HALo......
 |
| Pantai Wedi Ombo |
Beberapa
bulan lagi sudah ramadhan. Bulan spesial bagi ummat muslim. Jadi teringat ramadhan
kemarin. Ramadhan yang manis di sebuah desa di salah-satu kecamatan Saptosari
kabupaten Gunungkidul. Ramadhan yang manis, ya. Karena kulewati bersama
teman-teman KKN yang sudah seperti saudara sendiri. Seperti keluarga sendiri.
Bagaimana tidak, kami yang mula-mula tak kenal, sama-sama perantau, dan
sama-sama sedang diutus oleh kampus untuk mendikasikan diri di tengah-tengah
masyarakat. Semuanya kami rembugkan bersama layaknya keluarga. Dari urusan
rumah, tetek bengek dapur, pembayaran listrik, cara pedekate dengan masyarakat,
strategi menjaga nama baik kampus dan keluarga KKN, dan lain-lain. Pokonya
semua kami rembugkan dan kerjakan bersama-sama tanpa pandang bulu, asal,
bahasa, apalagi jenis kelamin.
 |
| Di Depan Posko |
 |
| Sebelum berenang, narsis bareng dulu yuk! |
Kami
bersebelas menempati bagian rumah seorang dokter. Pak Agus namanya. Ada aku
sendiri yang dari Malang, Nurul dari Kulonprogo, Ila dari Nganjuk, Ita dari
Kebumen, Aya dari Klaten, Habibi dari Bangka, Hilman dari Garut, Vikri dan
Rifki dari Lampung, Eko dari Ponorogo dan Hemam dari Madura.
 |
| nData jentik ah |
Namanya
Nurul. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Dia yang akhirnya menjadi teman
kostku. Teman sekamar. Teman kluntang-kluntung ke perpustakaan. Teman
berpusing ria menentukan judul skripsi. Dia kerja di warnet (jago sekali
masalah softwere dan tetek bengeknya yang menurutku sangat rumit). Tapi rajin
stay di posko. Aku sering diboncengnya. Dia adalah tipe perempuan yang bisa
memaksimalkan salah-satu karunia Tuhan yaitu maskulinitasnya. Aku sangat merasa
aman di jok belakang saat diboncengnya. Tubuhnya yang tinggi membuatku nyaman
menyembunyikan tubuhku yang mungil ini.hehe.Tentu saja sisi kefimininitasnya
juga sangat terasa. Terbukti saat dia meluangkan hampir satu hari penuh
waktunya untuk membuat bros dari kain vlanel untuk hadiah malam terakhir. Nurul
juga yang membuatkan mahkota-mahkotaan untuk para penari kecilku (Terimakasih
Uyul). Juga membantu memoles make-up juga kostum-kostum penari melihatku
kewalahan.hehe. Uyul… moga kita bisa wisuda bareng dan cepet. Aamiin
 |
| Cari daun ah, buat sayur... |
Ila,
yang lebih nyaman kupanggil Ilak. Tubuhnya keibuan. Aku kira, dia lebih tua
dariku. Ternyata, dia adalah keluarga KKN yang paling muda. Orangnya lincah dan
periang. Karena tubuhnya yang agak berisi, selalu terlihat menggemaskan kalau
berjalan. Sering tertawa tapi sekali ngambek, giliran kami semua yang
menertawakannya. Di rumahnya beternak ayam, dan pernah membawa banyak sekali
telur ayam ke posko. Lumayan, untuk perbaikan gizi.hehe. Oh iya, dia paling
sering bertengkar dengan Eko dan Hemam. Hati-hati
lo Lak, jangan-jangan di antara keduanya adalah jodohmu. Terus masmu, buat aku
saja.hihihi. Bercanda, Lak. Eh kelewat, Ilak ini dari Jurusan Pendidikan
Biologi. Aku jadi ingat, karena obrolannya yang seringkali ilmiah dan kimiawi
gitu, dia sering kenak pitnah, omes.hahaha
 |
| i'm not peace virus but i'm love virus. hihihi |
Nah!
Yang ini Aya. Dia sekretarisnya. Urusan dapur seperti beras, telur,
sayur-mayur, tomat-cabe, dan lain-lainnya dipasok dari rumahnya. Keluarganya
yang bertani dan berdagang, membuat kami mudah mendapatkannya. Tidak jarang
kami dapatkan sayur-mayur dengan Cuma-Cuma.hihi. hampir setiap pagi, aku dan
ayaklah yang belanja ke pasar sayur. Setiap ayak datang dari rumah, semuanya
senang. Tentu saja karena sambel dan kering belut buatan ibuknya yang
maknyosss. Selain Nurul, aku juga sering dibonceng Aya. Ehm! Hampir terjalin
kisah asmara nih (#pura-pura gak tau ah). Entah pesona apa yang ada pada diri
teman yang satu ini sampai-sampai beberapa kali seorang teman lelaki mengigau
dengan menyebut-nyebut namanya (pura-pura tidak tau lagi ah!). Oh ya dia
jurusan Fisika tepatnya di astrofisika. Pernah suatu malam sepulang dari
tarawih, jari telunjuknya mengarah ke langit --yang malam itu tampak indah
karena taburan bintang--. Padaku, dia menunjukkan gugusan-gugusan bintang gitu
deh. Tapi tetep aja aku nggak ngerti. Haha. Karena yang aku tahu, bintang di
langit itu palsu, karena yang asli ada di mataku. Icikiwirrrr! Yang penting
lagi, dia slanker sejati, Bro!
 |
| Dua.... |
Ita.
Asli kebumen. Dari Fakultas syari’ah. Wooo badannya yang tinggi dan parasnya
yang cantik seringkali membuat Eko menelan ludah (hahaha. Peace, Eko).
Kenangannya bersamaku adalah bersamanya mengajar ibu-ibu padukuhan membaca
diba’ dan barzanjy. Cihuy!. Ita… mana magnumnya…. hehe
 |
| Senangnya bermain dengan anak-anak, jadi pengen main terus.... |
Seorang
pemuda dari Bangka ini bernama Habibi. Siapa ya lelaki yang mengigau itu?
(pura-pura gak tau ah!hehe). Dia memiliki ketrampilan yang khas. Mudah dan
gampang bergaul dengan anak-anak padukuhan. Tidak jarang aku melihatnya dia
rujakan dan tidur bareng bersama anak-anak di teras posko. Pandai mengaji juga
ceramah, meski jama’ah seringkali tertawa karena mendengar bahasa Jawanya yang
aneh.hehe. Intinya, kami terselamatkan dengan adanya Habibi. Jika pak Dukuh
atau perangkat desa lainnya menunjuk di antara kami untuk ceramah, tentu saja
kami siap. Karena kami punya Habibi yang siap kami dorong-dorong untuk
maju.hihi


Halo
Vikri. Vikri dari jurusan Keuangan Islam. Karena itu, dia mendapatkan
tanggungjawab mengelola keuangan kami. Dia seorang usahawan yang tekun dan
rajin. Luwes bergaul dengan anak-anak juga teman-teman perempuan. Suka bawa
brownis, dan kabarnya, kue ulangtahun untukku itu dari Vikri. Tentu saja
inisiasi dari teman-teman semua. Karena kesukaannya pada anak-anak, dia rajin
mengajar TPA. Beberapa kali menggantikanku mengajar tajwid karena sakit perut
datang bulan. Terimakasih Vikri…. Oh ya, dia teman yang bisa diajak kerjasama
dan sangat pengertian. Senang kenal denganmu… miss you… kutunggu undanganyya!
 |
| Ngopo Simbok.... |
Rifki.
Paling jail khusunya sama teman-teman perempuan. Khususnya lagi aku. Khusunya
lagi kepalaku. Paling suka nguntitin siapa saja yang sedang masak. Katanya sih
mau bantu, eh ternyata beneran. Bantuin nyicipin dan menghabiskan makanan. Dari
awal dia sudah bilang pada kami kalau dia makannya banyak. Makanya aku tak tega
saat pertama kali kami makan dan pertama kali kami buka di posko. Aduh, gak
usah diceritain deh. Yang jelas, dia orang terjail sedunia. Eh salah, seposko.
Tapi, dibalik kejailannya, dia teman yang penyayang dan pengertian.hehe

Hilman
sang ketua. Gendut, besar, tapi manis (sst… ini terpaksa takut orangnya baca).
Dari Fakultas Syari’ah. Satu jurusan sama Rifki. Mungkin karena itu ya,
keduanya selalu bersekongkol dan suka membuli aku yang kecil mungil. Berani
mereka padaku yang lebih tua. Suatu hal yang tak mungkin aku lupakan adalah
saat Hilman dan Rifki mengangkat lenganku hingga tubuhku terangkat tak
menyentuh tanah. Dibawanya aku seperti boneka saja dari depan musholla sampai
hampir dekat posko, tanpa menghiraukan teriakanku dan sandalku yang terpental
entah kemana. Mereka ngeloyor begitu saja saat aku sudah diturunkan dan
marah-marah karena telat mengajar ngaji. Membuat aku jengkel sendiri. Awas
kalian! Akan kumasukkan garam ke minuman kalian nanti! Gerutuku waktu itu,
meski gak jadi karena gak tega. Tapi intinya, Hilman itu ketua yang
bertanggungjawab, pengertian, penyayang, dan kebapakan. Sebenarnya, dia sudah
pantas punya tiga anak.haha


Fahri…
oh Fahri…. Dari anak priyayi yang satu ini, aku banyak tahu tentang sikap orang
Jawa Jogja tulen. Aku menyimpulkan, beberapa sikap kehidupannya sama dengan
sikap kehidupan santri. Hanya satu yang tidak. Fahri belum terbiasa makan
bersama-sama dengan tangan dalam satu wadah. Akhirnya, keberuntungan itu milik
kami. Hehe. Keesokan harinya, dia angkut piring, sendok, dan gelas dari
rumahnya di Imogiri. Haha. Plus buah-buahan, krupuk, dan cemilan yang lainnya.
Ahai!. Dia dewasa dan luwes bergaul dengan bapak-bapak padukuhan. Bahasa Jawanya
yang halus serta pengalamannya membuat kami mengikrarkan bahwa dia adalah MC
keluarga KKN di dunia dan akhirat. Ya, karena mulut Jawanya itu, dia adalah MC
tetap kami. Dia yang paling dekat denganku. Mungkin karena itu tadi, sebagian
kehidupan priyayinya cocok dengan kehidupanku yang santri. Meski dia memanggilku
“Mbak” aku tidak memanggilnya “Dik”.hahaha
 |
| Tuhkan, camera aja dikira cewek sama Eko.hihi |
Eko.
Aku dan Nurul selalu sebel melihat gaya Eko kalau ketemu cewek-cewek. Sok cool,
sok maco, sok ganteng. Aku dan Nurul suka bisik-bisik, “tuh mulai tebar
pesona”.hehe. Tapi bener. Ada beberapa cewek padukuhan yang akhirnya
terkantil-kantil padanya (gak boleh sebut merk). Dia tipe orang yang tidak
tertib. Tapi sekali mengerjakan sesuatu, pasti totalitas. Dia lakukan dengan
sungguh-sungguh, baik, rapih, dan indah. Melebihi kami yang paling tertib.
Dialah gawang pembuatan kaligrafi di musholla dan masjid. Juga kaligrafi semi
lukisan yang kami hadiahkan untuk Pak Agus saat perpisahan yang mengharukan.
Sebenarnya Eko tipe teman yang baik, suka membantu, dan tulus. Hanya kadang,
karena kecerobohannya banyak yang mengira dia benar-bemar ceroboh. Haha. Oh ya,
dia juga santri. Lulusan Gontor. Dan satu-satunya keluarga KKN yang sudah
munakosah. Selamat ya, Ko……


Hemam,
sang pakar membuat sambal. Sampai Rifki yang anti pedes, menjadi gila sambal.
Seperti Eko, mereka jurusan Aqidah Filsafat. Bisa terbilang, selain jagonya
dapur, sosok Hemam adalah sang motivator. Kalau digojlokin dengan Nurul,
jurusnya hanya satu, tersenyum manis. Wkwkwk. Ayo lah, Mam. Bawa Nurul ke
Madura.hahaha. Kalau kalian jadi menikah, bagaimana caranya, kami usahakan
mengundang cak Nun? Bagaimana?hehe. Kalau cak Nun bilang pada Mahfudz MD,
“Tunjukkan Maduramu, Fudz” untuk merevolusi Indonesia, aku juga mau bilang
padamu, “Tunjukkan Maduramu, Mam!” dengan membawa Nurul di hatimu, hihihi. Oh
ya, Hemam juga seorang konseptor dan seorang yang setia mendampingi Eko.
Ahihihi.
Barangkali Ramadhan ini manis karena berada di tengah-tengah teman yang manis... hehe. Miss U All....
0 komentar:
Posting Komentar