Saat remaja, hujan menjadi teman berimajinasi dan mengobrolku. Menanyainya atas perasaan indah yang mulai menggenang di permukaan hati. Mengobrol dengannya bagaimana aku mestinya memperlakukan rindu. Karena aku ingin, dua perasaan ini tetap jernih dan segar sepertinya.
Bilamana hujan datang saat aku tengah di Pesantren, aku memandanginya sendu sambil mengatakan: Aku kangen rumah. Aku kangen bapak dan ibuk. Aku kangen kamarku. Aku kangen kamar mandi yang tidak usah ngantri dan tidak bau. Lalu hujan akan mendekatiku sambil tersenyum. Lalu membelaiku lembut sampai aku tertidur di bawah lemari gantung.
Lain kesanku pada hujan saat aku telah tumbuh dewasa dan mulai bisa memaknai dua perasaan indah itu lebih luas dan tinggi maknanya. Saat itu hujan telah membawaku pada kesadaran puitik. Betapa hujan senantiasa membuatku terpekur menekuk tengkuk, demi mendengarkan musik ilahiah pada tiap jatuhnya ke bumi. Pada tiap jatuhnya ke daun. Pada tiap jatuhnya ke dahan-dahan. Pada tiap jatuhnya ke rumput-rumput. Pada tiap jatuhnya ke tanah. Pada tiap jatuhnya ke genting para salih. Pada tiap jatuhnya ke kalbu. Pada tiap jatuhnya......
Hingga ekstase. Tapi aku belum. aku belum pernah benar-benar mengalami ekstase. Aku Faqir, Allah..... Aku Haqir...... Pada Rahmat-Mu...
Ya, begitulah sedikit yang bisa aku bagikan kepadamu tentang hujan dan masa dewasaku. Karena kalimat, kata, huruf, morfem atau bagian bahasa paling kecil pun tidak akan mampu menadahi kedalaman dan keluasan makna sebuah kepuitikan. Tak akan mampu. Puitik adalah tentang rasa.
Namun, semenjak kemarin, aku melihat hujan telah berubah. Kemarin hujan datang, dan kedatangannya tidak aku suka. Tidak.
Semenjak Selasa pagi kakiku menginjak di tanah Stasiun Kota Lama Malang dan melihat bapak, semenjak itu aku menangkap bapakku sedang tidak sehat. Bapakku benar-benar terlihat sakit. Tapi tetap saja, bapak dengan paksa merebut koper dan tas punggungku yang berat. Bapakku tidak hanya telah nampak sangat tua. Bapakku sakit, Kawan! hatiku menjerit. betapa selama ini aku telah durhaka dengan berada jauh darinya. Juga tidak menuruti permintaannya yang sangat tersirat, yaitu menjadi Guru dan menikah. Bapak, bukannya Halimah berniat mendurhakaimu. Bukannya Halimah sudah tidak mau patuh padamu. Bukannya Halimah juga sudah tidak bisa menangkap hal tersirat paling samar pun darimu. Bahkan, Halimah sedang mengamalkan harapan utamamu, yaitu kebahagiann Halimah. Dan bapak, menjadi guru dan segera menikah sekarang ini bukanlah yang membuat Halimah bahagia....
Beberapa hari bapak tidak bisa tidur karena hipertensi dan asam uratnya sedang datang bertubi-tubi. Terakhir bapak tensi, tinggi darahnya 190. Mata bapak merah. Dan bapak bilang, bapak tidak begitu bisa melihat. Aku sudah meminta bapak untuk tidak meminum obat kimia lagi, karena itu akan membuat ginjal semakin lelah, dan darah akan semakin hiper. Aku sudah membeli timun dan seledri dan mengejuznya untuk bapak.
Meski dalam keadaannya yang begitu, bapak tetap memaksa berangkat kerja di pagi dan sore hari sampai malam. Aku bisa melihat hipertensi bapak dari matanya yang merah. Aku bisa melihat sakitnya sama urat yang menyerang dari geraknya. Dan kemarin sore, saat bapak sedang di perjalanan menuju kerja, hujan deras datang. Aku yang di rumah sedang mengkhawatirkan bapak, semakin tak menentu.
Hujan, kenapa kau berlaku lain padaku? bukankah selama ini kita adalah kekasih?
Dan pagi ini, Kawan, bapak menolak untuk dibuatkan juz. “Nanti saja, kasihan Rois menunggu di Pondok,” kata bapak sambil siap-siap menjenguk adikku di Pesantren Daar al-Lughoh Wa al-Da’wah, Bangil, Pasuruan.
Melihat hidup bapak, adalah melihat seorang wali.... tubuh, baju, dan hidupnya lusuh. Sementara tenaga, waktu, dan seluruh hidupnya untuk manusia-manusia yang tengah menimba ilmu Allah...
Hujan, sebelum bapak sampai di rumah, tolong jangan datang terlebih dulu....
Hujan, kau tak pernah berubah bukan?
HALIMAH GARNASIH·13 MEI 2016
0 komentar:
Posting Komentar