Senin, 18 Juli 2016

DUAPULUHSEMBILAN: DIBELIKAN SANDAL BAPAK


Hal biasa dan umum terjadi seorang ibu membelikan sandangan kepada anak perempuannya. Begitupula dengan ibuk saya. Apapun yang dibelikan ibuk untuk saya, pasti pas dan bagus saat saya pakai. Entah itu baju, kerudung, perhiasan, sampai sepatu dan sandal. Saya memang perempuan yang tidak begitu hobi membeli hal-hal seperti itu. Jikalau sedang ada uang, saya lebih suka menggunakannya untuk keperluan primer dan kebutuhan sehari-hari saja. Karena hal itulah, meski saya sudah segede ini, ibuk selalu memperhatikan baju sampai sandal saya yang itu-itu saja. Tidak jarang, sepulang dari pasar, ibuk membawa sandal, sarung, kerudung, dan lainnya. “Ibuk belikan itu untuk kamu. Sandal yang itu tidak usah dipakai lagi,” perintah ibuk kepada saya yang cuek pada barang-barang barunya. Begitulah. Ya saya pakai.

Tapi ada hal yang tak biasa bagi saya, saat sandangan itu langsung dibelikan oleh bapak. Bapak saya yang tidak seekspressif ibuk dalam menyampaikan rasa sayang kepada anak-anaknya, suatu kali membelikan saya sandal. Sandal yang akhirnya saya sayang-sayang.

Suatu kali, pasca saya operasi tulang kaki kanan dan beristirahat di salah-satu rumah paklek di Solo selama beberapa bulan, bapak membawa kresek hitam dari pasar. Di siang yang terik itu, bapak disambut ibuk dan mereka berdua langsung menghambur  ke arah saya yang waktu itu hanya bisa terlentang di atas ranjang. Dengan wajah sumringah, bapak membuka kresek hitam itu di depan saya. Dan sepasang sandal hak tinggi berwarna coklat muncul dengan cantiknya. Ibuk tersenyum sumringah. Saya juga berusaha tersenyum pula. “Apik gak?” tanya bapak tepat di depan muka saya. “Nggeh,” langsung saya menyahut dengan senyum. Dengan halus, bapak memasukkan sandal itu di kaki kiri saya, karena kaki kanan terbalut perban sampai ke telapak kaki.

“Pas. Bagus!” pekik ibuk. Bapak sontak menoleh ke arah ibuk, “iyo ta?”. Ibuk mengangguk mantap. Di hadapan saya, mereka berdua sumringah dan selalu menunjukkan roman bahagia, tapi saya tahu, bapak dan ibuk begitu sedih melihat saya harus meminum belasan kapsul tiga kali sehari dan bersabar melewati ujian Tuhan ini. Saya juga tahu, diam-diam mereka berdua sering menangis di belakang saya, sebagaimana mereka berdua pula tahu diam-diam anak perempuannya menahan nyilu tak tertahan di kaki kanannya.


Oh ya, sandal itu beberapa kali saja saya pakai. Rusak. Karena bapak belum berpengalaman seperti ibuk yang kalau membeli sesuatu cenderung lamaaaa sekali. Mempertimbangkan harga, kualitas barang, ditambah waktu tawar menawar yang  alot. Tapi toh, ibuk selalu menang, dan para pembeli itu selalu berusaha ikhlas dengan air muka yang kecut. Hahaha.

0 komentar:

Posting Komentar