Jumat, 27 Mei 2016

TIGAPULUH: DIANTARA MBAH UMMIK DAN EMMIK


Semenjak kecil, saya tidak pernah dimanja-manja. Saya benar-benar dididik ala Madura yang membentuk anak-anak mereka menjadi mandiri, penuh tanggungjawab, gigih, ulet, optimis, pantang menyerah, dan yang terpenting kata bapak: Jangan pernah takut pada siapapun kalau kamu tidak salah.
Begitulah, sehingga saat ada orang dewasa memanjakan saya semasa saya kecil, saya merasa risih, malu, dan merasa diperlakukan seperti anak kecil yang manja dan cengeng. Padahal, saya merasa sudah besar karena bisa melakukan banyak hal dengan mandiri, bisa membantu pekerjaan rumah dan merawat kedua adik lelaki saya. Pendeknya, selain mandiri pada diri sendiri, semenjak kelas satu SD saja, saya sudah bisa merawat bayi dengan benar. Dari mengganti popok, memandikan, menyuapin, menggendong, dan lain-lain.

Namun, saya tidak merasa risih saat saya dimanjakan oleh tiga orang, yaitu mbah ummik, ibunya ibuk; mbah abah, ayahnya ibuk, dan kakak perempuan bapak yang biasa saya panggil emmik (allahu yarhamhaa). Mereka memiliki ketrampilan memanjakan yang khas. Dimanjakan mereka, saya tidak lantas merasa merosot menjadi anak kecil yang cengeng. Saya tetap merasa sebagai seorang kakak perempuan dari dua adik lelaki. Tidak sebagaimana cara orang dewasa di Malang memanjakan anaknya yang akrab saya temui. Jujur, seringkali saya risih melihat teman saya yang kelas dua SD apalagi mbak-mbak dan mas-mas yang sudah duduk di kelas 5 SD bermain sambil disuapi oleh ibunya. Tiba-tiba pandangan saya kepada teman-teman itu merosot. “Ih… sudah gede kok masih kayak bayi,” begitu saya membatin. Hahaha. Saya juga merasa malu saat melihat teman-teman perempuan yang sudah duduk di bangku SD tapi bermain hujan-hujanan hanya dengan mengenakan celana dalam.  

Ah, jadi teringat ketiga sosok di atas. Saat ibuk memarahi saya dan kebetulan ada mbah ummik, mbah ummik akan menjadi pahlawan bagi saya. Ini tidak akan terjadi jika kami sedang tidak berlibur ke Madura. Jarang sekali hehe.

Mbah abah akan mengajak saya ke sawah dan mengambilkan jambu langsung dari pohonnya untuk saya. Sering sekali, jikalau saya sedang asik bermain dengan teman-teman dan tidak bisa bermain dengan mbah abah di sawah, mbah abah tidak akan lupa membawakan saya jambu kesukaan itu ke rumah. Disimpannya benar-benar agar tidak dimakan yang lain dan akan dikeluarkannya saat saya telah tiba di rumah.

Begitu juga dengan emmik, dia selalu memberi saya uang dan berbagai jajanan sepulangnya dari pasar. Karena inilah, kalau dari atas pohon saya melihat ibu-ibu Madura telah datang dari arah pasar, cepat-cepat saya akan ndelosor atau melompat dari pohon untuk segera menghambur ke rumah emmik. Emmik sering meminta saya agar menginap. Saya sangat senang menginap di rumah emmik karena saya akan dibuatkan bubur spesial untuk sarapan, sekaligus uang jajan sebelum berangkat bermain.

Saking seringnya menginap di rumah emmik, mbah ummik akan menjemput saya. Dan saya sengaja tidak akan keluar dari dalam rumah sebelum melihat emmik dan mbah ummik berdebat kecil seperti memperebutkan saya. Hihihi. Nakal sekali ya, merasa diperebutkan itu spesial.

Sampai akhirnya bapak datang dan mengetahui kelakuan tengil saya setiap pulang ke Madura. Saya menunduk di hadapan bapak yang tengah berbicara tentang sikap bijak. Sesungguhnya, waktu itu saya kurang mengerti apa yang diomongkan oleh bapak.[]







0 komentar:

Posting Komentar