Dia
termenung. Matanya menatap kopi di dalam cangkir putih yang diaduknya dengan gamang. Seduhan kopi
yang telah lama dingin itu berputar-putar bagaikan monster sungai yang siap
melahap apa saja yang berani melewati arusnya yang kuat.
Kornea
matanya berpusat pada poros tengah adukan kopi. Pandangan yang semakin fokus.
Semakin fokus. Dan pada satu titik di dalam cangkir kopi itu, ia temukan
kembali gambaran gadis kecil dalam memorinya.Gadis kecil
itu menggugu di atas pangkuan emboknya. Air matanya berjatuhan dan
membasahi samper emboknya. Sambil menahan senyum, embok membelai
rambutnya yang terkepang. “Iya, nanti emak pasti bawakan Mar’ah
manggis”.
Gadis kecil yang beberapa menit lalu melempar kerudung talinya menggeleng-geleng sambil masih terus sesenggukan, “enggak, Mbok. Mar’ah tidak ingin manggis dari emak. Mar’ah ingin manggis hasil rebutan Mar’ah sendiri. Kalau emak yang ngasih, nanti Mar’ah diejekin Sya’roni. Enjek! Pokoknya enjek!. Gadis kecil itu memecah tangis di atas samper emboknya.
“Lah, bagaimana? Kaonjengan itu kan hanya untuk laki-laki. Sya’roni bisa ikut emaknya karena Sya’roni kan anak laki-laki. Nah, Mar’ah kan anak perempuan, calon paraben, jadi bisa bantu embok di dapur. Ya? Kita yang perempuan ini, pergi ke dapur untuk menyiapkan olahan kaonjengan”. Mar’ah, gadis kecil itu menggeleng semakin kuat, mengangkat mukanya dari pangkuan embok, menangis semakin kencang, dan lari menjauh. Lari sekencang-kencangnya.
“Hey! Kalau ngelamun semakin manis ya?”. Jali, teman organisasi yang diam-diam menyayanginya datang. Wajahnya tengadah. Tanpa merespon guyonan Jali, perempuan berjilbab hitam itu melempar pertanyaan, “Bagaimana, Li, sudah siap semua?”
Lelaki jangkung berambut gondrong sebahu—yang merasa rayuannya tak direspon—mengangguk samar. Lalu duduk di depan meja, berhadapan dengan Mar’ah, tim sukses sebuah partai kampus yang menjadi patnernya.
“Ada kabar bahwa partai merah mengajak berafiliasi dengan partai kita”
“lalu?” perempuan itu memicingkan mata. Jali menikmati aura wajah perempuan di depannya yang tersorot lampu remang. Di matanya, dia bagai patung Roro Jonggrang saat diterpa sinar fajar. Bulunya yang hitam lentik seakan mengejawantahkan ketajaman intelegensi tuannya. Jali, tanpa sadar, menelan ludah. Ada keinginan kuat dalam dirinya. Namun, kekuatan apa yang bersemayam dalam diri perempuan ini, hingga dia hanya berani mengiringi hari-harinya di dunia aktivis tanpa berani sekali pun terbersit keberanian untuk jujur tentang perasaannya.
“Jali?” suara itu terdengar tegas di ruang dengar Jali tapi juga sekaligus mengirim sihir yang berlumur pesona. Jali tergagap tapi cepat menguasai keadaan agar tak terbaca. “Mereka menyuruhnya untuk langsung menemuimu. Ada kabar utusan dari partai merah tak mau. Mungkin sungkan”
Jali yang telah lama mengenalnya tahu, perempuan di depannya ini tak bakalan bermekar hati. Malah pandangannya lurus menatap mata Jali. Pandangan yang tegas. Jali berdebar. Ia keluarkan sebatang rokok dan menyulutnya, berusaha menyembunyikan ketidakwajarannya.“Siapa?”. Jali menyebut sebuah nama. Lantas mereka berdua terbahak. Lalu sibuk degan pikirannya masing-masing.
“Jali..”
Hati Jali terperanjat mendengar panggilan perempuan yang dikaguminya. Panggilan yang tidak seperti biasa. Panggilan yang terdengar keluar dari kedalam jiwa.
“Kenapa?” Jali mencoba bersikap datar. Tanpa menatap perempuan itu, ia hembuskan asap rokoknya dengan lembut.“Aku tidak pernah terganggu oleh seorang lelaki seperti saat ini”
Jali terperenjat, ia terbatuk. Dadanya berdesir, ada rasa penasaran sekaligus cemburu yang tiba-tiba hadir.
“Bukankah sudah biasa bagi kita mendapat gangguan dari berbagai pihak. Dan kupikir, Kaulah orang yang paling kenyang dengan hal semacam itu” Jali berlagak tak paham tentang hal sebenarnya --yang bersembunyi di balik kalimat perempuan pujaannya--.
“Aku serius, Jali. Ini pertama kali dan kuharap juga yang terakhir” terdiam sebentar. Menatap atap-atap warung kopi. “Laki-laki dan perasaan ini tiba-tiba hadir begitu saja. Lembut, indah, dan begitu kuat,” tatapannya lurus memandangi meja-meja lesehan di belakang Jali. Meja-meja itu berjejer, di tengah-tengahnya lampion berpendar-pendar. Cahanya memantul di meja kayu jati. “Maaf, Jali, jika tiba-tiba aku seperti ini. Tapi Kau sudah kuanggap lebih dari teman seorganisasi” ia melanjutkan. Perempuan itu tak tahu ada hati yang senang sekaligus cemas. Cemas sekali.
“Ya. Ceritakan saja apa yang ingin Kau ceritakan, Mar’ah. Bukankah kita adalah teman?” Jali tegas, lembut, tapi hatinya mulai kecut. Ada rasa takut kehilangan yang tiba-tiba menyelinap.“Hahaha” Mar’ah terbahak. Menertawakan dirinya sendiri. Jali tersenyum. Senyum yang entah apa artinya.
“Laki-laki kurangajar itu adalah calon di partai biru, Li” Jali tersedak kopi yang sedang di minumnya. Karena Jali tahu, partai biru adalah partai yang menjadi musuh utama partainya. Dan Jali juga tahu bahwa ini adalah keadaan sulit bagi teman perempuannya, Mar’ah. Jali tak berani berkomentar.
Mar’ah kembali terbahak. Bahak yang kering. “Saat dia sudah berhasil menghancurkan menara gading keakuanku, kini, keadaan mengharuskanku untuk membangunnya lagi”Jali masih membisu. Dia berpikir, jangan-jangan Mar’ah telah masuk jaring yang memang sengaja disiapkan oleh musuh.
Seperti bisa menebak pikiran jali, Mar’ah seakan menjawab, “Tidak, Li. Aku mengenalnya dan merasakan semua ini jauh sebelum bendera siap dikibarkan. Waktu itu, aku tak tahu latar belakang sepak terjangnya di dunia partai ini. Begitu juga sebaliknya. Dia hanya tahu Mar’ah yang pemalu. Bukan Mar’ah yang pandai berorasi, tapi Mar’ah yang hanya bisa mengulum senyum karena malu. Dia tak mengenal Mar’ah yang berjeans tapi Mar’ah perempuan bersarung. Dia juga tak mengenal Mar’ah yang bersahabat dengan kehidupan malam dalam cangkir kopi, yang dia tahu adalah Mar’ah yang istiqomah mengaji di balai-balai langgar. Mengeja surat-surat Tuhan,”
Mar’ah menahan nafas. Merasakan dinginnya udara malam. “Jali… aku hanya padanya… tak ada yang lain…”
Ada kejujuran jiwa di sana. Jali semakin bisu. Dia seakan mati rasa. Bangunan harapan yang sejak dulu dibangunnya sedikit demi sedikit, kini hancur terhantam badai. Pun, sebelumnya, tak pernah dia melihat Mar’ah seperti ini. Di matanya, Mar’ah adalah batu karang di tengah luasnya lautan. Di matanya, dan di mata semua teman-teman organisasi, Mar’ah adalah matahari yang memberi kehangatan, yang selalu diharap hadirnya setiap hari. Adalah Oksigen untuk pernafasan organisasi. Tanpa Mar’ah, mereka seakan terlempar ke ruang hampa. Namun, separah apapun keadannya, di matanya, Mar’ah bukanlah perempuan melankolis. Jali tahu kalimat apa yang tepat untuk memecah keadaan yang sudah mulai tak enak ini.
“Lalu, apa yang akan Kau lakukan?. Aku selalu di pihakmu”“Tentu saja, kepentingan jama’ah, Li. Karena diriku sudah kudedikasikan di sini”Jali pun tahu itu. Tahu, jawaban apa yang bakal diputuskan oleh Mar’ah. Perempuan itu.Jali mengangguk pelan. Mar’ah tersenyum matang dengan menelan pahit.
Setelah membayar di kasir, mereka berdua keluar dari warung kopi itu. Di atasnya dua kunang-kunang bersinar terang. Berkejaran. Pengunjung warung kopi itu tak ada yang tahu, ada seekor kunang-kunang di atas genting. Dia tak terbang. Juga tak bercahaya. Hanya berdiam, menikmati takdir.Di seberang warung kopi, sepasang mata, tajam menatap keduanya. Mereka tahu tapi pura-pura tak tahu. Atau tahu dan menampakkan ketahuan, namun, lantas harus bersikap bagaimana selain tetap berjalan seperti biasa.
Sebelum naik di jok belakang, Jali menangkap aura wajah Mar’ah yang tiba-tiba memerah. Seperti menahan marah, menahan sedih, atau menahan tangis?.
“Kenapa?” Jali yang sudah menghidupkan mesin bertanya
“Laki-laki itu” Mar’ah datar
“Apa menurutmu, kita perlu mendatanginya?”
“Bukan. Bukan yang itu. Tapi yang di sebelahnya” Kata Mar’ah tanpa menoleh
Jali menangkap sosok lelaki di samping kanan lelaki bermata tajam tadi. Sedikit lebih pendek darinya, berkulit sawo matang, lebih rapi, berkemeja merah tua. Bagian tanganny ditekuk ke atas. Pandangannya teduh.“
Siapa dia?” Jali merasa tak kenal
“Calon dari partai biru”
Jali panas. Benar-benar panas. Mar’ah naik. Jali mengegas kencang melintasi dua laki-laki di seberang. Mar’ah tersentak. Tapi Jali lebih terkejut atas sikap di luar kendalinya. Sambil menyetir, dia berpikir alasan apa yang akan dikatakannya pada Mar’ah tentang sikapnya ini. Sikap kekanak-kanakan atau sikap yang wajar?[]
Gadis kecil yang beberapa menit lalu melempar kerudung talinya menggeleng-geleng sambil masih terus sesenggukan, “enggak, Mbok. Mar’ah tidak ingin manggis dari emak. Mar’ah ingin manggis hasil rebutan Mar’ah sendiri. Kalau emak yang ngasih, nanti Mar’ah diejekin Sya’roni. Enjek! Pokoknya enjek!. Gadis kecil itu memecah tangis di atas samper emboknya.
“Lah, bagaimana? Kaonjengan itu kan hanya untuk laki-laki. Sya’roni bisa ikut emaknya karena Sya’roni kan anak laki-laki. Nah, Mar’ah kan anak perempuan, calon paraben, jadi bisa bantu embok di dapur. Ya? Kita yang perempuan ini, pergi ke dapur untuk menyiapkan olahan kaonjengan”. Mar’ah, gadis kecil itu menggeleng semakin kuat, mengangkat mukanya dari pangkuan embok, menangis semakin kencang, dan lari menjauh. Lari sekencang-kencangnya.
“Hey! Kalau ngelamun semakin manis ya?”. Jali, teman organisasi yang diam-diam menyayanginya datang. Wajahnya tengadah. Tanpa merespon guyonan Jali, perempuan berjilbab hitam itu melempar pertanyaan, “Bagaimana, Li, sudah siap semua?”
Lelaki jangkung berambut gondrong sebahu—yang merasa rayuannya tak direspon—mengangguk samar. Lalu duduk di depan meja, berhadapan dengan Mar’ah, tim sukses sebuah partai kampus yang menjadi patnernya.
“Ada kabar bahwa partai merah mengajak berafiliasi dengan partai kita”
“lalu?” perempuan itu memicingkan mata. Jali menikmati aura wajah perempuan di depannya yang tersorot lampu remang. Di matanya, dia bagai patung Roro Jonggrang saat diterpa sinar fajar. Bulunya yang hitam lentik seakan mengejawantahkan ketajaman intelegensi tuannya. Jali, tanpa sadar, menelan ludah. Ada keinginan kuat dalam dirinya. Namun, kekuatan apa yang bersemayam dalam diri perempuan ini, hingga dia hanya berani mengiringi hari-harinya di dunia aktivis tanpa berani sekali pun terbersit keberanian untuk jujur tentang perasaannya.
“Jali?” suara itu terdengar tegas di ruang dengar Jali tapi juga sekaligus mengirim sihir yang berlumur pesona. Jali tergagap tapi cepat menguasai keadaan agar tak terbaca. “Mereka menyuruhnya untuk langsung menemuimu. Ada kabar utusan dari partai merah tak mau. Mungkin sungkan”
Jali yang telah lama mengenalnya tahu, perempuan di depannya ini tak bakalan bermekar hati. Malah pandangannya lurus menatap mata Jali. Pandangan yang tegas. Jali berdebar. Ia keluarkan sebatang rokok dan menyulutnya, berusaha menyembunyikan ketidakwajarannya.“Siapa?”. Jali menyebut sebuah nama. Lantas mereka berdua terbahak. Lalu sibuk degan pikirannya masing-masing.
“Jali..”
Hati Jali terperanjat mendengar panggilan perempuan yang dikaguminya. Panggilan yang tidak seperti biasa. Panggilan yang terdengar keluar dari kedalam jiwa.
“Kenapa?” Jali mencoba bersikap datar. Tanpa menatap perempuan itu, ia hembuskan asap rokoknya dengan lembut.“Aku tidak pernah terganggu oleh seorang lelaki seperti saat ini”
Jali terperenjat, ia terbatuk. Dadanya berdesir, ada rasa penasaran sekaligus cemburu yang tiba-tiba hadir.
“Bukankah sudah biasa bagi kita mendapat gangguan dari berbagai pihak. Dan kupikir, Kaulah orang yang paling kenyang dengan hal semacam itu” Jali berlagak tak paham tentang hal sebenarnya --yang bersembunyi di balik kalimat perempuan pujaannya--.
“Aku serius, Jali. Ini pertama kali dan kuharap juga yang terakhir” terdiam sebentar. Menatap atap-atap warung kopi. “Laki-laki dan perasaan ini tiba-tiba hadir begitu saja. Lembut, indah, dan begitu kuat,” tatapannya lurus memandangi meja-meja lesehan di belakang Jali. Meja-meja itu berjejer, di tengah-tengahnya lampion berpendar-pendar. Cahanya memantul di meja kayu jati. “Maaf, Jali, jika tiba-tiba aku seperti ini. Tapi Kau sudah kuanggap lebih dari teman seorganisasi” ia melanjutkan. Perempuan itu tak tahu ada hati yang senang sekaligus cemas. Cemas sekali.
“Ya. Ceritakan saja apa yang ingin Kau ceritakan, Mar’ah. Bukankah kita adalah teman?” Jali tegas, lembut, tapi hatinya mulai kecut. Ada rasa takut kehilangan yang tiba-tiba menyelinap.“Hahaha” Mar’ah terbahak. Menertawakan dirinya sendiri. Jali tersenyum. Senyum yang entah apa artinya.
“Laki-laki kurangajar itu adalah calon di partai biru, Li” Jali tersedak kopi yang sedang di minumnya. Karena Jali tahu, partai biru adalah partai yang menjadi musuh utama partainya. Dan Jali juga tahu bahwa ini adalah keadaan sulit bagi teman perempuannya, Mar’ah. Jali tak berani berkomentar.
Mar’ah kembali terbahak. Bahak yang kering. “Saat dia sudah berhasil menghancurkan menara gading keakuanku, kini, keadaan mengharuskanku untuk membangunnya lagi”Jali masih membisu. Dia berpikir, jangan-jangan Mar’ah telah masuk jaring yang memang sengaja disiapkan oleh musuh.
Seperti bisa menebak pikiran jali, Mar’ah seakan menjawab, “Tidak, Li. Aku mengenalnya dan merasakan semua ini jauh sebelum bendera siap dikibarkan. Waktu itu, aku tak tahu latar belakang sepak terjangnya di dunia partai ini. Begitu juga sebaliknya. Dia hanya tahu Mar’ah yang pemalu. Bukan Mar’ah yang pandai berorasi, tapi Mar’ah yang hanya bisa mengulum senyum karena malu. Dia tak mengenal Mar’ah yang berjeans tapi Mar’ah perempuan bersarung. Dia juga tak mengenal Mar’ah yang bersahabat dengan kehidupan malam dalam cangkir kopi, yang dia tahu adalah Mar’ah yang istiqomah mengaji di balai-balai langgar. Mengeja surat-surat Tuhan,”
Mar’ah menahan nafas. Merasakan dinginnya udara malam. “Jali… aku hanya padanya… tak ada yang lain…”
Ada kejujuran jiwa di sana. Jali semakin bisu. Dia seakan mati rasa. Bangunan harapan yang sejak dulu dibangunnya sedikit demi sedikit, kini hancur terhantam badai. Pun, sebelumnya, tak pernah dia melihat Mar’ah seperti ini. Di matanya, Mar’ah adalah batu karang di tengah luasnya lautan. Di matanya, dan di mata semua teman-teman organisasi, Mar’ah adalah matahari yang memberi kehangatan, yang selalu diharap hadirnya setiap hari. Adalah Oksigen untuk pernafasan organisasi. Tanpa Mar’ah, mereka seakan terlempar ke ruang hampa. Namun, separah apapun keadannya, di matanya, Mar’ah bukanlah perempuan melankolis. Jali tahu kalimat apa yang tepat untuk memecah keadaan yang sudah mulai tak enak ini.
“Lalu, apa yang akan Kau lakukan?. Aku selalu di pihakmu”“Tentu saja, kepentingan jama’ah, Li. Karena diriku sudah kudedikasikan di sini”Jali pun tahu itu. Tahu, jawaban apa yang bakal diputuskan oleh Mar’ah. Perempuan itu.Jali mengangguk pelan. Mar’ah tersenyum matang dengan menelan pahit.
Setelah membayar di kasir, mereka berdua keluar dari warung kopi itu. Di atasnya dua kunang-kunang bersinar terang. Berkejaran. Pengunjung warung kopi itu tak ada yang tahu, ada seekor kunang-kunang di atas genting. Dia tak terbang. Juga tak bercahaya. Hanya berdiam, menikmati takdir.Di seberang warung kopi, sepasang mata, tajam menatap keduanya. Mereka tahu tapi pura-pura tak tahu. Atau tahu dan menampakkan ketahuan, namun, lantas harus bersikap bagaimana selain tetap berjalan seperti biasa.
Sebelum naik di jok belakang, Jali menangkap aura wajah Mar’ah yang tiba-tiba memerah. Seperti menahan marah, menahan sedih, atau menahan tangis?.
“Kenapa?” Jali yang sudah menghidupkan mesin bertanya
“Laki-laki itu” Mar’ah datar
“Apa menurutmu, kita perlu mendatanginya?”
“Bukan. Bukan yang itu. Tapi yang di sebelahnya” Kata Mar’ah tanpa menoleh
Jali menangkap sosok lelaki di samping kanan lelaki bermata tajam tadi. Sedikit lebih pendek darinya, berkulit sawo matang, lebih rapi, berkemeja merah tua. Bagian tanganny ditekuk ke atas. Pandangannya teduh.“
Siapa dia?” Jali merasa tak kenal
“Calon dari partai biru”
Jali panas. Benar-benar panas. Mar’ah naik. Jali mengegas kencang melintasi dua laki-laki di seberang. Mar’ah tersentak. Tapi Jali lebih terkejut atas sikap di luar kendalinya. Sambil menyetir, dia berpikir alasan apa yang akan dikatakannya pada Mar’ah tentang sikapnya ini. Sikap kekanak-kanakan atau sikap yang wajar?[]

.jpg)
.jpg)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar