Setengah sadar, aku merasakan tendangan kaki kecil di dalam perut. Aku ingat, itu jejakan yang beruntun di permukaan rahim. Sekiranya lebih dari tiga kali.
Untuk kenyamanan dan lebih pulas, aku mengganti posisi tidur miring ke kanan, sebelum jejakan telapak kaki kembali mendarat di perutku, kini dibagian dasar rahim. Jejakan yang tegas, mantap, dan juga keras membuatku terkejut, sontak mataku terbuka diikuti dada yang berdebar-debar seperti jamaknya orang bermimpi, tapi bukan mimpi karena terlampau nyata!
Sepersekian detik selanjutnya, aku menyadari tubuhku sudah terduduk di dalam kamar yang remang berwarna biru hampir keabuan karena lampu yang masih padam namun mendapat semburat cahaya sepertiga malam dari balik kaca kamar. Dadaku masih berdebar bercampur rasa senang yang menyeruap memenuhi dada akibat tendangan keras tapak kaki mungil di dalam perut yang masih terasa.
Namun, sekian detik selanjutnya, rasa senang yang menyeruap itu diikuti perasaan terkejut hampir panik menyadari diri ini sedang tidak hamil!
-------------
"Itu memang anak kita," terang suam lembut.
Setelah sedikit menggeser duduknya, suam melanjutkan, "Semalam, aku memang mulai melayoutenya (Terjemahan Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah Jilid 7)."
Lalu, begitu saja, pemahaman turun ke dalam dadaku dan mulai menjalar ke alam pikir: bahwa melayoute naskah adalah sebagaimana tulang kerangka pada janin di dalam perut. Tendangan akan semakin terasa mantap di dinding rahim saat tulang-tulang janin telah terbentuk dengan kokoh.
Sekilas aku menyaksikan telapak kaki mungil menghantam dinding rahim, dan begitu saja ada angka 7 tergambar di alam imajinalku.
Saat menulis ini, kusempatkan mencari tahu di laman google tentang perkembangan bayi di bulan ke-7. Membacanya, membuatku terkekeh-kekeh. Itu tentang fase tulang bayi yang menjadi semakin kokoh: tulang muda menjadi tulang yang lebih matang.
"Itu memang anak kita," kembali suara suam memasuki ruang pendengaranku, sebelum kembali melanjutkan,
"Secara teknis, memang aku yang menerjemah. Tapi, dalam proses bersama naskah yang aku terjemah itu, aku makan dari makanan yang kau masak dan sajikan. Aku minum dari air yang kau tuangkan. Tubuhku memakai pakaian yang kau cucikan. Aku tinggal di rumah yang kau rawat dan bersihkan..."
Tanpa suam jelaskan, sebenarnya aku sangat memahami itu. Bahkan, sebelum memutuskan menikah dengannya, aku "telah diberi tahu" dan sangat paham bagaimana medan yang akan aku tempuh. Ini juga yang membuatku dengan suka cita melepaskan hal-hal duniawiku. Dan memang, saat itu aku juga seperti merasa selesai dengan dunia. Bahkan, hal inilah yang membuatku tenang , membuatku 'sakiinah' menjalani hidup dengannya. Karena apa yang aku lakukan di dalam rumah bersamanya, sejak membuka mata hingga memejamkannya lagi, tak lain adalah bentuk pelayanan seorang hamba kepada Sang Penciptanya.
Tapi tendangan ini, begitu menghentak "keseluruhanku", mulai dari alam fisikku hingga alam meta fisikku. Sungguh menghentak. Karena ternyata, pengalaman ini begitu indah dan terlampau nyata. Berbagai warna rasa berkumpul di sana. Menghentak indah sekaligus membuat terpana!
Sekali lagi, suam berbisik di bawah daun telinga ini, "Itu memang anak kita, yang sebentar lagi lahir. Itu memang anak kita..."
"Menendang-nendangmu,"
Aku terkekeh.
0 komentar:
Posting Komentar