
Gereja di sebuah Seminari (pesantrennya saudara kristiani)

Tanggal 10-22 November tahun kemarin, saya lolos seleksi dan berkesempatan mengikuti acara pemuda lintas agama se-Indonesia. Yah, dengan 27 pemuda-pemudi yang datang dari segala penjuru pulau Indonesialah selama sepuluh hari itu saya tidur, makan, bercanda, belajar, berdiskusi, berdialog, bahkan ejek-ejekan lucu. Hingga perbedaan suku, etnik, dan agama kami masing-masing tampak tak penting meski saya sangat sadar bahwa perbedaan itulah kami bisa berada dalam satu program dan selama dua belas hari itu menjadi makhluk nomaden.
Dari satu kota ke kota lain, masuk ke desa, hingga naik-turun bukit, sampai tertawa bersama ombak dan bekejaran di atas pasirnya di senja hari. Yang kala itu kami akhiri dengan makan seafood di salah-satu pantai di Yogyakarta.Akhirnya keintiman di antara peserta terbentuk tanpa kami sadari tentunya. Di luar kelas misalnya—bisa terjadi di bus, di atas meja makan, sambil berenang, saat jalan-jalan—saya bisa ngobrol tanpa rikuh dan buka-bukaan dengan Robi tentang Kristen, dengan Puji dan Agus tentang Hindu di Bali, India, dan di luar kedua daerah itu, dengan Vino tentang protestan, dengan Tika tentang aliran Sapto Dharmo, dengan Abdullah tentang Ahmadiyah, sampai memori buram teman-teman dari daerah konflik seperti Poso atau Ambon.
Ada satu kenyataan mendasar sebenarnya yang benar-benar menghentak kepercayaan saya selama ini. Satu kenyataan yang akhirnya merambah pada konsep dan keyakinan yang selama ini telah mengakar kuat semenjak kecil pada diri saya. Yaitu bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya agama yang pemeluknya memiliki garansi kepastian masuk surga. Yang lain tidak, tentu saja karena mereka salah. Agama yang telah mereka peluk salah. Yah, tentang truthclaim. Yang juga ada pada setiap agama katanya.
Sebenarnya truthclaim ini telah lama mengganggu nalar saya semenjak kecil. Tapi setelah duduk di madrasah diniyahlah saya berani mempertanyakan ini. Tentu saja bukan di madrasahnya tapi di salah-satu halaqoh yang diadakan oleh seorang kiai yang modern pemikirannya dan hanya diikuti oleh beberapa gelintir santri putri saja. Mungkin karena cara mengajarnya yang tidak dogmatis dan sangat terbuka atas semua pemikiran muridnya, saya berani bertanya. Mempertanyakan sesuatu yang bercokol seperdi udun di hati saya. Suatu pertanyaan yang dianggap tabu. Suatu pertanyaan yang jikalau saya tanyakan di tempat lain di pesantren ini akan terancam diklaim sesat dan murtad!“Kalau hanya Islam yang benar dan hanya pemeluknya yang bisa menikmati surga yang telah dibuat-Nya, bagaimana orang-orang baik yang ada pada agama lain? Bukankah agama-agama itu juga Dia, satu-satunya Tuhan yang menciptakannya? Juga hanya Dialah yang menghendaki orang-orang itu memeluk agama selain Islam?”
“Seperti
saya misalnya, seperti kita yang belum ada jaminan akan memeluk Islam jikalau
orangtua bukan muslim? Apa memang Tuhan yang satu-satunya itu menghendaki
seperti itu? Menciptakan manusia lalu mengkristenkan mereka, menghindukan
mereka, membudakan mereka untuk akhirnya Ia kirim ke neraka!? Bukankah Tuhan
sangat tidak baik? Tidak bijaksana? Tidak pengasih dan penyayang? Bukankah 99
nama indah-Nya dalam asmaa’ al-husnaa sangat agung?”
Lalu, saya mendapatkan jawaban yang tak bisa saya mengerti. Karena jawaban itu takut-takut atau mungkin hati-hati? Tapi saya anggap itulah satu-satunya jawaban yang bijaksana dari beliau waktu itu. Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan itu di lingkungan seperti pesantren saya kala itu.
![]() |
| Setelah malam pentas seni di Pesantren Edimancoro Semarang |
Sampai di acara pemuda lintas iman inilah saya punguti kebenaran itu. Meski selama duabelas hari itu belum berani saya keluarkan dari hati dan pikiran. Ia masih saya timbang-timbang di dalam. Masih saya endapkan di relung nurani. Sampai entah kapan waktunya nanti akan mencuat sendiri.
Suatu kali saya kehabisan tinta untuk menulis. Dengan Cuma-Cuma, Jhons—teman Katolik—memberikannya kepada saya hingga saya bisa melanjutkan menggoreskan ilmu-ilmu Tuhan yang berserakan di bumi ini.
Ada juga Miekson–teman Katolik dari Muarabadak Kaltim—yang tiba-tiba dan dengan sigap mengambil koper dari tangan saya dan membawakannya dari rumah penduduk sampai bus dan memasukkannya dalam garasinya--Pagi itu saya memang tidak bisa naik bukit dan menikmati panorama Borobudur dari atas bersama teman-teman karena mesti pijat tradisional, badan terasa remuk setelah menari di Ponpes Edimancoro.
Subagyo—teman Budha--, yang sangat wiro’i dari awal saya melihatnya. Sikap, tutur kata, dan pergaulannya. Hingga saya sempat memburunya saat ada kesempatan bersantai di pantai surup hari. Saya buru isi pikir dan hatinya lewat wawancara tepat di tepi pantai. Berkali-kali hati saya bertasbih karena terhenyak dengan sosoknya yang sangat waro’ ini. Belum lagi kejadian di meja makan di rumah makan seafood.
Kala itu, karena tepatnya di pinggiran pantai, seekor serangga mendarat di meja makan kami dan tentu saja pola tingkah dan suara yang ditimbulkannya sangat mengganggu kenyamanan. Seorang teman muslim terlihat akan membunuhnya, tapi betapa saya tidak tercekat saat Subagyo terlihat agak marah melihatnya. Lalu dengan halus, memindahkan serangga itu ke tangannya dan beranjak untuk keluar sebentar. Mungkin melepas serangga itu.
Masih banyak sekali kenyataan-kenyataan yang menampar-nampar keyakinan saya selama ini. Sangat banyak!. Hingga akhirnya kami mesti berpisah dan kembali ke daerah masing-masing.Suatu kali keyakinan saya yang rupanya benar-benar berubah, meluncur dari mulut saya saat saya ngobrol santai dengan teman-teman kost.“Tapi apa tidak salah menyatukan agama?” seorang teman agak sengit karena rupanya pengetahuannya tidak bisa mewadahi secara penuh tentang apa yang tiba-tiba meluncur dari mulut ini setelah sekian lama hanya mengendap di dalam hati dan pikir.“Saya tidak menyatukan. Bukan pluralisme namanya kalau menyatukan. Biarkan setiap agama dengan masing-masing kebenarannya. Saya hanya berusaha mencari-cari kebenaran dari banyak kebenaran itu”
Hingga
suatu kali saya temukan kebenaran tentang kebenaran asumsi saya dalam sebuah
novel ilmiah. Sastra Jendra namanya. Pada
halaman 326 saya temukan kebenaran dalam sebuah dialognya:
“Ketahuilah o, Anand, bahwa Brahman yang Maha Esa! Tunggal adalah yang disebut Krishna, Caiva, Mahesvara, Ahuramazda, Adibudha, Allah. Dia adalah satu dengan berbagai sebutan. Dia Tuhan segala bangsa dan segala agama. Dia Tuhan segala makhluk yang kasat mata dan yang gaib. Dia tetap Tuhan yang Maha Esa bagi yang mengakui maupun yang Ingkar. Tetapi Engkau harus selalu ingat, bahwa Dia tidak dapat dicapai dengan akal Budi dan panca indera. Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang berlatih agar ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara memuji-uji nama suci-Nya. Janganlah ada di antara sampean semua yang terperangkap pada imajinasi untuk mewujudkan Tuhan Yang Maha Esa ke dalam bentuk-bentuk yang bisa dikenali oleh panca indera.”

0 komentar:
Posting Komentar