Aku terlahir sekaligus dilahirkan sebagai seorang perempuan. Bayi perempuan yang tumbuh menjadi seorang anak gadis sebelum mekar mewangi menjadi perawan.
Sejak kecil aku sudah
bersahabat dengan hidup tirakat. Menekan segala sesuatu yang sebenarnya ingin
sekali dilakukan oleh seorang anak-anak. Aku jarang bisa bermain dengan
teman-teman sebelum menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Hanya bisa ikut
tertawa dari kejauhan saat teman-teman riang bermain karena harus mengasuh dua
adik laki-laki. Menggendongnya kesana-kemari karena tidak mau berhenti
menangis. Membujuk mereka saat menuding-nuding jajan di toko-toko atau es krim
yang berada di tangan seorang anak. Tidak jarang di sekolah tidak jajan dan
menyimpan baik-baik sedikit uang saku
untuk membeli es krim yang setiap hari lewat depan rumah dan tak pernah
sebelumnya walau sekali membelinya. Di TPQ, sering sekali aku duduk sendirian
menunggu ustadz/dzah dengan membuka-buka kitab iqro’ daripada beramai-ramai
dengan teman yang lain pergi ke toko yang dekat dengan masjid, tempat dimana
aku mengaji.
Aku tidak pernah meminta uang
jajan kecuali diberi oleh bapak dan ibuk. Karena itulah yang diajarkan kepadaku
semenjak kecil. Sampai di pesantren, kehidupan tirakat itu terus berlanjut dan
semakin menjadi. Uang kiriman yang memang pas-pasan itupun hanya untuk makan
dua kali. Bayar SPP pondok dan sekolah, jarang sekali karena aku sering
mendapatkan prestasi yang baik di madrasah maupun di pesantren. Pernah satu
semester penuh aku terbebaskan membayar SPP madrasah karena meraih prestasi
menjadi bintang pelajar semadrasah. Semua teman-teman berkata sangat kagum.
Beberapa saudara sepesantren yang turut senang bercerita pada bapak-ibuk yang
tentu saja membuat keduanya bangga. Aku juga bersyukur, tapi biasa saja. Tidak
ada yang istimewa bagiku. Karena aku hanya melakukan yang semestinya kulakukan
waktu itu. Mengikuti kegiatan rutin, tidak pernah telat, rajin sholat
berjama’ah, berusaha istiqomah bangun malam, dan tidak melanggar peraturan yang
ditetapkan oleh pesantren. Itu saja. Kulakukan semuanya begitu saja. Karena itu
yang dipesankan bapak dan ibuk sebelum berangkat ke pesantren. Dan aku belum
pernah berfikir melakukan sesuatu di luar apa yang diajarkan dan dipesankan
bapak ibuk. Karena itu, terkadang aku merasa heran mengapa semuanya sangat
senang dan dengan jujur mengatakan bangga berteman, bersaudara dan kenal
denganku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa kecuali melakukan apa yang
dipesan dan diwanti-wanti oleh ibuk.
Satu hal terpenting yang
dipesan oleh ibuk yang semenjak dipesankan sampai detik ini terus kulakukan.
“Dimanapun dan kapanpun, bacalah sholawat. Minimal di dalam hati. Ingat lo,
Nduk!” kata ibuk suatu hari. Seringkali dikatakan oleh ibuk menjelang tidur. Di
tempat dan moment yang sangat privat sehingga pesan itu bersemayam kuat di alam
bawah sadar.
Di Pesantren, aku sering
berpuasa. Karena itulah pesan bapak-ibuk. “Dekatkan diri dengan Allah, guru,
dan orang-orang yang sholih. Orang-orang yang dekat dengan Allah”. Aku hanya
mengangguk karena semenjak mulai kecil hanya itu yang bisa kulakukan di depan
bapak-ibuk.
Aku telah ranum, lalu mekar
jadi perawan. Tapi tidak seperti teman-teman sebaya yang sudah disibukkan
dengan nama-nama dan berbagai cerita tentang lelaki, aku sibuk meniru
sosok-sosok yang dalam penilaianku dekat dengan Allah. Ada satu sosok perempuan
yang bagiku sangat sholihah. Dia jarang berbicara, murah senyum, jalannya
selalu menunduk, menjaga pandangan sekaligus jarak dengan lelaki, rajin ibadah
mahdhoh, dan disenangi banyak santri karena sikap sosialnya. Juga ada beberapa
sosok saleh lagi yang sibuk kuamati untuk kemudian kutiru dan berusaha dengan
sangat untuk menjaganya dan selalu memperbaiki.
Hingga aku bertemu dengan
jalannya Rabi’ah. Karena dari keseharian sosok-sosok yang kujadikan uswah itu,
aku lupa dengan fase remajaku. Fase
pubertasku. Tidak memperdulikan para perjaka yang berkitar-kitar di sekeliling
tangkaiku. Aku sudah terkadung jatuh. Aku sudah terkadung terjerembab di sudut
musholla. Di sudut cahaya Ilahi. Bagiku waktu itu, jantung kehidupan hanyalah
sibuk kepada-Nya, sibuk mencintai-Nya. Yang lain, tidak!
Jogjakarta. Sebenar-benarnya
tirakat. Kehidupan pesantren ternyata megah dibandingkan menjadi mahasiwi kere
di tengah kota metropolitan seperti Jogja. Belum lagi keadaan psikis yang
saling tarik menarik melihat kenyataan dunia yang sebenarnya. Yang ada putih,
abu-abu dan hitam. Penyesuaian dengan berbagai budaya asing. Mau tidak mau
adalah kenyataan mengharuskan berbaur dan berkomunikasi dengan laki-laki.
Makhluk asing itu. Melihat sesuatu yang sebenarnya tidak mau dan tidak terbiasa
aku melihat. Mendengar sesuatu yang tidak terbiasa aku dengar.
Jogjakarta, di sinilah imanku
benar-benar diuji. Sampai aku tidak asing lagi dengan segala hal yang awalnya
asing. Hingga aku terbiasa dengan sesuatu hal yang sebelumnya tidak terbiasa.
Bahkan pernah hampir terpleset ke jurang ma’shiyat sampai aku menangis di
pinggiran jurangnya. Menangis sebenar-benarnya menangis. Dimana sebelumnya
Rabi’ah dan al-Hallaj menampakkan begitu jauhnya kakiku melangkah dari tempat
yang seharusnya.
Hingga aku bangkit. Hingga
aku bisa menyadari keberadaanku lagi. Hingga aku merasakan kehidupan dan dunia
ini kosong. Seperti apa yang kurasakan saat ini. Lalu, dengan menulis ini,
kucoba menutupi kekosongan itu dengan kata-kata. Dengan kilasan kenangan.
Dengan nilai-nilai kehidupan yang kucoba mereguknya dengan memejamkan mata, merasakan
keberadaan semesta dan berdialog dengannya.
Ya, akulah perempuan yang
telah lama berteman dengan tirakat. Dan apakah usahaku menekan keinginan untuk
hidup dengan seorang yang aku cintai adalah karena efek dari kebiasaan bertirakat?!
Allaahu A’lam. Watawakkaltu ‘Alayka ya,
Allah…..
0 komentar:
Posting Komentar