Semenjak
kecil, saya telah akrab keluar masuk makom alias pemakaman alias kuburan.
Begitulah nasib menjadi anaknya orang Madura. Mengunjungi makom bagi orang
Madura adalah tradisi, dan tradisi itu kental sekali bahkan sampai sekarang.
Pulang kampung itu, belum pulang kampung kalau belum sowan ke makom.
Seperti
menjadi kewajiban, saat baru datang dan akan meninggalkan Madura, saya harus
bertandang terlebih dulu ke makom di desa itu. Dalam tiga hari besar yang pada
umumnya para keluarga saya dan para urban manapun pulang kampung, maka pada
kesempatan itu pula, kami akan duduk bersimpuh ke makom. Bahkan, piknik saja,
ya piknik ke makom. Saya ingat sekali, tiga tempat yang saya kunjungi bersama
keluarga besar semasa saya kecil, yaitu Makom Syaikhona Kholil, Makom di
Batuampar Sumenep, dan satu Makom lagi di Kalianget. Yang terakhir itu adalah
makom di sebuah pulau kecil yang terpisah dengan pulau Madura. Kami menempuhnya
dengan menggunakan perahu karena kami harus menyebrangi laut. Jadi, setiap kali
keluarga mengajak piknik, itu artinya akan ke Makom. Ya begitulah yang saya
pahami sewaktu kecil. Piknik itu berarti ke makom, berarti akan membaca tahlil
bersama, berarti akan minum air gentong di depan makom. Ya, semenjak kecil,
perut saya ini sudah berisi air keramat dari lebih tujuh sumur. Dan
embun-embunan saya ini, sudah disuwuk dan disebul buh oleh banyak
orang yang dianggap keramat alias berkaromah. Sampai kiai tersohor di
Banyuwangi yang isunya merupakan salah-satu kiai yang terselamatkan dari Ninja,
pada musim kisruh politik antara tahun 98-99nan. Bahkan, saat umur belasan tahun, paklek saya
menyuruh saya mandi dengan air telaga bidadari yang katanya diambilnya saat
sowan ke tempatnya Joko Tingkir. Yasudah, saya manut saja. Hitung-hitung sambil
berimajinasi menjadi bidadari.Cemewewew.
Tapi
hanya ada satu kunjungan makom yang paling mengesankan saya. Yaitu kunjungan ke
Makom Sunan Ampel. Sebenarnya kunjungan itu adalah kunjungan yang kesekian
kalinya. Ya, karena letaknya di Surabaya, relatif dekat dan banyak rumah
saudara di sana. Namun, kunjungan itu sangat spesial karena kunjungan ini
sangat puitis dan romantis bagi saya.
Waktu
itu, kaki kanan saya masih diperban. Saya berjalan dengan bantuan kruck sambil
terpincang-pincang. Ceritanya, ibuk mengajak bapak untuk mengajak saya ke
makom. “Ayo, Pak ngalap barokahnya Sunan Ampel. Sekalian kita berdoa di sana
untuk kesembuhan Halimah. Siapa tahu, lantaran barokah, Halimah lekas
disembuhkan Pengeran,” ajak ibuk. Bapak langsung mengiyakan. Jadilah pagi itu,
kami berangkat dari rumah saudara ke Makom Sunan Ampel.
Pagi
yang puitis, karena saya merasa kembali menjadi anak kecil yang sangat dijaga
oleh orangtua. Saat itu, saya sudah berumur 22 tahun. Di atas becak, saya
dipangku bapak dan ibuk. Sepanjang jalan menuju makom, saya dipapah romantis
oleh bapak-ibuk. Bapak sengaja tidak membawa kami melewati jalan utama, tapi
gang-gang Surabaya yang sepi, jadi berasa kembali ke masa kolonial. Maklum,
bapak sudah sangat akrab dengan daerah sini, karena saudara jauhnya banyak
berumah di sini. Sepanjang jalan, kami bertiga diperhatikan oleh banyak orang.
Sepanjang jalan itu juga, bapak menyapa setiap orang dengan ramah. Saya dan
ibuk pun sama-sama melempar senyum.
Sesampainya
di komplek makom, bapak menceritakan tentang sejarah Sunan Ampel yang
diketahuinya. Tentang sejarah masjid, mbah Sentono, mbah Seribu, sampai kuliner
dan para pedagang asongan sepanjang jalan yang mayoritas adalah orang Madura.
Cerita yang sebenarnya sudah sering bapak ceritakan setiap kami mampir ke sini.
Sambil memapah saya, seringkali bapak dan ibuk saling bercanda. Saya yang
menjadi nyamuk di antara mereka berdua, merasa sangat senang. Memang, jarang
sekali keduanya bisa sementara waktu melepaskan penatnya hidup.
Perjalanan pulang-pergi ke makom Sunan Ampel
kala itu
adalah perjalanan terjauh dan terlama untuk pertama kalinya bagi saya setelah
operasi dan terlentang saja di atas ranjang. Dan sampai sekarang, saya belum
pernah menceritakan kepada bapak-ibuk hilangnya rasa nyilu dan beban berat di kaki
kanan sepulang dari makom.[]
0 komentar:
Posting Komentar