Kamis, 18 Juli 2024

~Yang Edan~

"Kamu itu, sedang mengalami momen 'Keterlemparan dari Semesta,' celetuk teman perempuanku si filusufwati.

Mendengarnya, jantungku rasanya makjenggirat. Klausa 'Keterlemparan dari Semesta' yang diucapkannya dengan enteng dan sambil lalu di antara kegiatannya mengucah cemilan, untukku sangat terbalik. Momen saat klausa ini keluar dari mulutnya seakan mengeluarkan medan magnet yang menarik-narik keseluruhanku.

Saat itu, aku memang sedang 'patah hati' dengan dunia dan seisinya. Fase ngedan di Jogja sudah aku lalui dari hulu hingga hilir. Stamina dan progresivitas masa muda kugunakan sampai khatam. Aku bergumul dengan pagi, berkutat dengan siang, berbincang dengan senja, hingga berdebat dengan malam!

Sebagai perempuan pun, aku telah merenung-menekur sambil rasan-rasan sampai subuh dengan rambutku, dengan mataku, dengan bibirku, dengan gemulai tanganku, hingga ujung kuku jemari kakiku. Telah rampung. Hingga mereka tak bisa berkata-kata lagi.

Lalu, tiba-tiba dunia terasa hambar. Dunia ternyata mentok. Hanya segini saja, Kau, Dunia? Segini saja? 

Klausa 'Keterlemparan dari Semesta' memang cocok untuk menggambarkan keadaanku saat itu.

Karena 'Keterlemparan dari Semesta' itulah secara mengalir membuat keseluruhanku mengasingkan diri di salah-satu Masjid Jogja yang dihuni oleh orang-orang 'unik nan aneh'. 

Fisikku memang terlihat bertapa di antara aktifitas-aktifitas bangunan-bangunan Masjidnya. Tapi tidak ada seorang pun tahu, di antara kerumunan manusia, di tengah hiruk-pikuk kesibukan mereka, di antara kerasnya bahak tawaku sendiri, sejatinya 'aku' sedang menyepi. Melakukan khalwat. Di tengah-tengah mereka yang berlalu lalang, aku sedang menepi, mengkhusyuki dan memusatkan diri pada Yang di Luar Semesta. Memusatkan diri dengan kuat. Sekuat-kuatnya pemusatanku. Yang di Luar Semesta.

Yang di Luar Semesta, karena aku sedang mengalami 'Keterlemparan dari Semesta'. Kemana lagi aku pergi, kemana lagi aku berjalan, kemana lagi aku menuju kalau bukan ke Yang Satu itu. Ke Yang Esa itu. 

Hari-hariku dipenuhi hanya memikirkan-Nya. Nafas demi nafasku hanya dipenuhi keinginan bersama-Nya. Seolah yang di dalam ingin berkata, "Ya Allah, sampun cekap ya Allah... Sampun mentok ya Allah... Njenengan mawon ya Allah... Namung Njenengan ya Allah..."

Duhai, seperti yang dikatakan oleh sang guru, "Jangan inginkan (minta) Surga, inginkan (minta) saja penciptanya, maka kamu akan mendapatkan keduanya."

Betul saja, tak lama dari hari-hari tersibukkan diri dengan-Nya, tak kusangka banyak kejutan dari-Nya satu per satu menghampiri. Salah satunya, mewujud seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang mendaku seorang 'utusan'. "Sampean iku luwe, Mbak. Tapi duduk wetenge," katanya suatu saat. Perkataan yang diutarakan dengan begitu halus tapi cukup menelusup ke balik dada ini.

Seorang laki-laki dengan senyum paling lembut. Suaranya membisikkan cahaya. Langkahnya menyiratkan kerinduan. Dan kata-katanya, dipenuhi cinta. Bukan cinta yang hambar. Bukan cinta ilusif. Bukan cinta yang dangkal. Ini adalah cinta yang dimaksud dengan makna sesungguhnya cinta. Aku tahu, karena setiap lakunya, setiap geraknya, setiap guratan pada air mukanya, mengejawantahkan ketaatan. Itu satu garis lurus dengan c i n t a yang kumaksud. Yang hulu dan hilirnya adalah Allah dan Rasul-Nya, sang Njeng Nabi.

0 komentar:

Posting Komentar