Tanggal 20 malam di bulan
Maret, aku jadi berangkat ke Malang. Aku dan mbak Isma janjian untuk bertemu di
Stasiun Tugu. Ya, semalam kami melipat malam di salah-satu gerbong kereta api
Malioboro Express. Seperti rencana, setelah mengobrol kesana kemari dengan mbak
Isma --seputar pelecehan seksual pada mahasiswa, pluralisme, dan tentu saja
tentang cerita-cerita mbak Isma saat di negri tetangga--aku juga benar-benar
menghabiskan moment di dalam kereta dengan membaca buku tentang pengalaman dan
proses kreatif para penulis perempuan. Ya, aku selalu mencari kesempatan untuk
mendapatkan moment puitik.
Udara dingin mulai menyapa
saat kusadari kereta sudah transit di Stasiun Kepanjen. Aroma Malang yang khas
juga mulai terasa. Sebentar lagi kereta akan melewati Stasiun Kota Lama dan
selanjutnya Stasiun Kota Baru. Stasiun
dimana aku dan mbak Isma akan turun. Dan di sana, sudah ada dua pegawai atau
mahasiswa STAB (Sekolah Tinggi Agama Budha Kertarajasa Batu yang menunggu kami
di depan mobil.
Sambil menikmati panorama
kota Malang di pagi hari yang sangat perawan dari kaca mobil, mbak Isma
bercerita tentang Nepal. Katanya, penataan kabel-kabel listrik di sana sangat
tidak rapi. Mbak Isma bilang, di kota itu, sempat memotret buntalan kabel yang
bagai benang carut marut. Sedang aku mengatakan, sangat tertarik memperhatikan langitnya.
Langit-langit setiap kota yang aku singgahi. Secara fisika atau umumnya, mungkin langit itu dimana-mana saja sama. Tapi
bagiku, langit setiap kota itu berbeda-beda. Memiliki pesona dan khas masing-masing.
Mbak Isma tertawa. “Iya, seperti langit Jogja yang bagiku terlihat lebih luas
dan lebih tajam karakternya. Dan langit Malang, menyuguhkan kedamain dan
kesahajaannya,” kataku dengan mataku yang masih memandangi pertokoan yang
berjejer-jejer.

Kertarajasa Batu. Kami
sampai juga di sekolah tinggi ini.
Sangat sejuk dengan pepohonan dan cericit burung-burung emprit. Suasana
Semakin terasa romantik saat gerimis menyusul. Gerimis yang anggun. Aku
pandangi benar-benar rinai gerimis yang kecil-kecil, lebat tapi sangat pelan
jatuhnya ke bumi. Aromanya, hmm… sangat khas dan segar.
Tiba-tiba kami melihat
dari arah sana seorang bikhu dengan seorang sam dengan memakai baju yang khas,
orange dan kuning. Di bawah rinai gerimis, seorang sam yang jauh lebih muda dari
gurunya memayunginya dengan penuh ta’dzim. Menghampiri kami tamu yang datangnya
jauh dari Jogja ini untuk turut sarapan bersama sam-sila dan keluarga Budhist
yang lain dengan sangat ramah.
Saya dan mbak Isma sarapan
sangat pagi sekali di sebuah ruangan yang mirip padepokan. Ruangan yang sangat
nyaman. Ruangan yang terbuka ini diapit beberapa pohon besar, dan tumbuhan yang
merambat di beberapa bagiannya. Serta bunga-bungaan yang bermekaran di
sana-sini. Di luar, tentu saja masih gerimis. Hm.. suasana sarapan yang
indah. Kuedarkan juga pandangan pada
beberapa meja bundar yang lain. Ada beberapa di sana sam (mahasiswa laki-laki)
dengan baju orangenya yang khas dengan tenang menyelesaikan sarapannya. Juga di
bagian sana ada beberapa sila (mahasiswi) dengan baju khasnya yang berwarna
putih sedang mengunyah makanannya dengan tenang dan begitu khusyu’. Ah,
cerminan emosinal yang sangat tenang.

Saya dan mbak Isma diantar
ke Padepokan Dhammadipa Arama oleh seorang Sila. Kunthi, padepokan ini lebih
akrab disebut. Semacam rumah joglo tepat dimana para Sila bertinggal dan tentu
saja para tetamu yang berniat untuk melakukan vipassana, sebuah laku meditasi.
Setelah
session creative writing tadi pagi, aku berkesempatan menikmati kamar
sendirian. Mengabadikan moment tadi pagi lewat tulisan ini. Mbak Isma sedang
mengisi kuliah tentang Sejarah Agama-agama. Tentu saja aku menunggu ceritanya.
Aku ingin tahu bagaimana Islam di mata mereka. Juga respon mereka tentang apa
yang akan disamapikan oleh mbak Isma. Ah, pasti senang sekali bisa berbagi ilmu
dan pengalaman pada saudara beda agama.

0 komentar:
Posting Komentar