Kamis, 06 Maret 2014

Paris Dalam Bingkai Mimpi

Hai tempat indah! Tempat teromantis sedunia! aku kan datang padamu. Menulis puisi di sana!

Aku ingin sekali ke Paris. Menjejakkan kaki di tanahnya, menghirup udaranya, berada di bawah payung langitnya, menikmati senjanya, dan merasakan langsung suasana kesenian dengan para senimannya di surup hari. Aku ingin sekali. Ingin sekali, Tuhan, merasakan udara di bagian Negara-Mu yang lain. Karena itu, aku selalu berdoa, selalu menghidupkannya dalam ingatan, juga mentasbihkannya dalam hati.


Baru kemarin seorang kenalan mengirimkan kabar kalau akhir bulan ini akan terbang ke Austaralia. Senang sekali mendengarnya. Turut senang! Sungguh. Setelah berkeliling Amerika sambil menuntut ilmu di Hawai, sekolah musim panas di Bangalore India, Kau mengirimya lagi untuk merasakan panorama alam di negri kangguru itu. Tuhan… aku juga ingin. Ingin sekali.


India! Aku juga ingin ke Bangaloremu. Membeli sari, mahendi, dan buku-buku Mahatma Ghandi langsung di sana. Di tanah Hindu.

“Cepet bahasa Inggrisan, ” katanya menyemangati. “Iya, Mbak, kuselesaikan dulu skripsi dua bulan ini. Bismillah lancar.” Setelah itu mau ngeces-ngeces bahasa Inggris. Lalu mencoba mengadu peruntungan nasib dengan rajin browsing dan mengaplay aplikasi.hehe. Bismillah.

Keinginanku sudah sampai dipuncak ubun-ubun. Masa depan, oh! masa depan!. Bersama Sang Pencipta, hampirilah aku dengan keberuntungan, kesenangan, dan kebahagiaan. Telah sejak lama bapak-ibuk mengirim doa untuk anak gadisnya ini dengan diam-diam. Dan aku, juga dengan diam-diam, telah lama mengetahuinya. Tuhan, Gusti, semoga senyum rekah dan hati bermekaran akhirnya menghampiri mereka berdua. Bapak-ibuk. Melihat aku memetik impian dan senyum yang rekah pula. Lalu menghirup wanginya dalam-dalam, dengan khidmat. Bismillah Bismillah……



0 komentar:

Posting Komentar