Minggu, 06 April 2014

BAPAK DAN PANDANGANNYA


Cerita Bapak
Sepulang dari kerja, bapak bercerita tentang obrolannya dengan seorang lelaki seputar Islam di lini fiqhiyyah. Waktu itu bapak bertemu dan mengobrol dengannya di mikrolet, sebuah angkutan kota di kota Malang. Kata bapak, banyak perbedaan beberapa aturan dalam sholat (terkait dengan rukum, sunnah muakkadah, dan ghoiru muakkadahnya) antara yang biasanya dilakukan oleh bapak dan keterangan darinya. Dan parahnya, masih kata bapak, dia dan golongan sesama aliran muslimnya, tidak melaksanakan sholat Jum’at. Katanya, sholat Jum’at hanyalah rekaya manusia. Dan manusia lain yang dho’if  dan mudah terpengaruh, begitu saja mempercayai dan melakukannya. Mereka juga golongan muslim yang tidak percaya kitab-kitab (saya juga lupa bertanya, yang dimaksud itu empat kitab yang diberikan kepada para rasul atau kitab-kitab kuning seperti di pesantren-pesantren).

“Loh, terus melewati apa Anda tahu tentang kebenaran Islam dan ajaran yang Sampeyan laksanakan jika tidak melalui kitab-kitab?,” kata bapak bertanya. “Lewat wahyu, tentu saja,” jawabnya yang membuat bapak ingin tertawa, dan katanya, bapak memang tertawa tapi dalam hati. Lalu untuk menawarkan keterkejutannya bapak menoleh ke arah penumpang lain. Dan masih kata bapak, seorang muslimah di sudut sana, terlihat menahan tawa. Kata bapak, pasti itu merupakan respon yang sama dari  mbak-mbak itu. dan bapak juga sempat berfikir bahwa lelaki ini sudah sesat. Atau jangan-jangan orang syi’ah Sampang yang ditampung di Porong.

Pandanganku
Pertama, perbedaan dalam Islam adalah keniscayaan. Seperti sebuah keniscayaan perbedaan fatwa ulama’ karena bedanya penafsiran mereka. Bedanya penafsiran mereka, dilatarbelakangi kemampuan menangkap interpretasi dari teks yang berbeda pula. Ragamnya kemampuan menangkap teks, tergantung sejauh mana pengetahuan dan pengalaman yang ada dalam otak dan nurani mereka. Semisal, Imam Syafi’i yang berbeda pendapat dengan murid Abu Hanifah sampai-sampai keduanya berdebat semalam suntuk sampai subuh. Dan mungkin masih banyak lagi.

Kedua, mengingat tulisan salah seorang teman dalam salah-satu blognya, bahwa mengkafirkan atau menyesatkan itu tidak mudah. Dia menulis, bahwa al-Ghazali, pernah mengatakan dalam salah-satu kitabnya tentang kapan kita bisa menyatakan sesat (bukan kafir) atau tidaknya sebuah aliran muslim. Ada ushuliyah ada furu’iyyah. Ushuliyyah ala al-Ghazali dalam kitabnya itu adalah percaya pada Allah, Muhammad, dan hari akhir. Furu’iyyah, di luar ushuliyyah. Selama seorang itu masih dalam tataran ushuliyyah, kita mesti menjauhi dari menyesatkan golongan lain karena perbedaannya. Apalagi mengkafirkan, karena konsekuensi seorang kafir adalah halal darahnya. Bisa kita bayangkan, kalau mudah sekali kita mengkafirkan seseorang, betapa banyak darah yang halal dibunuh saat itu juga.

Selanjutnya, tentang sikap bapak. Sikap bapak adalah sebaik-baiknya sikap dalam merespon kenyataan itu. Pertama, karena bapak bukanlah seorang yang berpindidikan. Dalam artian, semenjak kecil bapak tidak kenyang ilmu pengetahuan di bangku sekolah. Sekolah Dasar saja tidak lulus karena pada zaman dimana bapak hidup, pendidikan masih belum dirasa penting (Bagimana mau sekolah, lawong cari makan aja sulit. Bagaimana mau mikir, lawong perut sudah keroncongan selama berhari-hari) Jadi, tentang keberagamaan bapak pun, setidaknya dengan gondelan sarunge ulama’, sarunge kiai. Kedua, selama ini bapak hidup di lingkungan Islam yang homogen. Islam NU tradisonal. Meski setelah pindah ke Malang, sudah masuk ke lingkungan keberagamaan yang heterogen. Agama yang berwarna, bukan Islam yang berwarna. Jangankan bapak yang bisa dibilang kurang intelek, banyak orang-orang yang intelek mengatakan lebih mudah bertoleransi dengan agama di luar Islam daripada dengan sesama Islam dari golongan yang berbeda.

Ah, tapi bapak adalah superman. Selalu ada di samping ibuk dan setia bersama-sama megunduh nafkah di dunia secukupnya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Betapa ini bukan mukjizat? Bapak dan ibuk yang pendidikannya tergolong nol putdul bisa menyekolahkan keempat anaknya. Saya dan kedua adik semenjak kecil dikirim untuk menimba ilmu di pesantren yang berbeda-beda. Bahkan kedua adik pas setelah saya, sudah dua kali pindah pesantren. Adik yang kedua, sedang (atau sudah barangkali) ujian akhir SMAnya dan sedang proses mencari informasi kuliah. Saya sendiri, sudah hampir enam tahun di Jogja, dan sekarang sedang akan memulai proses skripsi. Bismillah.
Bapak dan ibuk yang bersahaja. Sangat sederhana. Kalianlah sebenar-benarnya seorang guru,,, maturnuwun…

0 komentar:

Posting Komentar