Kamis, 13 Maret 2014

KADO DARI TUHAN DI SEBUAH TAHUN

Biarkanlah kamu menjadi kado dari Tuhan
Bersama ia yang memang diutus Tuhan menjadi kado untukku
Kamu dan ia adalah kado yang saling berkelindan dari Tuhan, untukku...


Surup-surup. Saat matahari sudah turun. Saat cahayanya yang kemuning seperti kuning telor mulai tenggelam. Saat semburatnya menyapu air laut di dermaga. Saat itulah suara adzan semakin terdengar indah. Mempesona. Seakan semua keindahan itu turut memanggil-manggil dan menyerukan keagungan Tuhan. Seolah mereka dengan segala pesonanya ingin mengatakan bahwa mereka juga bertasbih pada-Nya. Lantunan adzan yang indah. Yang seringkali membuat bulu kudukku berdiri.  Merinding.


Entah sejak kapan tepatnya aku mulai mencintai suara adzan, khususnya adzan di surup hari. Adzan mahgrib. Adzan maghrib yang memiliki pesona terdalam meskipun adzan-adzan di waktu lain juga memiliki pesona-pesona dengan pesona yang lain.


Pesona adzan subuh misalnya, yang dalam imajiku selalu bersamaan dengan menetesnya embun-embun dari dedaunan, burung-burung kecil yang beterbangan secara bergerombol dari rerimbun pohon yang satu ke rerimbun pohon yang lain. Atau bersamaan dengan langkah-langkah seorang perawan desa yang mengenakan kain menuju sungai yang mengalir tenang. Atau dengan kecipak juga gemericik air yang jernih. Sangat jernih. Menyirami batu-batu kali dengan sifatnya yang dingin segar di bawah payung alam yang belum terang. Ikan-ikan melompat-lompat merayakan datangnya adzan subuh.


Yah, aku sangat senang mendengarkan adzan, entah sejak kapan. Sampai waktu menghantarku pada umur perawan. Aku masih belum tahu kapan tepatnya aku mulai mencintai suara adzan. Juga belum tahu mengapa jiwaku begitu dibuatnya terpesona.


Sampai waktu itu datang. Saat Tuhan mengirimkan sesuatu padaku. Suatu hadiah di sebuah tahun. Hadiah ulangtahun dari Tuhan. Hadiah itu adalah kado berisi cinta. Ya, cinta!


Bukan cinta yang aku kenal, aku dapatkan, aku berikan, dan aku rasakan sebelum-sebelumnya. Sedikit berbeda dengan cinta kepada-Nya, kepada bapak-ibuk, kepada kakek-nenek, kepada adik-adik. Cinta ini memiliki keanehan tersendiri. Halus, lembut,  berpendar-pendar, hangat, dan seringkali tak dapat kutahan untuk meredamnya. Hingga seringkali aku terlihat senyum-senyum sendiri, mendendangkan nyanyian sendiri. 

Kado special dari Tuhan ini benar-benar berusaha kujaga. Agar ia tetap bersih seperti sediakala. Tak ingin aku melihatnya terjamah oleh sedikit saja noktah kema’shiyatan. Aku ingin kado dari Tuhan ini tetap suci seperi sediakala hingga aromanya yang semerbak mewangi tetap mengingatkanku kalau ia adalah kado dari Tuhan. Kado yang special dalam sejarah hidup.


Romantis sekali Tuhan mengirimkannya padaku. Melewati suatu hal yang entah sejak kapan memang setia mempesonakan jiwaku. Sukmaku. Benar, lewat adzanlah Tuhan mengirim kado itu.  Dan ini bukanlah adzan yang seperti biasa dan sebelum-sebelumnya.


Kala itu, saat surup-surup, lantunan adzan itu masuk ke jantungku. Merengkuhnya lalu membawa dengan segala kehalusannya ke arah sumbernya. Aku juga tak bisa mengelak karena rengkuhannya yang halus dan begitu hangat. Kakiku pun melangkah tak tahu arah. Ia hanya mengikuti ke mana arah sumber yang merengkuh jantungnya. Hingga sampailah ia di sebuah masjid dan terpaku pada sebuah kado di depan sana. Sesaat senyap karena adzan baru saja selesai dikumandangkannya. Bersama sosok di depan sanalah kado Tuhan itu. Yang pada bibirnya baru saja kalimat Allah bertahta. Mungkin, aku dan lelaki sang pelantun adzan itu sama-sama tahu. Atau bisa juga hanya Tuhan, aku, dan kado itu sendirilah yang tahu. Tentang kado, dan sepotong rahasia…


Gendeng,
13 Maret 2014

0 komentar:

Posting Komentar