Jumat, 07 Maret 2014

SEPENGGAL CERITA MENJADI MAHASISWI: KKN YANG MANIS


HALo......

Pantai Wedi Ombo

Beberapa bulan lagi sudah ramadhan. Bulan spesial bagi ummat muslim. Jadi teringat ramadhan kemarin. Ramadhan yang manis di sebuah desa di salah-satu kecamatan Saptosari kabupaten Gunungkidul. Ramadhan yang manis, ya. Karena kulewati bersama teman-teman KKN yang sudah seperti saudara sendiri. Seperti keluarga sendiri. Bagaimana tidak, kami yang mula-mula tak kenal, sama-sama perantau, dan sama-sama sedang diutus oleh kampus untuk mendikasikan diri di tengah-tengah masyarakat. Semuanya kami rembugkan bersama layaknya keluarga. Dari urusan rumah, tetek bengek dapur, pembayaran listrik, cara pedekate dengan masyarakat, strategi menjaga nama baik kampus dan keluarga KKN, dan lain-lain. Pokonya semua kami rembugkan dan kerjakan bersama-sama tanpa pandang bulu, asal, bahasa, apalagi jenis kelamin.

Di Depan Posko

Sebelum berenang, narsis bareng dulu yuk!
Kami bersebelas menempati bagian rumah seorang dokter. Pak Agus namanya. Ada aku sendiri yang dari Malang, Nurul dari Kulonprogo, Ila dari Nganjuk, Ita dari Kebumen, Aya dari Klaten, Habibi dari Bangka, Hilman dari Garut, Vikri dan Rifki dari Lampung, Eko dari Ponorogo dan Hemam dari Madura.

nData jentik ah

Namanya Nurul. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Dia yang akhirnya menjadi teman kostku. Teman sekamar. Teman kluntang-kluntung ke perpustakaan. Teman berpusing ria menentukan judul skripsi. Dia kerja di warnet (jago sekali masalah softwere dan tetek bengeknya yang menurutku sangat rumit). Tapi rajin stay di posko. Aku sering diboncengnya. Dia adalah tipe perempuan yang bisa memaksimalkan salah-satu karunia Tuhan yaitu maskulinitasnya. Aku sangat merasa aman di jok belakang saat diboncengnya. Tubuhnya yang tinggi membuatku nyaman menyembunyikan tubuhku yang mungil ini.hehe.Tentu saja sisi kefimininitasnya juga sangat terasa. Terbukti saat dia meluangkan hampir satu hari penuh waktunya untuk membuat bros dari kain vlanel untuk hadiah malam terakhir. Nurul juga yang membuatkan mahkota-mahkotaan untuk para penari kecilku (Terimakasih Uyul). Juga membantu memoles make-up juga kostum-kostum penari melihatku kewalahan.hehe. Uyul… moga kita bisa wisuda bareng dan cepet. Aamiin

Cari daun ah, buat sayur...

Ila, yang lebih nyaman kupanggil Ilak. Tubuhnya keibuan. Aku kira, dia lebih tua dariku. Ternyata, dia adalah keluarga KKN yang paling muda. Orangnya lincah dan periang. Karena tubuhnya yang agak berisi, selalu terlihat menggemaskan kalau berjalan. Sering tertawa tapi sekali ngambek, giliran kami semua yang menertawakannya. Di rumahnya beternak ayam, dan pernah membawa banyak sekali telur ayam ke posko. Lumayan, untuk perbaikan gizi.hehe. Oh iya, dia paling sering bertengkar dengan Eko dan Hemam.  Hati-hati lo Lak, jangan-jangan di antara keduanya adalah jodohmu. Terus masmu, buat aku saja.hihihi. Bercanda, Lak. Eh kelewat, Ilak ini dari Jurusan Pendidikan Biologi. Aku jadi ingat, karena obrolannya yang seringkali ilmiah dan kimiawi gitu, dia sering kenak pitnah, omes.hahaha

i'm not peace virus but i'm love virus. hihihi

Nah! Yang ini Aya. Dia sekretarisnya. Urusan dapur seperti beras, telur, sayur-mayur, tomat-cabe, dan lain-lainnya dipasok dari rumahnya. Keluarganya yang bertani dan berdagang, membuat kami mudah mendapatkannya. Tidak jarang kami dapatkan sayur-mayur dengan Cuma-Cuma.hihi. hampir setiap pagi, aku dan ayaklah yang belanja ke pasar sayur. Setiap ayak datang dari rumah, semuanya senang. Tentu saja karena sambel dan kering belut buatan ibuknya yang maknyosss. Selain Nurul, aku juga sering dibonceng Aya. Ehm! Hampir terjalin kisah asmara nih (#pura-pura gak tau ah). Entah pesona apa yang ada pada diri teman yang satu ini sampai-sampai beberapa kali seorang teman lelaki mengigau dengan menyebut-nyebut namanya (pura-pura tidak tau lagi ah!). Oh ya dia jurusan Fisika tepatnya di astrofisika. Pernah suatu malam sepulang dari tarawih, jari telunjuknya mengarah ke langit --yang malam itu tampak indah karena taburan bintang--. Padaku, dia menunjukkan gugusan-gugusan bintang gitu deh. Tapi tetep aja aku nggak ngerti. Haha. Karena yang aku tahu, bintang di langit itu palsu, karena yang asli ada di mataku. Icikiwirrrr! Yang penting lagi, dia slanker sejati, Bro!  

Dua....

Ita. Asli kebumen. Dari Fakultas syari’ah. Wooo badannya yang tinggi dan parasnya yang cantik seringkali membuat Eko menelan ludah (hahaha. Peace, Eko). Kenangannya bersamaku adalah bersamanya mengajar ibu-ibu padukuhan membaca diba’ dan barzanjy. Cihuy!. Ita… mana magnumnya…. hehe

Senangnya bermain dengan anak-anak, jadi pengen main terus....

Seorang pemuda dari Bangka ini bernama Habibi. Siapa ya lelaki yang mengigau itu? (pura-pura gak tau ah!hehe). Dia memiliki ketrampilan yang khas. Mudah dan gampang bergaul dengan anak-anak padukuhan. Tidak jarang aku melihatnya dia rujakan dan tidur bareng bersama anak-anak di teras posko. Pandai mengaji juga ceramah, meski jama’ah seringkali tertawa karena mendengar bahasa Jawanya yang aneh.hehe. Intinya, kami terselamatkan dengan adanya Habibi. Jika pak Dukuh atau perangkat desa lainnya menunjuk di antara kami untuk ceramah, tentu saja kami siap. Karena kami punya Habibi yang siap kami dorong-dorong untuk maju.hihi


Halo Vikri. Vikri dari jurusan Keuangan Islam. Karena itu, dia mendapatkan tanggungjawab mengelola keuangan kami. Dia seorang usahawan yang tekun dan rajin. Luwes bergaul dengan anak-anak juga teman-teman perempuan. Suka bawa brownis, dan kabarnya, kue ulangtahun untukku itu dari Vikri. Tentu saja inisiasi dari teman-teman semua. Karena kesukaannya pada anak-anak, dia rajin mengajar TPA. Beberapa kali menggantikanku mengajar tajwid karena sakit perut datang bulan. Terimakasih Vikri…. Oh ya, dia teman yang bisa diajak kerjasama dan sangat pengertian. Senang kenal denganmu… miss you… kutunggu undanganyya!

Ngopo Simbok....

Rifki. Paling jail khusunya sama teman-teman perempuan. Khususnya lagi aku. Khusunya lagi kepalaku. Paling suka nguntitin siapa saja yang sedang masak. Katanya sih mau bantu, eh ternyata beneran. Bantuin nyicipin dan menghabiskan makanan. Dari awal dia sudah bilang pada kami kalau dia makannya banyak. Makanya aku tak tega saat pertama kali kami makan dan pertama kali kami buka di posko. Aduh, gak usah diceritain deh. Yang jelas, dia orang terjail sedunia. Eh salah, seposko. Tapi, dibalik kejailannya, dia teman yang penyayang dan pengertian.hehe

Hilman sang ketua. Gendut, besar, tapi manis (sst… ini terpaksa takut orangnya baca). Dari Fakultas Syari’ah. Satu jurusan sama Rifki. Mungkin karena itu ya, keduanya selalu bersekongkol dan suka membuli aku yang kecil mungil. Berani mereka padaku yang lebih tua. Suatu hal yang tak mungkin aku lupakan adalah saat Hilman dan Rifki mengangkat lenganku hingga tubuhku terangkat tak menyentuh tanah. Dibawanya aku seperti boneka saja dari depan musholla sampai hampir dekat posko, tanpa menghiraukan teriakanku dan sandalku yang terpental entah kemana. Mereka ngeloyor begitu saja saat aku sudah diturunkan dan marah-marah karena telat mengajar ngaji. Membuat aku jengkel sendiri. Awas kalian! Akan kumasukkan garam ke minuman kalian nanti! Gerutuku waktu itu, meski gak jadi karena gak tega. Tapi intinya, Hilman itu ketua yang bertanggungjawab, pengertian, penyayang, dan kebapakan. Sebenarnya, dia sudah pantas punya tiga anak.haha

Fahri… oh Fahri…. Dari anak priyayi yang satu ini, aku banyak tahu tentang sikap orang Jawa Jogja tulen. Aku menyimpulkan, beberapa sikap kehidupannya sama dengan sikap kehidupan santri. Hanya satu yang tidak. Fahri belum terbiasa makan bersama-sama dengan tangan dalam satu wadah. Akhirnya, keberuntungan itu milik kami. Hehe. Keesokan harinya, dia angkut piring, sendok, dan gelas dari rumahnya di Imogiri. Haha. Plus buah-buahan, krupuk, dan cemilan yang lainnya. Ahai!. Dia dewasa dan luwes bergaul dengan bapak-bapak padukuhan. Bahasa Jawanya yang halus serta pengalamannya membuat kami mengikrarkan bahwa dia adalah MC keluarga KKN di dunia dan akhirat. Ya, karena mulut Jawanya itu, dia adalah MC tetap kami. Dia yang paling dekat denganku. Mungkin karena itu tadi, sebagian kehidupan priyayinya cocok dengan kehidupanku yang santri. Meski dia memanggilku “Mbak” aku tidak memanggilnya “Dik”.hahaha

Tuhkan, camera aja dikira cewek sama Eko.hihi

Eko. Aku dan Nurul selalu sebel melihat gaya Eko kalau ketemu cewek-cewek. Sok cool, sok maco, sok ganteng. Aku dan Nurul suka bisik-bisik, “tuh mulai tebar pesona”.hehe. Tapi bener. Ada beberapa cewek padukuhan yang akhirnya terkantil-kantil padanya (gak boleh sebut merk). Dia tipe orang yang tidak tertib. Tapi sekali mengerjakan sesuatu, pasti totalitas. Dia lakukan dengan sungguh-sungguh, baik, rapih, dan indah. Melebihi kami yang paling tertib. Dialah gawang pembuatan kaligrafi di musholla dan masjid. Juga kaligrafi semi lukisan yang kami hadiahkan untuk Pak Agus saat perpisahan yang mengharukan. Sebenarnya Eko tipe teman yang baik, suka membantu, dan tulus. Hanya kadang, karena kecerobohannya banyak yang mengira dia benar-bemar ceroboh. Haha. Oh ya, dia juga santri. Lulusan Gontor. Dan satu-satunya keluarga KKN yang sudah munakosah. Selamat ya, Ko……

Hemam, sang pakar membuat sambal. Sampai Rifki yang anti pedes, menjadi gila sambal. Seperti Eko, mereka jurusan Aqidah Filsafat. Bisa terbilang, selain jagonya dapur, sosok Hemam adalah sang motivator. Kalau digojlokin dengan Nurul, jurusnya hanya satu, tersenyum manis. Wkwkwk. Ayo lah, Mam. Bawa Nurul ke Madura.hahaha. Kalau kalian jadi menikah, bagaimana caranya, kami usahakan mengundang cak Nun? Bagaimana?hehe. Kalau cak Nun bilang pada Mahfudz MD, “Tunjukkan Maduramu, Fudz” untuk merevolusi Indonesia, aku juga mau bilang padamu, “Tunjukkan Maduramu, Mam!” dengan membawa Nurul di hatimu, hihihi. Oh ya, Hemam juga seorang konseptor dan seorang yang setia mendampingi Eko. Ahihihi.

Barangkali Ramadhan ini manis karena berada di tengah-tengah teman yang manis... hehe. Miss U All....

0 komentar:

Posting Komentar