Jumat, 04 April 2014

Budhist di Batu Malang



Tanggal 20 malam di bulan Maret, aku jadi berangkat ke Malang. Aku dan mbak Isma janjian untuk bertemu di Stasiun Tugu. Ya, semalam kami melipat malam di salah-satu gerbong kereta api Malioboro Express. Seperti rencana, setelah mengobrol kesana kemari dengan mbak Isma --seputar pelecehan seksual pada mahasiswa, pluralisme, dan tentu saja tentang cerita-cerita mbak Isma saat di negri tetangga--aku juga benar-benar menghabiskan moment di dalam kereta dengan membaca buku tentang pengalaman dan proses kreatif para penulis perempuan. Ya, aku selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan moment puitik.

Udara dingin mulai menyapa saat kusadari kereta sudah transit di Stasiun Kepanjen. Aroma Malang yang khas juga mulai terasa. Sebentar lagi kereta akan melewati Stasiun Kota Lama dan selanjutnya Stasiun Kota Baru.  Stasiun dimana aku dan mbak Isma akan turun. Dan di sana, sudah ada dua pegawai atau mahasiswa STAB (Sekolah Tinggi Agama Budha Kertarajasa Batu yang menunggu kami di depan mobil.
Sambil menikmati panorama kota Malang di pagi hari yang sangat perawan dari kaca mobil, mbak Isma bercerita tentang Nepal. Katanya, penataan kabel-kabel listrik di sana sangat tidak rapi. Mbak Isma bilang, di kota itu, sempat memotret buntalan kabel yang bagai benang carut marut. Sedang aku mengatakan,  sangat tertarik memperhatikan langitnya. Langit-langit setiap kota yang aku singgahi. Secara fisika atau umumnya,  mungkin langit itu dimana-mana saja sama. Tapi bagiku, langit setiap kota itu berbeda-beda. Memiliki pesona dan khas masing-masing. Mbak Isma tertawa. “Iya, seperti langit Jogja yang bagiku terlihat lebih luas dan lebih tajam karakternya. Dan langit Malang, menyuguhkan kedamain dan kesahajaannya,” kataku dengan mataku yang masih memandangi pertokoan yang berjejer-jejer.



Kertarajasa Batu. Kami sampai  juga di sekolah tinggi ini. Sangat sejuk dengan pepohonan dan cericit burung-burung emprit. Suasana Semakin terasa romantik saat gerimis menyusul. Gerimis yang anggun. Aku pandangi benar-benar rinai gerimis yang kecil-kecil, lebat tapi sangat pelan jatuhnya ke bumi. Aromanya, hmm… sangat khas dan segar.
Tiba-tiba kami melihat dari arah sana seorang bikhu dengan seorang sam dengan memakai baju yang khas, orange dan kuning. Di bawah rinai gerimis, seorang sam yang jauh lebih muda dari gurunya memayunginya dengan penuh ta’dzim. Menghampiri kami tamu yang datangnya jauh dari Jogja ini untuk turut sarapan bersama sam-sila dan keluarga Budhist yang lain dengan sangat ramah.
Saya dan mbak Isma sarapan sangat pagi sekali di sebuah ruangan yang mirip padepokan. Ruangan yang sangat nyaman. Ruangan yang terbuka ini diapit beberapa pohon besar, dan tumbuhan yang merambat di beberapa bagiannya. Serta bunga-bungaan yang bermekaran di sana-sini. Di luar, tentu saja masih gerimis. Hm.. suasana sarapan yang indah.  Kuedarkan juga pandangan pada beberapa meja bundar yang lain. Ada beberapa di sana sam (mahasiswa laki-laki) dengan baju orangenya yang khas dengan tenang menyelesaikan sarapannya. Juga di bagian sana ada beberapa sila (mahasiswi) dengan baju khasnya yang berwarna putih sedang mengunyah makanannya dengan tenang dan begitu khusyu’. Ah, cerminan emosinal yang sangat tenang.


Saya dan mbak Isma diantar ke Padepokan Dhammadipa Arama oleh seorang Sila. Kunthi, padepokan ini lebih akrab disebut. Semacam rumah joglo tepat dimana para Sila bertinggal dan tentu saja para tetamu yang berniat untuk melakukan vipassana, sebuah laku meditasi.
Setelah  session creative writing tadi pagi, aku berkesempatan menikmati kamar sendirian. Mengabadikan moment tadi pagi lewat tulisan ini. Mbak Isma sedang mengisi kuliah tentang Sejarah Agama-agama. Tentu saja aku menunggu ceritanya. Aku ingin tahu bagaimana Islam di mata mereka. Juga respon mereka tentang apa yang akan disamapikan oleh mbak Isma. Ah, pasti senang sekali bisa berbagi ilmu dan pengalaman pada saudara beda agama.

Ya, sore ini aku  masihberada di salah-satu kamar padepokan Dhmmadipa Arama STAB Batu. Ditemani hujan yang menyuguhkan romantisme, juga lagu-lagu Koes Plus yang menambah keteduhan. Sekarang, saat aku menulis ini lagu Why do you love me sedang berputar. Lagu dan lirik yang begitu ah deh pokoknya!

0 komentar:

Posting Komentar