Kamis, 20 Februari 2014

AKU DAN SAYA DALAM PERTEMUAN

              Mula-mula, aku bertanya pada Saya. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau pikirkan? Setidaknya sudah berapa lama kau diperkenankan bebas menghirup udara di muka bumi, bertemu makhluk –makhluk lain, meminum kesegaran mata air, menikmati segala kelezatan yang disuguhkan oleh tanah-tanah pertanian, perkebunan. Apa? Apa yang ada di pikiran dan mata hatimu?



Lalu Saya mengembara di alam pikirnya. Saya berjalan kilas-balik. Melihat kenangan-kenangan masa kecilnya. Rambutnya yang dikepang dua oleh ibuk, diberi uang jajan oleh bapak, lalu keluar rumah girang dan bertemu dengan teman-temannya untuk bermain lompat tali.Saya juga melihat dirinya di dalam kenangan sedang memikirkan hal lain di  bangku sekolahnya. Saat di depan papan dengan kapur tulis guru perempuannya sedang menceritakan kegagahan sang mahapatih Gajahmada. Saya, di balik ingatannya yang lain menemukan banyak sekali tentang dirinya, seorang gadis kecil yang suka melamun meski di tengah-tengah kegaduhan kelas. Saya juga melihat bahwa kebiasaan ini sangat tersembunyi dengan rapih. Karena Saya di dalam bilik ingatan itu adaah seorang gadis kecil yang periang, lincah, suka bergaul dengan teman-temannya baik perempuan maupun laki-laki.Sebelum meninggalkan bilik ingatan ini, Saya masih menyempatkan melihat wajahnya yang manis mungil sedang melamun. Saya melihat, di balik wajah yang melamun itu ada pikiran berat untuk seusianya yang sedang menjempit akal budiny. Yang sedang menyelinap keluar-masuk pada nuraninya. Saya sekecil itu, kata Saya.Lalu, Saya meninggalkan kenangan Saya semasa kecil.  Semasa mengenakan seragam merah putih di Sekolah Dasar.Saya, dengan tertunduk lesu seolah berusaha ikhlas menjalani kehidupan yang memang harus ia jalani terus. Ingin menemukan sepotong kenangan Saya yang  lain. Potongan-potongan kenangan dalam perjalanan hidupnya. Hidup, yang entah pernah ia inginkan atau tidak.Saya, di sebuah pesantren, bertemu dengan Saya yang sudah berjilbab manis. Mengenakan kurung panjang yang anggun. Saya menemukan seorang muslimah dari kulit kehidupan.Oh! Saya melihat suatu yang dalam dari mata Saya yang berjilbab. Suatu yang sangat dalam sedang berkecamuk dalam hati dan jiwanya. Akalnya tak menjangkau sudah. Melihat semua itu, Saya lesu. Memikirkan dan merasakan beratnya tanggungan itu. Tapi apa yang bisa dilakukan Saya pada saya berjilbab itu? Tak ada!Saya lelah melihat saya berjilbab dengn beban yang berat itu. Aku pun lelah mengingat perjalanan  Saya yang mengingat perjalanannya. Baiknya, aku sudahi dulu perjalanan mengingat ini. Aku lelah memang. Titik lelah dalam kehidupan. Tapi apakah aku berhak berhenti? Tidak!tugasku adalah tetap berjalan di atasnya.Biarlah Saya istirahat dulu dari perjalanan. Entah di atas kehidupan, entah di bawahnya, atau beriringan. Bersamanya. Kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar