangkat ke pasar Gadang dan memborong semua sayuran dan buah-buahan dari penjual yang baru datang dari desa. Di pinggiran pasar yang becek (karena orang baru dan tentu saja tidak memiliki tempat juga kenalan. Belum lagi para preman yang suka memalak dan mengganggu), ibuk menyeret meja yang sudah jelek. Menutupinya dengan palstik-plastik seadanya. Lalu menata dagangannya dengan tlaten. Saat itu, bapak datang dengan lesu (mungkin juga merasa bersalah bercampur tak enak hati, kasihan, dan tak tega) dan membantunya karena tidak tega. Ibuk yang sedang marah, tetap fokus pada dagangannya tanpa menghiraukan bapak. Tapi begitulah bapak dan ibuk, sungguh pasangan yang luar biasa setia dan saling toleransi. Pasangan yang selalu bertukar pikiran dan bekerjasama meski ada sesekali percekcokan yang datang sebagai bumbu dalam harmonisnya rumahtangga.

Begitulah. Lambat laun ibuk punya pelanggan. Terkadang mendapatkan laba yang lumayan, terkadang hanya bisa balik modal dan untuk membayar hutang, juga tak jarang diterjang kerugian besar-besaran. Tapi bukan ibukku kalau menyerah begitu saja. Ibuk akan bangkit lagi tanpa mengeluh. Sungguh ibukku perkasa dan luar biasa. Beruntung sekali selama sembilan bulan pernah berada di hangat rahimnya.

Seperti suatu kali, saat modal benar-benar habis dan ibuk akhirnya meminjam uang pada adik laki-lakinya sebesar tujuh juta untuk memulai kembali. Waktu itu surup-surup, setelah bapak dan ibuk kulakakan dagangan dengan jumlah yang besar dan sedang menatanya, adzan mahgrib tiba. Ibuk mengajak berjama’ah, tapi diurungkan karena siapa nanti yang akan menjaga dagangan. Akhirnya ibuk meminta bapak untuk ke musholla terlebih dahulu dan bisa sholat bergantian. Bapak menjulurkan uang tujuh juta (dalam sebuah wadah yang dibuntel kresek) yang akan dibuat membayar dagangannya ke tangan ibuk. Ibuk menolak, karena khawatir tak aman. Lebih aman dibawa ke musholla saja, tempat yang lebih aman.  Akhirnya uang pinjaman itu masih berada di bapak. Disimpan dan dijaganya dengan baik-baik.

Ibuk sudah selesai menata dagangannya saat bapak sudah muncul lagi dari arah musholla. Dengan tersenyum, ibu bersiap-siap juga akan melaksanakan sholat. Tapi sebelumnya, ibuk bilang pada bapak untuk membayar dagangan yang telah ia beli dari tengkulak. Tapi wajah bapak lesu dan sangat lemas. Sorot matanya ke tanah, seperti tak ada keberanian menatap wajah kekasihnya meski sekedar mengangkat kepala. Hati ibuk rontok dan bumi di bawah kakinya seakan lebur dan berguncang hebat saat mendengar dari mulut bapak kalau uang pinjaman untuk membayar ke tengkulak itu hilang! Ya, hilang dicuri orang.

Ibuk sangat lemas, bapak sangat merasa bersalah, dan pasar riuh. Banyak yang bilang, ibuk sudah diincar karena orang baru. Banyak juga yang bilang, musholla itu memang sarangnya pencuri. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana langkah bapak dan ibuk saat pulang dari pasar. Bagaimana mereka berjalan dan menghentikan mikrolet. Bagaimana mereka berjalan dari gang di atas, dan turun ke bawah, ke rumah kami. Bagaimana saat ibuk masuk kamar dan menangis dengan menjerit memilukan. Bagaimana bapak dengan perasaan bersalahnya menenangkan ibuk di samping hatinya sendiri sedang berkecamuk. Bagaimana saya saat mendengar cerita itu dan menuliskannya seperti sekarang. Bagaimana saya tidak ingat, pada hari itu juga, di Jogja, uang saya ludes dicuri teman sendiri. Bagaimana saya lupa, saat itu juga mengabarkan pada bapak-ibuk karena akhirnya tak sepeser pun saya memegang uang. Bagaimana saya lupa, bahwa suara ibuk waktu itu sangat tegar seakan di rumah sedang tidak terjadi apa-apa[]

0 komentar:

Posting Komentar