Kamis, 27 Februari 2014

KUMANDANG ADZAN DI PURA JAGATNATHA

Bagaimana kabarmu? Kamu perempuan santri yang pluralis meski mula-mula tak setuju interfaith marriage karena alasan syari’ah katamu. Rupanya lambat laun kamu menjadi gamang dengan itu. Kamu mempelajari agamamu lebih dalam dan menemukan perbedaan pendapat para ulama’ seperti katamu.  Kamu perempuan santri yang kritis dan mau progres, tak berhenti di situ saja.Lebih dari itu, akhirnya kamu menggeluti bahasa dan kesusatraan Arab yang di antaranya mempelajari makna kata, gramatika, dan sintaksis bahasa Arab secara mendalam.   “Untuk menggali makna dan penafsiran yang lebih membawa semangat universal Al-Qur’an,” katamu.

Tiga bulan aku pulang ke Ubud untuk belajar tari pendet. Tapi itu hanya alasan agar aku bisa bertemu teman-teman dan seorang guru di sana. Ya, rindu yang tak tertampung lagi tepatnya. Sekembali ke Jogja, kamu perempuan santri yang kini menjelma aktivis langsung ke kamar. Menjubeli otakku dengan pengalaman-pengalamanmu selama mengikuti sebuah program lintas agama untuk pemuda. IYP atau Interfaaith Youth Pilgrimage kalau tidak salah. Kamu menceritakan semua pengalaman barumu. Pengalaman yang membelalakkan matamu karena bertolak belakang dengan pandanganmu kepada agama di luar agamamu selama ini. Kamu juga menceritakan pengalaman religius saat masuk ke rumah-rumah suci agama lain pun saat mengikuti upara sembahyangnya.

Tiba-tiba kamu berhenti sejenak dan kulihat pipimu merona. Tapi aku memilih diam saja dan terpekur tak percaya saat kamu bercerita bahwa ada seorang pemuda kristiani yang menangkap hatimu dengan gagah. Ya, senja itu, kala hatimu akan jatuh karena ekstase pada Tuhan saat mendengar adzan dari Masjid silih berganti, bercampur baur dengan doa-doa Sansekerta di sebuah Pura. Pura Jagatnatha. Katamu, sangat ingat sekali tempat itu juga pemuda itu.
Seperti umumnya seseorang yang sedang dirundung cinta, kamu tak henti-hentinya menceritakan pemuda kristiani itu. Kamu menceritakan sikap-sikapnya yang saleh seakan seorang santri. Tutur katanya yang santun seperti abahmu  juga kelembutan dan kasih sayang pada semua teman-temanmu selama 10 hari mengikuti acara itu. Kamu masih menyebut-nyebutnya meski matamu sudah terpejam dan tergolek di ranjang kostku. Muslimah, temanku yang lincah dan selalu ceria.
Aku tak percaya saat malam itu, malam minggu tepatnya kamu kebingungan mondar-mandir di depan kamarmu dan kamarku dengan dua lembar jilbab di tangan. Aku masih ingat keningmu berkeringat tapi wajahmu antara senang dan gelisah. Aku tak kuat untuk menahan diri agar tak bertanya. “Dia ke sini. Ke Jogja. Jam delapan nanti kami akan bertemu,” katamu kacau.
Dengan sigap aku membantumu memilihkan kerudung dan baju untuk kamu pakai malam ini. Aku baru tahu, bahwa memang benar cinta terkadang membuat orang berubah. Kamu yang cuek dengan penampilan, rupanya  malam itu ditabrak kegalauan. Hahaha, Muslimah….
Setahun sudah kamu menjalin hubungan dengan pemuda kristiani itu. Dalam kencan-kencanmu kamu sering menceritakan dialog agama di antara kalian. Mula-mula kamu ragu bisa menjalani dan menghabiskan hidup dengannya. Tapi akhirnya kamu bilang, bahwa agama rupanya hanyalah simbol belaka. Ada hal yang lebih dalam di luar batas agama yang kau sebut pengalaman-pengalaman spritualitas yang sangat bersenyawa di antara kalian.
Sampai malam itu datang. Kamu menumpahkan air mata di ranjang dan pundakku. Lewat santri-santri abahmu di Jogja ini, akhirnya Abah mengetahui hubunganmu dengan pemuda kristiani itu. Abah marah besar. Minggu depan, abah akan menikahkanmu dengan putra Kiai.Rudi Karanganyar. Secepat itu. semendadak itu. 
     Telah larut, dan air matamu telah kering. Kau bangkit dan menatap lurus menembus jendela nako sampai luruh pada kelopak-kelopak bunga bugenvil yang berwarna-warni itu. “Puji, aku, pikiranku, hatiku,  telah melibas semua sekat-sekat pernikahan antara aku dan bang Jhons Geraldi Miekson. Seorang muslimah dan kristiani. Aku telah percaya penuh bahwa Tuhan tak melarangnya, bahwa Tuhanku tak mengharamkannya. Bukankah semua pemuda di dunia ini ada karena kehendaknya? Puji, penafsiran itu yang mengharamkan semuanya,” aku tak berani berkata
“Tapi Puji, betapa bodohnya aku telah berani menjalin hubungan dan bermimpi menjadi istrinya. Menjadi pendamping hidupnya. Betapa bodohnya aku yang tak memikirkan siapa abahku, siapa saja dan berapa banyak ummat di belakangnya? Mereka tidak akan mengerti dan mungkin tak mau mengerti semisal aku benar-benar besuamikan seorang kristiani!” Muslimah tergugu dan aku yang juga mulai menangis, memeluknya. Malam itu, kami sama-sama menangis. Entah menangis untuk Muslimah, abahnya, pemuda kristiani itu, atau pada agama-agama di muka bumi ini? Entahlah.
Setahun lebih kita tak berjumpa Muslimah. bagaimana kabarmu sekarang? Kamarmu telah lama ditempati oleh seorang perempuan pemeluk aliran kerohanian Sapta Dharma. Tika namanya. Sesekali saja aku mengobrol dengannya.
“Assalaamu’alaikum,” suara yang sangat kukenal…
Aku masih tak percaya pada keberadaan perempuan yang berdiri di depan pintu kamar. Mengenakan baju gamis hijau muda selaras dengan warna jilbabnya. Tapi ada yang hilang di sana. Wajah yang ceria dan senyum yang indah. Hanya secuil saja senyum sederhana. Dan itu, digendongannya itu? seorang bayi yang pasti anaknya.
“Muslimah…” aku berlari memeluknya. Lekas kuberondong berbagai pertanyaan pada sahabat lama ini.
“Gak sopan. Biarkan aku duduk dulu”
Aku terbahak dan mengiringinya duduk di ranjang. Tempat dulu kami saling bercurhat.
“Kamu sendiri ke sini?”
“Diantar Mas Sodiq, kakak ketigaku. Kebetulan dia akan wisuda minggu ini dan aku merengek untuk ikut”
“Ow… eh, ini anakmu?”
Muslimah mengangguk dengan senyum sederhana
“Muhammad siapa namanya?”
“Hahaha” Muslimah terbahak seperti tawanya yang dulu
“Bukan. Namanya Jhons Geraldi Miekson”
Aku terkejut. “Apa tak masalah buat suami dan abahmu?”
Muslimah terdiam, matanya menatapku sendu.
“Abah telah memberi kebebasan penuh padaku. Abah bilang, tak ingin mengulangi kesalahannya lagi”
“Loh, apa yang terjadi?”
Muslimah tersenyum. Bayi dalam gendongannya merengek kecil.
“Tiga bulan kami menikah, kami bercerai. Abah yang memintaku kembali dari keluarga suami. Aku mnyembunyikan kekerasan seksual tapi kekerasan fisik tidak bisa kusembunyikan dari abah. Abah yana sangat sayang padaku rupanya bisa membaca penderitaan batin yang kualami”
Air matanya menetes pada pipinya yang langsat. Kurengkuh tangannya berusaha menenangkan.
Kudengar bunyi klakson dari depan
“Puji, aku tak bisa lama-lama”
Kuintip dari Jendela tampak seorang lelaki dan seorang perempuan di depan sebuah mobil Avanza.
“Itu pasti mas Sodiqmu”
“Iya”
“Nah, perempuan tak berjilbab itu?”
“Pacarnya. Seorang Budhist dari Kediri sedang studi di sebuah Sekolah Tinggi Hindu Dharma di Klaten. Namanya Agustina”
“Apa masmu mau menikahinya?”
“Hahaha. Tentu saja tidak. Dia berpikiran bahwa suka bahkan jatuh cinta pada non-muslim itu sah-sah saja tapi jangan sampai menikah”
Aku terbengong menatap Muslimah
Dia tersenyum dan memegang pundakku, “Itulah, mengapa terkadang aku berfikir mantanku yang kristiani itu adalah pemuda yang lebih baik daripada masku yang muslim”[]
           

                                                                                   Gendeng, 08 Desember 2013

0 komentar:

Posting Komentar