Sejak fajar belum muncul, perempuan tengah baya itu sudah menghidupkan kehidupan. Air dingin yang menggigit sudah bersahabat dengan tubuhnya. Konon, itu adalah kebiasaan sejak muda. Tak aneh jika di usianya yang sudah terbilang senja masih segar dan lincah, dan enak dipandang.
Fajar sudah muncul saat perempuan itu menggas motornya dari rumah di Gendeng ke salah-satu pasar sayur besar di Jogjakarta seperti Giwangan. Disana dia biasa kulakan segala macam sayuran, ikan, tempe, dan bahan-bahan dagang yang lain. Sendirian, dia kelola dan mengangkut calon bahan-bahan dagangannya ke rumah.
Sehabis subuh, perempuan itu sudah menggelar dagangannya di pinggir jalan. Tepatnya di pinggiran rel kereta api. Di atas meja kayu yang terbilang cukup sederhana ia tata bahan-bahan dagangan yang telah ia kulak fajar tadi.
Terkadang aku melihat gurat-guratan yang sudah mulai terlihat di dahi dan di bawah matanya. Sambil mencuci di depan rumah, terkadang pula kutemani perempuan baya itu dengan mengobrol ringan. Dari masa mudanya, pindahnya ke Jogjakarta pada masa perawan dan menjadi penjual jamu gendong, pertemuannya dengan bapak, masa-masa sulit di awal-awal pernikahan sampai mampu membeli rumah yang sederhana di tengah-tengah kerasnya kehidupan di kota metropolitan seperti Jogjakarta ini.
Disamping bapak menjadi buruh bangunan yang tidak tetap dan gaji tidak seberapa, ibu meneruskan profesinya sebagai penjual jamu gendong untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan keringat dan air mata, ibu telah membesarkan tiga orang anak. Dua lelaki dan satu perempuan. Anak pertama telah sukses menjadi salah-satu pengusaha kecil-kecilan. Rumah besar, punya mobil, dan beberapa petak kolam ikan, seorang anak, dan istri yang sholihah. Anak kedua memang kurang beruntung karena harus berpisah dengan istri dan harus mengurus anak laki-laki dengan pendapatan yang bisa terbilang cukup. Dan masih tinggal serumah dengan ibu. Anak ketiga dan satu-satunya perempuan telah lulus SMK dan langsung dipinang dan menikah. Sekarang telah bekerja di salah-satu hotel dan menempati posisi yang lumayan. Sekretaris hotel. Memiliki suami yang juga bekerja, dan seorang bayi perempuan. Tapi masih sering berdiam di rumah ibu. Sekarang menempati salah-satu kamar kost yang sedang kosong.
Meski seperti itu, ternyata kehidupan sangat sayang pada perempuan itu. Kehidupan tidak ingin melihat ibu hidup tanpa guna. Kehidupan barangkali menginginkan ibu terus menjalani hakikat hidup, “proses menjadi”. Dengan mentasnya anak-anak, bukan berarti beban ibu menjadi ringan. Cucu lelaki dari anak kedua dan cucu perempuannya yang masih bayi ada di bawah asuhan dan perawatannya.
Tidak jarang pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke pinggir jalan untuk menggelar dagangannya, ibu harus membangunkan cucu lelakinya agar tidak telat sekolah. Menyuapinya setelah pulang dari sekolah padahal keadaan ibu sedang lelah sekali karena baru saja pulang dari berdagang di bawah terik. Dimana berdagang pun sekarang dilauinya sambil menggendong cucunya yang masih bayi. Yang juga masih perlu dibuatkan susu, disuapin, dan sering mengompol.
Beberapa bulan terakhir ini, memang seringkali aku melihat ibu lebih ngoyo dari beberapa bulan sebelumnya. Karena sepulang dari berdagang, dengan menggendong bayi, dia harus menjemput cucunya ke sekolah. Lalu menyuapi keduanya—juga dilakukan sambil menggendong--. Mencuci bajunya, baju suami, dan baju kedua cucunya di depan rumah sambil menggendong.
Seringkali aku mengurungkan niat membeli di toko ibu—yang dibuka setelah pulang dari berdagang—karena kasihan melihatnya tertidur kelelahan dengan bayi di sampingnya yang berceloteh sendiri karena kenyang.
Sungguh, tidak bisa rasanya tidak menuliskan satu kisah perempuan perkasa dari sekian banyaknya perempuan-perempuan perkasa lainnya, yang begitu banyak berhamburan di sudut-sudut dunia ini.
Suatu hal yang mencengangkan lagi adalah ketika lampu kamarku mengalami masalah. Bapak-ibukpun turun untuk mengecek. Tapi, betapa terkejutnya aku, saat ibulah yang berjongkok dan bapak naik di bahunya agar sampai menjangkau lampu di atas. Betapa aku tidak terkejut?! Dan hampi saja aku berteriak tapi buru-buru kukuasai diriku sendiri demi menjaga perasaan pasangan suami istri itu[]
0 komentar:
Posting Komentar