“Dulu saya larut di dalamnya. Yah, saya terhanyut dalam arus imaginya. Saya hilang, menguap, terbuai tiap energi kata-katanya”.
Semuanya
memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulutnya. Seorang mahasiswa berambut
gimbal yang duduk di pojok kelas memperhatikan andeng-andeng besar yang
menghiasi hidung sebelah kirinya.
“Sampai suatu
malam, saya temukan selembar novel yang tengah saya baca basah, tertetesi air
mata. Aduhai, saya menangis. Batin saya terseret kisah perempuan tanpa lelaki
di novel ini” laki-laki yang membelakangi
white board dan menghadap pada kami semua --yang duduk di kursi-- menyisipi mata kuliah kali ini dengan kisah pribadinya.
Tapi
semuanya seolah tersihir. Seluruh yang ada di kelas ini berhasil disapu oleh
cerita laki-laki berbaju batik itu. Sosok dosen yang disegani di fakultas ini. Selain
itu, dia memang cerdas , salah-satu dosen yang merupakan sisa-sisa sosok
idealis. Aku pun mengaguminya.
Bookmarker
itu mendarat di atas meja dosen, terlepas dari tangannya. “Tapi, setelah
belajar ilmu adabi, saya sadar semuanya itu hanya fiksi. Dan semenjak itu, saya
takkan pernah terhanyut oleh nuansa-nuansa batin yang dibuat-buat oleh pengarangnya”
Lalu duduk dan memandang kami semua “Itu
artinya, air mataku pun tak pernah lagi berhasil membasahi lembaran-lembaran
imagi itu”
Aku
terperanjat! Tak kusangka sosok di depan sana memiliki pemikiran seperti itu.
Dengan ekor
mataku, kulirik Grobog, teman laki-lakiku yang duduk di kursi belakang samping
kiriku. Nampak ia mengusap-ngusap dagunya dan membalas lirikanku. Dari
pandangannya, sepertinya dia paham apa yang sedang aku pikirkan.
Kelas bubar.
Sedang Kamboja di taman fakultas, berguguran. Seekor semut merambat pada
kelopak salah-satu kamboja putih
“Bodoh”
Gayatri
berkomentar. Sehelai daun kamboja terbang, berpindah tempat akibat angin yang
timbul dari gebrakan tangan Gayatri di atas bangku.
“Sungguh,
dunia sastra akan musnah jika memelihara dosen seperti dia!”
Aku,
Grobog, dan Tuwil, juga Maria memperhatikannya. Kami berlima adalah gerombolan
mahasiswa yang suka nongkrong di bangku bundar di bawah pohon kamboja ini.
Sengaja kami pilih karena nuansanya yang dalam, indah, mempesona, anggun,
sekaligus magis. Namun, banyak teman-teman yang menyebut kami geng Kunthi. Mungkin,
karena bagi mereka pohon kamboja adalah pohon dan bunga milik Kunthil anak dan
kawan-kawannya. Kami tak peduli dengan sebutan itu. Bahkan, Tuwil, teman lelaki
berambut panjang yang sangat cinta dengan puisi-puisi Chairil Anwar ini sangat
senang. Karena, menurutnya, sebutan itu membuat geng kami tenar di kampus.
Lebih-lebih di ruang dengar komunitas-komunitas sastra.
“Kenapa kau
berpikir seperti itu, Ga?”
Aku,
Grobog, dan Tuwil langsung melirik ke arah Maria. Gayatri yang tomboy menatap Maria. Maria
memakai baju putih dan sepan krem. Kalungnya melingkar di lehernya yang putih
indah. Bandol salibnya berkerlap-kerlip ditingkahi cahaya matahari.
“Lalu,
bagaimana yang Kau pikirkan, Maria?”
Maria,
dengan gayanya yang lembut dan Nampak berwawasan menjawab, “Itu wajar. Pak
fasad seorang akademisi, kritikus sastra, bukan sastrawan” penjelasannya santai
tanpa memandang Gayatri karena kedua mata beningnya terpusat pada pusaran
kedalaman bunga Kamboja yang mahkotanya satu demi satu dipetikinya hingga
mahkota-mahkota putih itu jatuh terburai
di meja bundar.
“Itu wajar”
sekali lagi kalimat itu keluar dari mulutnya yang mungil merah jambon.
Ak membuka
lagi satu lembar bukuku di atas meja. Novel Nawal El-Sa’dawi. Kubaca lagi
kalimat demi kalimat meski telinga dan otakku berpusat pada obrolan Gayatri dan
Maria.
“Tapi aku
cenderung sepakat dengan Gayatri” Tuwil yang dari tadi sedang menorehkan
sajak-sajaknya seperti biasa, tiba-tiba merayapkan suara.
Maria dan Gayatri
menoleh, aku mengangkat wajah dari buku, sedang Grobog, dengan santai masih
mengusap-ngusap dagunya yang sebernaya tak ditumbuhi jenggot.
“Membaca
novel tidak semestinya apatis” Tuwil
melanjutkan ” bayangkan jika kita membaca novel dengan menutup hati, apa
gunanya membaca novel. Membaca karya sastra, apa pun itu, musti membuka hati
selebar-lebarnya. Adagium Pak Fasad tadi, adalah adagium orang-orang yang
menutup hati”
Gayatri
mengangguk-ngangguk, senang, merasa dibela. Maria diam saja mendengarkan.
Grobog, masih santai mengusap-ngusap dagunya seperti tak acuh. Tapi kami tahu,
dia sedang menikmati musik alami. Katanya suatu kali, alam ini dipenuhi musik.
Angin mengirimkan musik, tanah, air, pasir, semuanya. Pernah juga, kami
disuruhnya menahan nafas agar mendengar suara indah dari daun Kamboja yang
gugur dari tangkainya. “Dengarlah, saat daun ini pelan jatuh ke tanah, ia
sedang menggesek alam” katanya suatu senja.
Kami manggut-manggut. “Indah bukan?”
Kami
manggut-manggut
“Berarti kalian
juga bisa mendengarnya?” katanya girang sampai berjingkat dari bangku
Kami pun
serentak menggeleng. Sontak tubuhnya lesu, kembali duduk di bangku, di samping
daun yang layu.
Bunga
kamboja yang putih jatuh melayang-layang tepat di depan wajah Tuwil. Ia
memungutnya. Menyelipkan di telinga kirinya sebelum melanjutkan pendapatnya.
“Saat pintu
hati dibuka lebar-lebar, dan semua jiwa karya sastra itu telah masuk dalam
hatinya, mengetuk jiwanya, masuk ke batinnya, dan menembus sukmanya, maka
setelah itu, proses kritik sastra bisa dijalankan.
Aku
terpesona pada kalimat dan cara bicaranya. Antara bicara dan berpuisi, sudah
sulit di bedakan. Bicarananya adalah berpuisi, dan puisinya berbicara. Tak
mati.
Maria
menyelipkan lagi rambutnya yang keluar
dari jepitan telinganya dan mulai melepas apa yang ada dalam pikirannya,”
Seorang kritikus tidak akan lagi objektiv jika dirinya saja terburai dan terpesona karena pada saat itu dia tidak
sedang menjadi dirinya sendiri. Dia telah terhanyut, berarti dia telah menjadi
orang lain. Dan orang lain itu adalah tokoh dalam karya itu. Berarti, pada saat
itu, dia sedang dalam keadaan fiktif! Dia tidak mengenal dirinya sendiri dengan
seutuhnya maka pada saat itu juga bisa jadi dia sedang tidak menjadi seorang akademis, seorang
kritikus!”
Gayatri
bengong, aku melongo, dan Tuwil,sepertinya terbangun dari dunia musik alamnya, dia pun menoleh.
Bergabung kembali pada dunia kami.
Keadaan pun
kaku. Senyap sebentar. Tak ada satu pun kata yang terlontar dari mulut
siapa-siapa. Aku pun bingung. Yang jelas, aku merasa tidak sepenuhnya setuju
dengan argument Maria tapi aku tidak tahu apa alasannya. Aku tidak tahu,
haruskah membuka pintu hati lebar-lebar, menutupnya rapat-rapat atau setengah
membuka dan setengah menutup?
Bunga
kamboja jatuh di tengah-tengah kami. Lalu, musik alam pun bermain. Tiba-tiba kami semua mendengar. Suaranya
memenuhi telinga kami sampai mmenyusup-nyusup dalam jiwa dan
mata kami semua tib a-tiba buta. Gelap.
Tiba-tiba
saja dalam gelap itu mucul sosok lelaki berambut panjang dengan kamboja di
telinga kiri menari-nari. Terus menari-nari seiring tabuhan gendang dalam
kegelapan.
Dimuat di http://amanahru.blogspot.com/2013/06/kamboja.html
Malang 07 Februari 2013
Dimuat di http://amanahru.blogspot.com/2013/06/kamboja.html


0 komentar:
Posting Komentar