Hal
biasa dan umum terjadi seorang ibu membelikan sandangan kepada anak
perempuannya. Begitupula dengan ibuk saya. Apapun yang dibelikan ibuk untuk
saya, pasti pas dan bagus saat saya pakai. Entah itu baju, kerudung, perhiasan,
sampai sepatu dan sandal. Saya memang perempuan yang tidak begitu hobi membeli
hal-hal seperti itu. Jikalau sedang ada uang, saya lebih suka menggunakannya
untuk keperluan primer dan kebutuhan sehari-hari saja. Karena hal itulah, meski
saya sudah segede ini, ibuk selalu memperhatikan baju sampai sandal saya
yang itu-itu saja. Tidak jarang, sepulang dari pasar, ibuk membawa sandal,
sarung, kerudung, dan lainnya. “Ibuk belikan itu untuk kamu. Sandal yang itu
tidak usah dipakai lagi,” perintah ibuk kepada saya yang cuek pada
barang-barang barunya. Begitulah. Ya saya pakai.
Tapi
ada hal yang tak biasa bagi saya, saat sandangan itu langsung dibelikan
oleh bapak. Bapak saya yang tidak seekspressif ibuk dalam menyampaikan rasa
sayang kepada anak-anaknya, suatu kali membelikan saya sandal. Sandal yang
akhirnya saya sayang-sayang.
Suatu
kali, pasca saya operasi tulang kaki kanan dan beristirahat di salah-satu rumah
paklek di Solo selama beberapa bulan, bapak membawa kresek hitam dari pasar. Di
siang yang terik itu, bapak disambut ibuk dan mereka berdua langsung
menghambur ke arah saya yang waktu itu
hanya bisa terlentang di atas ranjang. Dengan wajah sumringah, bapak membuka
kresek hitam itu di depan saya. Dan sepasang sandal hak tinggi berwarna coklat
muncul dengan cantiknya. Ibuk tersenyum sumringah. Saya juga berusaha tersenyum
pula. “Apik gak?” tanya bapak tepat di depan muka saya. “Nggeh,”
langsung saya menyahut dengan senyum. Dengan halus, bapak memasukkan sandal itu
di kaki kiri saya, karena kaki kanan terbalut perban sampai ke telapak kaki.
“Pas.
Bagus!” pekik ibuk. Bapak sontak menoleh ke arah ibuk, “iyo ta?”. Ibuk
mengangguk mantap. Di hadapan saya, mereka berdua sumringah dan selalu
menunjukkan roman bahagia, tapi saya tahu, bapak dan ibuk begitu sedih melihat
saya harus meminum belasan kapsul tiga kali sehari dan bersabar melewati ujian
Tuhan ini. Saya juga tahu, diam-diam mereka berdua sering menangis di belakang
saya, sebagaimana mereka berdua pula tahu diam-diam anak perempuannya menahan
nyilu tak tertahan di kaki kanannya.
Oh ya, sandal itu beberapa
kali saja saya pakai. Rusak. Karena bapak belum berpengalaman seperti ibuk yang
kalau membeli sesuatu cenderung lamaaaa sekali. Mempertimbangkan harga,
kualitas barang, ditambah waktu tawar menawar yang alot. Tapi toh, ibuk selalu menang, dan para
pembeli itu selalu berusaha ikhlas dengan air muka yang kecut. Hahaha.
0 komentar:
Posting Komentar