Rabu, 12 Maret 2014

Perempuan Tirakat


Aku terlahir sekaligus dilahirkan sebagai seorang perempuan. Bayi perempuan yang tumbuh menjadi seorang anak gadis sebelum mekar mewangi menjadi perawan.

Sejak kecil aku sudah bersahabat dengan hidup tirakat. Menekan segala sesuatu yang sebenarnya ingin sekali dilakukan oleh seorang anak-anak. Aku jarang bisa bermain dengan teman-teman sebelum menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Hanya bisa ikut tertawa dari kejauhan saat teman-teman riang bermain karena harus mengasuh dua adik laki-laki. Menggendongnya kesana-kemari karena tidak mau berhenti menangis. Membujuk mereka saat menuding-nuding jajan di toko-toko atau es krim yang berada di tangan seorang anak. Tidak jarang di sekolah tidak jajan dan menyimpan baik-baik  sedikit uang saku untuk membeli es krim yang setiap hari lewat depan rumah dan tak pernah sebelumnya walau sekali membelinya. Di TPQ, sering sekali aku duduk sendirian menunggu ustadz/dzah dengan membuka-buka kitab iqro’ daripada beramai-ramai dengan teman yang lain pergi ke toko yang dekat dengan masjid, tempat dimana aku mengaji.
Aku tidak pernah meminta uang jajan kecuali diberi oleh bapak dan ibuk. Karena itulah yang diajarkan kepadaku semenjak kecil. Sampai di pesantren, kehidupan tirakat itu terus berlanjut dan semakin menjadi. Uang kiriman yang memang pas-pasan itupun hanya untuk makan dua kali. Bayar SPP pondok dan sekolah, jarang sekali karena aku sering mendapatkan prestasi yang baik di madrasah maupun di pesantren. Pernah satu semester penuh aku terbebaskan membayar SPP madrasah karena meraih prestasi menjadi bintang pelajar semadrasah. Semua teman-teman berkata sangat kagum. Beberapa saudara sepesantren yang turut senang bercerita pada bapak-ibuk yang tentu saja membuat keduanya bangga. Aku juga bersyukur, tapi biasa saja. Tidak ada yang istimewa bagiku. Karena aku hanya melakukan yang semestinya kulakukan waktu itu. Mengikuti kegiatan rutin, tidak pernah telat, rajin sholat berjama’ah, berusaha istiqomah bangun malam, dan tidak melanggar peraturan yang ditetapkan oleh pesantren. Itu saja. Kulakukan semuanya begitu saja. Karena itu yang dipesankan bapak dan ibuk sebelum berangkat ke pesantren. Dan aku belum pernah berfikir melakukan sesuatu di luar apa yang diajarkan dan dipesankan bapak ibuk. Karena itu, terkadang aku merasa heran mengapa semuanya sangat senang dan dengan jujur mengatakan bangga berteman, bersaudara dan kenal denganku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa kecuali melakukan apa yang dipesan dan diwanti-wanti oleh ibuk.
Satu hal terpenting yang dipesan oleh ibuk yang semenjak dipesankan sampai detik ini terus kulakukan. “Dimanapun dan kapanpun, bacalah sholawat. Minimal di dalam hati. Ingat lo, Nduk!” kata ibuk suatu hari. Seringkali dikatakan oleh ibuk menjelang tidur. Di tempat dan moment yang sangat privat sehingga pesan itu bersemayam kuat di alam bawah sadar.
Di Pesantren, aku sering berpuasa. Karena itulah pesan bapak-ibuk. “Dekatkan diri dengan Allah, guru, dan orang-orang yang sholih. Orang-orang yang dekat dengan Allah”. Aku hanya mengangguk karena semenjak mulai kecil hanya itu yang bisa kulakukan di depan bapak-ibuk.
Aku telah ranum, lalu mekar jadi perawan. Tapi tidak seperti teman-teman sebaya yang sudah disibukkan dengan nama-nama dan berbagai cerita tentang lelaki, aku sibuk meniru sosok-sosok yang dalam penilaianku dekat dengan Allah. Ada satu sosok perempuan yang bagiku sangat sholihah. Dia jarang berbicara, murah senyum, jalannya selalu menunduk, menjaga pandangan sekaligus jarak dengan lelaki, rajin ibadah mahdhoh, dan disenangi banyak santri karena sikap sosialnya. Juga ada beberapa sosok saleh lagi yang sibuk kuamati untuk kemudian kutiru dan berusaha dengan sangat untuk menjaganya dan selalu memperbaiki.
Hingga aku bertemu dengan jalannya Rabi’ah. Karena dari keseharian sosok-sosok yang kujadikan uswah itu, aku lupa dengan fase remajaku.  Fase pubertasku. Tidak memperdulikan para perjaka yang berkitar-kitar di sekeliling tangkaiku. Aku sudah terkadung jatuh. Aku sudah terkadung terjerembab di sudut musholla. Di sudut cahaya Ilahi. Bagiku waktu itu, jantung kehidupan hanyalah sibuk kepada-Nya, sibuk mencintai-Nya. Yang lain, tidak!
Jogjakarta. Sebenar-benarnya tirakat. Kehidupan pesantren ternyata megah dibandingkan menjadi mahasiwi kere di tengah kota metropolitan seperti Jogja. Belum lagi keadaan psikis yang saling tarik menarik melihat kenyataan dunia yang sebenarnya. Yang ada putih, abu-abu dan hitam. Penyesuaian dengan berbagai budaya asing. Mau tidak mau adalah kenyataan mengharuskan berbaur dan berkomunikasi dengan laki-laki. Makhluk asing itu. Melihat sesuatu yang sebenarnya tidak mau dan tidak terbiasa aku melihat. Mendengar sesuatu yang tidak terbiasa aku dengar.
Jogjakarta, di sinilah imanku benar-benar diuji. Sampai aku tidak asing lagi dengan segala hal yang awalnya asing. Hingga aku terbiasa dengan sesuatu hal yang sebelumnya tidak terbiasa. Bahkan pernah hampir terpleset ke jurang ma’shiyat sampai aku menangis di pinggiran jurangnya. Menangis sebenar-benarnya menangis. Dimana sebelumnya Rabi’ah dan al-Hallaj menampakkan begitu jauhnya kakiku melangkah dari tempat yang seharusnya.
Hingga aku bangkit. Hingga aku bisa menyadari keberadaanku lagi. Hingga aku merasakan kehidupan dan dunia ini kosong. Seperti apa yang kurasakan saat ini. Lalu, dengan menulis ini, kucoba menutupi kekosongan itu dengan kata-kata. Dengan kilasan kenangan. Dengan nilai-nilai kehidupan yang kucoba mereguknya dengan memejamkan mata, merasakan keberadaan semesta dan berdialog dengannya.
Ya, akulah perempuan yang telah lama berteman dengan tirakat. Dan apakah usahaku menekan keinginan untuk hidup dengan seorang yang aku cintai adalah karena efek dari kebiasaan bertirakat?! Allaahu A’lam.  Watawakkaltu ‘Alayka ya, Allah….. 

0 komentar:

Posting Komentar