Kamis, 06 Maret 2014

Interfaith Youth Pilgrimage



Entah berapa kali lagi saya mesti bersyukur. Berterimakasih kepada Allah atas skenario demi skenario kehidupan yang Ia bentangkan di depan saya. Ya, bisa terpilih dan mengikuti Program semacam “Interfaith Youth Pligrimage” ini adalah hal yang saya kira tak pernah terbayangkan. Siapa yang tidak senang bisa bertemu, berproses, dan belajar bersama dengan teman-teman Indonesia, antar agama dan antar suku. Duduk dan jalan-jalan bersama  untuk membicarakan suku dan agama masing-masing selama 10 hari. Ya, sesuai jargonnya: 10 hari penuh makna.

Setelah berputar-putar di area UGM sambil smsan dengan tim IYP, kemarin (10/11), sekitar pukul 15:15 WIB akhirnya saya tiba di Home Stay UGM N53, tepatnya di sebelah selatan Fakultas Kedokteran Gigi. “Hai, itu sepertinya,” kata seorang teman yang mengantar saya sebelum kami menemukan home stay yang dimaksud tim IYP. Waktu itu kami tepat berada di depan FKG. Seorang tim IYP, perempuan dan berjilbab melambai-lambai ke arah kami.
Setibanya di Home Stay, Ellise, TIM leader menyapa saya. Dan disambut seorang lelaki—yang tak lama lagi saya tahu adalah koord. Acara, Erich—juga menyambut saya dan langsung menyuguhkan seminar kits--. Di dalam, sudah ada beberapa peserta yang tengah duduk santai. Dari air mukanya, beberapa terlihat masih kecapain. Ada Annur dari salatiga, Dian dari NTB, Puji Dari Bali, Abdullah dari Kuningan.
Sekitar lima menitan bersantai dan berkenalan dengan beberapa peserta, Erick menyodorkan tiga lembar kertas yang berisi pertanyaan dan pendapat yang mesti kami isi. Pertanyaan seputar hubungan dan bersikap antar agama. Satu pertanyaan yang membuat saya terhenti sejenak mengangkat pena adalah pendapat tentang menikah antar agama. Dalam ruang dengar dan pengalaman saya, hal ini bukanlah hal asing. Tapi, saat pertanyaan semacam itu ditujukan langsung kepada saya sebagai pribadi muslimah, entah mengapa saya begitu terhenyak.
Jelas, dalam hati dan  pemahaman saya, Islam, secara fiqhiyyah yang saya anut, melarang pernikahan beda agama. Nah, sampai saat ini pun, (11/11) pukul 03:04 dini hari, saya masih mencari-cari, apa yang membuat saya terhenyak dan masih perlu berpikir lama untuk menjawab pertanyaan itu?
Beberapa peserta dari Sumatra telah datang. Ada Era dari Padang, Tere dari Aceh, dan Robi dari Medan. Setelah berkenalan dan sedikit mengobrol, akhirnya saya dan Era—aktivis LBH Padang—memutuskan untuk menyantap makanan di ruang belakang yang telah disiapkan oleh panitia.
Di tengan obrolan dengan Era, Ellise bergabung. Seorang TIM Leader ini sepertinya sangat hafal dan paham nama dan latar belakang para pesertanya. Kepada saya, dia mengatakan mengenal Noor Ismah. “Oh ya, dialah direktur Komunitas Matapena yang rela meluangkan waktunya untuk membuatkan surat rekomendasi untuk saya”. Ternyata keduanya merupakan orang-orang yang berkesempatan mendapatkan beasiswa IFP di Luar Negri.

Sekitar 25an peserta telah datang. Erick memimpin sessi perkenalan singkat karena peserta putri mesti cepat pindah ke Home Stay yang lain dan lekas berkemas untuk Welcoming Dinner di Bale Raos Restaurant yang ada di JL. Magangan Kulon Yogyakarta. Stagment dari Erick sempat membuat saya terkesan. Dia meminta ma’af kepada kami --peserta putri—dan menekankan bahwa Hom Stay peserta putri lebih kecil bukan karena menomorduakan perempuan. Namun, karena alasan jumlah kamar dan jumlah peserta putra lebih banyak. Sessi perdana yang begitu mencerminkan equality . Tidak berlebihan rasanya jika saya katakana bahwa hal itu merupakan ejawantah seseorang yang setara semenjak dalam pikiran.
Sesampai di Home Stay putri, saya mesti kecewa karena mendapat jatah untuk menikmati kamar sendirian. Padahal, saya sudah membayangkan satu ranjang dengan seorang teman buddist, Hindu, Katolik, Protestan atau pemeluk agama lainnya. Saya sudah membayangkan, sebelum tidur, akan kami jemput kantuk dengan mengobrol tentang agamaku dan agamamu. Bahkan saya sudah membayangkan akan rela dan senang hati untuk mendengarakan apapun yang akan diobrolkan tentang agamanya, ligkungannya dan keluarganya.
Akhirnya saya bunuh rasa kecewa itu dengan menenangga ke tetangga sebelah yang satu kamarnya diisi dua peserta. Di samping peserta lainnya mandi untuk persiapan Welcoming Dinner, saya mengobrol bebas dengan Tika, seorang perempuan asli Bantul Jogja yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga pemeluk Kerohanian Sapta Darma. Kami cepat akrab. Apalagi saat satu lagi penghuni kamar datang. Amel namanya. Seperti saya, dia seorang muslimah asal Lombok NTB. Sedang kuliah di UII sambil nyambi menjadi seorang Guider. Seperti saya, dia juga ceriwis. Jadilah kamar ini yang paling rame senja itu. Sesekali terdengar obrolan. Sesekali terdengar koor suara bahaktawa.
Dian nyelonong ke kamar, dia yang akan sholat bertanya arah kiblat. Aku dan Amel yang sama-sama muslimah sebagaimana Dian, malah hanya bisa menggeleng dan melanjutkan obrolan. Tiba-tiba Tika beranjak dai ranjang dan membuntuti Dian yang masih kebingungan.
“Dari mana?” kataku pada Tika setibanya di kamar lagi. “Keluar, nginget-nginget arah Barat. Kalau di dalam agak bingung”. Aduhai maknyessnya hatiku melihat sikap Tika seorang pemeluk Keruhanian ini. Wah, hari pertama ini dan belum apa-apa sudah ada saja pelajaran yang mesti saya contoh dari seorang teman ini. Saya pun diam-diam mulai mempertanyakan keislaman saya sendiri.hehe

Yogyakarta di guyur gerimis saat bus kami menyusuri malamnya Jogja menuju daerah Keraton. Sebuah Restaurant yang hikmat.  Acara Welcoming Dinner ini dibuka oleh seorang TIM IYP yang cantik. Tika juga namanya. Setelah Ellise menyambut kedatangan peserta secara resmi dalam sambutannya, dia juga menyapa para tokoh yang datang pada malam itu. Ada Asisten 1 yakni Sekretaris Daerah bapak Sulisiyo, Kakanwil Kemenag, MUI DIY, dan Ibu Siti Samsiyatun ketua ICRS. 
Dalam sambutannya, Ellise juga mengatakan bahwa program IYP ini bisa terlaksana karena proposal yang ia ajukan ke US sebagai alumni engagement foundation diterima. “Dari 700 proposal yang masuk, hanya dua proposal yang diterima. Dua-duanya proposal dari Indonesia dan dua-duanya juga dari Yogyakarta. Pertama. Proposal IYP dan proposal gamepast;permainan tradisional. Penjelasan Ellise langsung disambut gemuruh tepuk tangan hadirin. “Semoga kota-kota lain di Indonesia bisa segera menyusul,” imbuh Ellise.
Sambutan selanjutnya adalah dari Gubernur DIY (Sri Sultan Hamengku Buwono X) yang pada kesempatan tadi malam diwakili oleh Bapak Sulistio sebagai asisten 1. Satu diantara beberapa isi sambutan Sri Sultan yang disampaikan oleh Bapak Sulistio adalah bahwa Yogyakarta adalah City Of Tolerant. Segala macam suku dan agama di Indonesia hidup berdampingan di Jogja. Jogja adalah kota yang ramah. Jikalau kemarin ada kabar tentang konflik di Jogja, itu karena adanya satu sumber konflik. Yaitu keterbatasan SDM yang diperebutkan oleh masyarakat yang multicultural. Dan hal itu tidak butuh waktu lama bisa ditangani oleh Jogja. Dalam sambutannya, Sri Sultan juga menyampaikan bahwa untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya konflik, harus dibangun paham pluralisme demi persaudaraan dan persatuan. Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Bapak Sulistio, Sri Sultan sangat mengapresiasi dan mendukung program IYP ini.


Sebelum makan malam, Ibu Siti Maryam selaku ketua ICRS juga mengisi sambutan. Beliau menjelaskan sedikit tentang ICRS dan program IYP.
Tarian Kelono Topeng yang disajikan langsung oleh penari Kraton, menemani makan malam kami. Puding Cacao With Vla menjadi makanan penutup Welcoming Dinner malam ini. Belum juga acara usai, saya sudah merindukan rentetan acara dan perjalanan esok hari. Allaahumma As-aluka Min Faj-atin Khoyrin Wa A’uwdzubika Min Faj-atin Syarrin.
   
                                                                                     Home Stay, 11 November 2013
04:54, subuh yang putih



Dimuat di http://www.komunitasmatapena.com/karya/109-halimah-garnasih/343-hari-pertama-catatan-harian-dari-interfaith-youth-pilgrimage.html   

0 komentar:

Posting Komentar