Saya suka surat Kartini yang ini. Seakan mewakili apa jua yang telah saya rasa pada alunan gending-gending. Sayup-sayup mendengarnya membuat ingin lari mendekat sekaligus lari menjauh. Emosi juga teraduk-aduk. Sedih bercampur bahagia.
“Ginonjing itu bukan suatu nyanyian, juga bukan lagu, hanya
bunyi-bunyian dan nada. Begitu lembut, begitu halus, genit, semua
bercampur-baur, bergetar dan melayang-layang tak bertujuan, namun betapa
menawan hati, mengharukan! Bukan, bukan! Itu bukan bunyi-bunyian yang timbul
dari gelas, tembaga dan kayu, itu suara dari jiwa-jiwa manusia yang menegur
kami, sebentar mengaduh, sebentar lagi menangis dan kadang-kadang ketawa
gembira. Dan jiwaku pun ikut melayang-layang bersama dengan nada-nada perak
murni itu naik, naik makin tinggi ke langit biru, ke awan berbulu, ke
bintang-bintang yang berkilau-kilauan. Suara-suara itu membawaku ke
lembah-lembah gelap, ke jurang yang dalam, ke hutan yang menyeramkan, ke
semak-semak dan belukar yang tak
tertembuskan!
Dan jiwaku gemetar dan mengecil ketakutan, sakit dan sedih!....
Beribu-ribu kali aku telah mendengar Ginonjing, namun tak satu suara, tak satu
nada dapat kutangkap. Sekarang gamelan telah berhenti. Tak satu ada dapat
kuingat kembali. Semua terhapus dari ingatanku, itu nada-nada sedih dan manis
yang membuat aku merasa bahagia tak terhingga, tetapi seketika itu sedih sayu.
Aku tak dapat mendengarkan Ginonjing tanpa terharu sedalam-dalamnya. Kalau aku
mendengar bunyi permulaannya saja, maka hilanglah aku. Aku tidak mau
mendengarkan lagu yang murung itu, namun aku harus. Harus mendengarkan suara
yang berbisik-bisik, yang bercerita tentang zaman yang lampau dan tentang
hari-hari yang akan datang. Aku rasakan seolah suara-suara bergetar itu
menghembus hilang cadar-cadar yang menyelubungi hari depan. Dan terang benderang
seperti hari ini lewatlah bayang-bayangan hari depan di muka mataku…Badanku
menggigil, kalau aku melihat bayangan-bayangan hitam seram timbul di depanku.
Aku tidak mau melihat, tetapi mataku terbuka lebar dan dua muka kakiku menganga
jurang yang mengerikan dalamnya. Tetapi kalau aku menengadah ke atas, di mana
langit biru melengkung di atasku dan sinar matahari keemasan bermain-main
dengan awan putih, maka dalam hatiku menjadi terang kembali…"
(Surat kepada Stella, 12 Januari 1900)
0 komentar:
Posting Komentar