Jumat, 27 Mei 2016

TIGAPULUHSATU: BAPAK, IBUK, DAN MAKOM SUNAN AMPEL


Semenjak kecil, saya telah akrab keluar masuk makom alias pemakaman alias kuburan. Begitulah nasib menjadi anaknya orang Madura. Mengunjungi makom bagi orang Madura adalah tradisi, dan tradisi itu kental sekali bahkan sampai sekarang. Pulang kampung itu, belum pulang kampung kalau belum sowan ke makom. 

Seperti menjadi kewajiban, saat baru datang dan akan meninggalkan Madura, saya harus bertandang terlebih dulu ke makom di desa itu. Dalam tiga hari besar yang pada umumnya para keluarga saya dan para urban manapun pulang kampung, maka pada kesempatan itu pula, kami akan duduk bersimpuh ke makom. Bahkan, piknik saja, ya piknik ke makom. Saya ingat sekali, tiga tempat yang saya kunjungi bersama keluarga besar semasa saya kecil, yaitu Makom Syaikhona Kholil, Makom di Batuampar Sumenep, dan satu Makom lagi di Kalianget. Yang terakhir itu adalah makom di sebuah pulau kecil yang terpisah dengan pulau Madura. Kami menempuhnya dengan menggunakan perahu karena kami harus menyebrangi laut. Jadi, setiap kali keluarga mengajak piknik, itu artinya akan ke Makom. Ya begitulah yang saya pahami sewaktu kecil. Piknik itu berarti ke makom, berarti akan membaca tahlil bersama, berarti akan minum air gentong di depan makom. Ya, semenjak kecil, perut saya ini sudah berisi air keramat dari lebih tujuh sumur. Dan embun-embunan saya ini, sudah disuwuk dan disebul buh oleh banyak orang yang dianggap keramat alias berkaromah. Sampai kiai tersohor di Banyuwangi yang isunya merupakan salah-satu kiai yang terselamatkan dari Ninja, pada musim kisruh politik antara tahun 98-99nan.  Bahkan, saat umur belasan tahun, paklek saya menyuruh saya mandi dengan air telaga bidadari yang katanya diambilnya saat sowan ke tempatnya Joko Tingkir. Yasudah, saya manut saja. Hitung-hitung sambil berimajinasi menjadi bidadari.Cemewewew.

Tapi hanya ada satu kunjungan makom yang paling mengesankan saya. Yaitu kunjungan ke Makom Sunan Ampel. Sebenarnya kunjungan itu adalah kunjungan yang kesekian kalinya. Ya, karena letaknya di Surabaya, relatif dekat dan banyak rumah saudara di sana. Namun, kunjungan itu sangat spesial karena kunjungan ini sangat puitis dan romantis bagi saya.

Waktu itu, kaki kanan saya masih diperban. Saya berjalan dengan bantuan kruck sambil terpincang-pincang. Ceritanya, ibuk mengajak bapak untuk mengajak saya ke makom. “Ayo, Pak ngalap barokahnya Sunan Ampel. Sekalian kita berdoa di sana untuk kesembuhan Halimah. Siapa tahu, lantaran barokah, Halimah lekas disembuhkan Pengeran,” ajak ibuk. Bapak langsung mengiyakan. Jadilah pagi itu, kami berangkat dari rumah saudara ke Makom Sunan Ampel.

Pagi yang puitis, karena saya merasa kembali menjadi anak kecil yang sangat dijaga oleh orangtua. Saat itu, saya sudah berumur 22 tahun. Di atas becak, saya dipangku bapak dan ibuk. Sepanjang jalan menuju makom, saya dipapah romantis oleh bapak-ibuk. Bapak sengaja tidak membawa kami melewati jalan utama, tapi gang-gang Surabaya yang sepi, jadi berasa kembali ke masa kolonial. Maklum, bapak sudah sangat akrab dengan daerah sini, karena saudara jauhnya banyak berumah di sini. Sepanjang jalan, kami bertiga diperhatikan oleh banyak orang. Sepanjang jalan itu juga, bapak menyapa setiap orang dengan ramah. Saya dan ibuk pun sama-sama melempar senyum.

Sesampainya di komplek makom, bapak menceritakan tentang sejarah Sunan Ampel yang diketahuinya. Tentang sejarah masjid, mbah Sentono, mbah Seribu, sampai kuliner dan para pedagang asongan sepanjang jalan yang mayoritas adalah orang Madura. Cerita yang sebenarnya sudah sering bapak ceritakan setiap kami mampir ke sini. Sambil memapah saya, seringkali bapak dan ibuk saling bercanda. Saya yang menjadi nyamuk di antara mereka berdua, merasa sangat senang. Memang, jarang sekali keduanya bisa sementara waktu melepaskan penatnya hidup.

Perjalanan pulang-pergi ke makom Sunan Ampel kala itu adalah perjalanan terjauh dan terlama untuk pertama kalinya bagi saya setelah operasi dan terlentang saja di atas ranjang. Dan sampai sekarang, saya belum pernah menceritakan kepada bapak-ibuk hilangnya rasa nyilu dan beban berat di kaki kanan sepulang dari makom.[]








0 komentar:

Posting Komentar