Selasa, 22 April 2014

Ginonjing

Saya suka surat Kartini yang ini. Seakan mewakili apa jua yang telah saya rasa pada alunan gending-gending. Sayup-sayup mendengarnya membuat ingin lari mendekat sekaligus lari menjauh. Emosi juga teraduk-aduk. Sedih bercampur bahagia.  


“Ginonjing itu bukan suatu nyanyian, juga bukan lagu, hanya bunyi-bunyian dan nada. Begitu lembut, begitu halus, genit, semua bercampur-baur, bergetar dan melayang-layang tak bertujuan, namun betapa menawan hati, mengharukan! Bukan, bukan! Itu bukan bunyi-bunyian yang timbul dari gelas, tembaga dan kayu, itu suara dari jiwa-jiwa manusia yang menegur kami, sebentar mengaduh, sebentar lagi menangis dan kadang-kadang ketawa gembira. Dan jiwaku pun ikut melayang-layang bersama dengan nada-nada perak murni itu naik, naik makin tinggi ke langit biru, ke awan berbulu, ke bintang-bintang yang berkilau-kilauan. Suara-suara itu membawaku ke lembah-lembah gelap, ke jurang yang dalam, ke hutan yang menyeramkan, ke semak-semak  dan belukar yang tak tertembuskan! Dan jiwaku gemetar dan mengecil ketakutan, sakit dan sedih!.... Beribu-ribu kali aku telah mendengar Ginonjing, namun tak satu suara, tak satu nada dapat kutangkap. Sekarang gamelan telah berhenti. Tak satu ada dapat kuingat kembali. Semua terhapus dari ingatanku, itu nada-nada sedih dan manis yang membuat aku merasa bahagia tak terhingga, tetapi seketika itu sedih sayu. Aku tak dapat mendengarkan Ginonjing tanpa terharu sedalam-dalamnya. Kalau aku mendengar bunyi permulaannya saja, maka hilanglah aku. Aku tidak mau mendengarkan lagu yang murung itu, namun aku harus. Harus mendengarkan suara yang berbisik-bisik, yang bercerita tentang zaman yang lampau dan tentang hari-hari yang akan datang. Aku rasakan seolah suara-suara bergetar itu menghembus hilang cadar-cadar yang menyelubungi hari depan. Dan terang benderang seperti hari ini lewatlah bayang-bayangan hari depan di muka mataku…Badanku menggigil, kalau aku melihat bayangan-bayangan hitam seram timbul di depanku. Aku tidak mau melihat, tetapi mataku terbuka lebar dan dua muka kakiku menganga jurang yang mengerikan dalamnya. Tetapi kalau aku menengadah ke atas, di mana langit biru melengkung di atasku dan sinar matahari keemasan bermain-main dengan awan putih, maka dalam hatiku menjadi terang kembali…"

(Surat kepada Stella, 12 Januari 1900)

0 komentar:

Posting Komentar